KABAR KAMPUS: Peneliti UGM Kembangkan Alat Deteksi Gempa, Bisa Prediksi 3 Hari Sebelum Kejadian

Asisten penelitian alat deteksi gempa bumi, Rony Wijaya menunjukkan alat peringatan gempa bumi yang dikembangkannya bersama Ketua Tim Riset Laboratorium Sistem Sensor dan Telekontrol Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM, Prof. Sunarno di Fakultas Teknik UGM, beberapa waktu lalu. -Harian Jogja - Lajeng Padmaratri.
16 Oktober 2020 18:27 WIB Lajeng Padmaratri Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan sistem pendeteksi gempa yang disebut mampu memprediksi satu sampai tiga hari sebelum terjadinya gempa sehingga bisa menjadi sistem peringatan dini gempa bumi.

Beberapa waktu terakhir, masyarakat dihebohkan dengan adanya prediksi tsunami setinggi 20 meter yang akan menerjang Pulau Jawa. Menyusul hasil kajian tersebut, peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) turut serta mempublikasikan alat pendeteksi gempa yang mereka rancang kepada publik.

Alat pendeteksi gempa yang dirancang UGM bahkan diklaim mampu memprediksi terjadinya gempa bumi yang akan terjadi satu sampai tiga hari sebelumnya dengan daerah prediksi dari Sabang hingga Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini dipimpin oleh Ketua Tim Riset Laboratorium Sistem Sensor dan Telekontrol Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM, Prof. Sunarno.

BACA JUGA : Gempa Kecil Melanda Jogja Belakangan Ini, Begini Kata BMKG

Sunarno menyatakan datangnya tsunami dapat diprediksi dengan hadirnya gempa bumi. Oleh karena itu, justru alat pendeteksi gempa bumi menurutnya sangat penting untuk dikembangkan sebagai peringatan dini.

Sejak tahun 2018, ia dan tim telah melakukan penelitian dengan mengamati konsentrasi gas radon dan level air tanah sebelum terjadinya gempa bumi. Pengamatan ini dikembangkan dan dirumuskan dalam suatu algoritma prediksi sistem peringatan dini.

Sistem peringatan dini gempa yang dikembangkannya bersama tim bekerja berdasarkan perbedaan konsentrasi gas radon dan level air tanah yang merupakan anomali alam sebelum terjadinya gempa bumi. Apabila akan terjadi gempa bumi di lempengan, maka paparan gas radon alam dari tanah meningkat secara signifikan. Demikian juga permukaan air tanah mengalami pergerakan mendadak dan fluktuatif.

"Dari early warning system [EWS] gempa dengan algoritma yang kami kembangkan bisa tahu akan ada gempa satu sampai tiga hari sebelum gempa. Jika gempa besar di atas 6 SR sekitar dua minggu sebelumnya alat ini sudah mulai memberikan peringatan,” ungkap Sunarno kepada Harianjogja.com.

Saat ini, ada lima stasiun pemantau EWS ini yang tersebar di Kabupaten Sleman, Bantul, serta di Kecamatan Gantiwarno, Klaten. Dari masing-masing stasiun pemantau itu setiap lima detik mengirim data ke server dengan memanfaatkan Internet of Things (IoT).

Asisten Peneliti Rony Wijaya menerangkan jika sistem alat EWS yang dikembangkan ini tersusun dari sejumlah komponen seperti detektor perubahan level air tanah dan gas radon, pengkondisi sinyal, kontroler, penyimpan data, serta sumber daya listrik.

Dari detektor dari sensor radon itu, nantinya jika ada fluktuasi level air tanah terjadi dalam satu waktu, maka fluktuasi tersebut dicatat sebagai deteksi dini gempa. Data akan dikirim ke www.dataalamdiy.com serta WhatsApp milik Sunarno. "Dengan peringatan itu, Prof. Sunarno bisa menyampaikan info itu ke stakeholder misal BPBD atau BMKG," ujarnya saat ditemui media di Fakultas Teknik UGM.

BACA JUGA : Pagi Ini Gempa Terjadi di Banjarnegara

Kendati demikian, ia mengakui jika sistem deteksi gempa bumi ini masih memerlukan pengembangan. "Di mana tepatnya, jam berapa, belum bisa kami deteksi karena keterbatasan jumlah sensor kami," lanjutnya.

Menurutnya, untuk Pulau Jawa minimal harus ada 200 titik EWS di sisi selatan untuk bisa melihat fluktuasi air tanah untuk peringatan dini gempa. Setiap titik EWS itu perlu dipasang setiap 75 kilometer antara satu sama lain supaya bisa menghimpun data deteksi dini yang akurat.

Sunarno menambahkan hasil kajiannya ini telah terbit di dua jurnal ilmiah. Antara lain 'Development of the Groundwater Level Changes Detector for Earthquake Prediction at Yogyakarta Region-Indonesia' yang dimuat dalam jurnal MATEC Web of Conferences 218, 02010 (2018) serta 'Detection System for Deterministic Earthquake Prediction Based on Radon Concentration Changes in Indonesia' yang dimuat dalam Journal of Engineering Science and Technology Vol. 15, No. 3 (2020), School of Engineering, Taylor’s University.

Menurutnya sistem ini mampu memprediksi terjadinya gempa bumi di Barat Bengkulu M5,2 (28/8/2020), Barat Daya Sumur-Banten M5,3 (26/8/2020), Barat Daya Bengkulu M5,1 (29/8/2020), Barat Daya Sinabang Aceh M5,0 (1/9/2020), Barat Daya Pacitan M5,1 (10/9/2020), dan Tenggara Naganraya-Aceh M5,4 (14/9/2020).

BACA JUGA : Gempa Trending Twitter, BMKG Jogja Jelaskan Pusat Gempa

Sunarno menyebutkan sistem deteksi tersebut dikembangkan sebagai mekanisme membentuk kesiapsiagaan masyarakat, aparat, dan akademisi untuk mengurangi risiko bencana. Sebab, posisi Indonesia yang berada di tiga lempeng tektonik dunia menjadikannya rentan terjadi gempa bumi.

"Kalau ada potensi gempa besar, saya akan ketemu Kepala BPBD DIY dan menghadap ke Sri Sultan. Karena yang berhak mengumumkan soal prediksi ini Sri Sultan. Yang membuat keputusan Sri Sultan, saya hanya membisiki, ngasih bocoran," ujarnya.

Ia berharap dengan dapat diketahui adanya potensi gempa tiga hari bahkan dua minggu sebelumnya, maka dapat dirancang penentuan kebijakan selanjutnya. Sebab, ia berprinsip EWS ada untuk menenangkan masyarakat. "Early warning itu penting. Bisa mengabarkan tiga hari sebelumnya maka masih ada action," kata dia.

Dia menegaskan sistem peringatan dini gempa bumi ini akan terus dikembangkan hingga mampu memprediksi waktu terjadinya gempa secara tepat, lokasi koordinat episentrum gempa, hingga magnitudo gempa. Pengembangan sistem peringatan dini gempa bumi ini diharapkan dapat membantu aparat dan masyarakat dalam melakukan evaluasi penyelamatan penduduk lebih cepat.

BACA JUGA : Senin Hari Ini, Jogja Diguncang 2 Gempa Bumi dalam 6 Jam

Selain itu, juga bisa menjadi rekomendasi sistem instrumentasi untuk peringatan dini gempa bumi dan memberikan pengetahuan bagi masyarakat mengenai prediksi gempa bumi sehingga selalu siap dan waspada terhadap bencana gempa bumi.