Pemkab Kulonprogo Berkomitmen Kembangkan Potensi di Bumi Menoreh

Pemimpin Cabang Bank BPD DIY Cabang Wates, Didit Respati (kiri) bersama Bupati Kulonprogo, Sutedjo (tengah) saat mengikuti acara talk show Ngopi Bareng Bupati bertema Gotong Royong Memajukan Kulonprogo, yang digelar Harian Jogja di Kantor Bupati Kulonprogo, Jumat (16/10/2020). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
16 Oktober 2020 18:07 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Kabupaten Kulonprogo menyimpan banyak potensi terutama di sektor pertanian, UMKM dan pariwisata. Oleh karena itu, Pemkab terus berupaya mengembangkan potensi tersebut sehingga ke depan dapat tercipta kemandirian ekonomi bagi masyarakat Bumi Menoreh.

Hal itu disampaikan Bupati Kulonprogo, Sutedjo, dalam acara talk show Ngopi Bareng Bupati bertema Gotong Royong Memajukan Kulonprogo yang digelar Harian Jogja secara live streaming di Kantor Bupati Kulonprogo, Jumat (16/10/2020). Hadir dalam acara itu, Pemimpin Cabang Bank BPD DIY Cabang Wates, Didit Respati Setiadi.

Menurut Sutedjo, tiga potensi yaitu pertanian, UMKM dan pariwisata menjadi penggerak utama perekonomian daerah. "Pertanian, UMKM dan pariwisata bisa dibilang merupakan tulang punggung perekonomian kami," kata Sutedjo.

Di sektor pertanian, Kulonprogo disokong oleh produksi beras lokal yang saban tahun selalu surplus. Bahkan nilai surplus itu bisa mencapai lebih dari 30.000 ton. Dengan angka tersebut, beras yang ada lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sekaligus bisa diedarkan ke luar daerah.

Meski demikian, raihan itu tak membuat Pemkab berpuas diri. Pemkab terus berupaya meningkatkan produksi beras dan bahan pangan lainnya. "Kami juga mengembangkan pertanian di lahan pekarangan melalui Gerakan Menanam Pangan di Pekarangan atau Gempar. Gerakan ini melibatkan Kelompok Wanita Tani [KWT]," ucapnya.

Untuk sektor UMKM, hingga saat ini tak sedikit masyarakat yang mengais rezeki dengan menjadi perajin produk kerajinan dan makanan tradisional. Beberapa di antaranya yaitu produksi gula semut, aneka kopi tradisional, olahan cokelat serta geblek yang merupakan camilan khas dan menjadi ikon Kulonprogo.

Sayangnya, masih banyak pelaku usaha yang berada dalam tingkatan mikro. Untuk mendorong agar terus berkembang, Pemkab memberikan berbagai perhatian. "Ada pembinaan yang kami lakukan baik untuk meningkatkan kualitas maupun kuantitas produksi usaha tersebut," ujarnya. Di sektor pariwisata, Pemkab membentuk tim khusus yaitu tim produksi pariwisata kolaboratif. Tim ini melibatkan berbagai instansi di Kulonprogo.

Pemimpin Cabang Bank BPD DIY Cabang Wates, Didit Respati Setiadi, mengatakan untuk membantu pengembangan potensi di Kulonprogo, jajarannya menyediakan layanan permodalan yang bisa diakses oleh UMKM, petani maupun masyarakat pengelola wisata. Layanan itu di antaranya Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga 0% dan program Kredit Pemberdayaan Ekonomi Daerah (Pede).

Program Pede yang diluncurkan BPD DIY menyasar nasabah mikro. Kelebihan program ini adalah tanpa jaminan dan bunga rendah yaitu 3% selama setahun. "Program ini banyak peminatnya, kurang lebih ada 6.000 orang dari 200 KWT di Kulonprogo yang kami gandeng untuk program ini. Selain itu kami juga menyosialisasi ke kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), di mana sudah ada 50 kelompok yang berencana mengajukan kredit Pede," ujarnya.

Selain layanan kredit bantuan permodalan, BPD DIY juga memberikan fasilitas penundaan pembayaran kredit untuk pelaku usaha mikro selama pandemi Covid-19. Program yang disebut restrukturisasi ini memungkinkan pelaku usaha untuk menunda pembayaran dalam jangka waktu tiga bulan hingga setahun.