DWS Ingin Jadikan Moyudan sebagai Gerbang Pariwisata Sleman

Calon bupati Sleman nomor urut 1, Danang Wicaksana Sulistya (DWS), saat bersilaturahmi di Kecamatan Moyudan, Sleman, Kamis (15/10/2020). - Istimewa
16 Oktober 2020 09:07 WIB Media Digital Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Calon bupati Sleman nomor urut 1, Danang Wicaksana Sulistya (DWS), menemukan sejumlah permasalahan dan potensi yang belum tergarap saat bersilaturahmi ke sejumlah titik di Kecamatan Moyudan, Sleman, Kamis (15/10/2020).

Di wilayah yang digadang sebagai lumbung pangan Sleman tersebut, DWS menerima sejumlah keluhan dari beberapa petani yang ditemuinya.

Seperti di Dusun Kaliduren 2, Sumberagung, Moyudan. Pasangan calon wakil bupati R. Agus Choliq (ACH) tersebut mendapati sejumlah persoalan yang disampaikan kelompok tani setempat.

"Tolong Mas Danang, kalau besok terpilih menjadi bupati, perekonomian daerah pertanian seperti Moyudan tolong ditingkatkan. Minimal biar sama seperti kecamatan lain [di Sleman]," kata Margono, ketua Kelompok Tani Kaliduren 2 kepada DWS.

Margono berharap pemerintahan Sleman mendatang dapat meningkatkan kesejahteraan petani dengan membuka peluang pengembangan ekonomi wilayah di luar sektor pertanian. Pasalnya, selama ini para petani mengaku hanya dapat mengandalkan hasil panen dan kebanyakan tidak memiliki penghasilan tambahan.

"Panen kan mboten tiap hari. Kami ingin mendapat tambahan pengasilan lain. Tapi kami bingung, mau usaha apa. Kalau mau jualan juga ragu. Lha, Moyudan kan daerahya sepi. Takut enggak ada yang beli kalau mau jualan," tambah Margono.

Selain itu, Margono mengeluh soal generasi muda yang enggan turun sawah untuk bertani. Dari 25 orang anggota kelompoknya, seluruhnya berusia diatas 50 tahun.

"Anak zaman sekarang pada enggak mau ke sawah, Mas. Mereka lebih milih kerjaan lain yang lebih ‘bersih’. Kalau seperti ini terus, lama- lama enggak ada yang ngerjain sawah lagi," imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut, Margono dan teman- temannya juga curhat mengenai program Kartu Tani dari Pemerintah Pusat. Program yang ditujukan untuk distribusi pupuk bersubsidi tersebut dinilai terlalu rumit bagi petani yang berusia lanjut.

"Sebenarnya itu program yang bagus, Mas. Bisa membantu petani memperoleh pupuk. Tapi kalau buat petani yang sudah usia lanjut, rasane ribet, Mas. Harus pakai prosedur ini itu, ke bank dan seterusnya. Semoga ke depan bisa lebih sederhana," harapnya.

Masih di tempat yang sama, lain lagi yang dialami oleh kelompok budi daya ikan Kaliduren 2. Pandemi Covid-19 justru membuka peluang baru. Jika sebelum sebelumnya hasil panen dibeli oleh tengkulak atau pedagang pasar, selama pandemi, kelompok yang berdiri sejak dua tahun silam tersebut lebih memilih memasarkan langsung ikan nila hasil panen ke masyarakat.

"Ternyata cara ini lebih menguntungkan,  Mas," kata ketua Kelompok Budidaya Ikan Kaliduren 2, Sugiatno.

Sugiatno bercerita, sebelum pandemi, ikan nila hasil panen kelompoknya dibeli pedagang atau tengkulak dengan harga Rp22.000 sampai Rp23.000 per kilogramnya. Jika dijual langsung ke konsumen, dia mengaku bisa mematok harga Rp25.000 per kilogram.

 "Justru malah laris, Mas. Konsumen pun senang karena bisa dapat harga yang lebih murah. Soalnya, kalau mereka beli di pedagang di pasar, harganya bisa Rp30.000 per kilonya," kata Sugiatno.

Sugiatno bercerita, setiap menjelang panen, dia melakukan promosi menggunakan aplikasi percakapan WhatsApp dan media sosial Facebook. Dengan cara tersebut, Sugiatno mengaku kelompoknya bisa menjual dua kuintal ikan nila setiap kali panen.

Kelompok budidaya ikan Kaliduren 2 beranggaotakan 36 orang dan memanfaatkan lahan kas desa seluas 600 meter persegi untuk dijadikan kolam.

Sugiatno menambahkan, lahan tersebut disewa dengan tarif Rp. 1.500,00 per meter persegi setiap tahunnya. Kepada DWS, Sugiatno mengaku pihaknya rata-rata menyebar 3 kuintal bibit nila setiap kali memulai proses budidaya. Dengan menghabiskan 90 zak pakan, kolam milik kelompoknya bisa menghasilkan 2,5 ton ikan nila untuk satu periode panen.

Sugiatno berharap, pemerintah bisa membantu menaikkan harga jual ikan nila di pasaran.

"Biar anggota kelompok bisa lebih sejahtera," harapnya.

Menganggapi hal itu, DWS menyatakan dirinya bersama calon wakil bupati Agus Choliq memang memiliki konsep membangun lumbung pangan di wilayah Kecamatan Moyudan. Namun mendengar keluhan warga, dia kemudian menawarkan konsep pengembangan ekowisata.

"Nah ini alasan saya harus selalu turun sendiri menginventarisir persoalan, respon saya adalah, menawarkan untuk bersama-sama membuat konsep ekowisata, menggali potensi pendukung dan memasukkan ke dalam desain besar pariwisata terpadu Sleman," kata DWS.Wilayah Kecamatan Moyudan yang bersebalahan dengan Kabupaten Kulonprogo itu menurut DWS dapat dikembangkan menjadi salah satu gerbang pariwisata di Sleman. Bahkan, dia menyebut di kawasan itu dapat dibangun terminal wisatawan yang berfungsi sebagai titik temu transportasi wisata dari Bandar Udara Internasional Yogyakarta (YIA).

"Yang penting tidak mendorong alih fungsi lahan pertanian secara masif, karena wilayah ini, dengan pasokan air yang boleh dikatakan tersedia sepanjang tahun, tetap harus dicadangakan untuk ketahanan pangan," ungkapnya.

DWS menambahkan sebagai kandidat calon bupati paling muda dibanding dengan kandidat lain, dirinya menginginkan warga masyarakat dapat memposisikannya sebagai partner membangun. Hal itu menurutnya karena idealnya Sleman dibangun secara bottom up, agar keinginan masyarakat dan kebijakan pemerintah dapat sinkron.

Seusai dari Dusun Kaliduren 2, pada kesempatan tersebut DWS juga mengunjungi  Kelompok Tani Klengkeng Kristal di Dusun Jowahan, Sumberagung, Moyudan, Sleman. Kepada kelompok yang baru berdiri beberapa bulan tersebut, selain menerima masukan, DWS juga memberi dorongan semangat kepada mereka.

Selain mengunjungi beberapa kelompok tani, di hari yang sama DWS juga bersilaturahmi ke sejumlah pengarjin tenun di Dusun Pakelan, Sumberarum dan di Dusun Gamplong 1, Sumberrahayu, Moyudan, Sleman.