Ini Alasan Operator Bus Trans Jogja Merumahkan Puluhan Karyawan

Penumpang Trans Jogja turun di halte Jalan MT Haryono, Yogyakarta. - Harian Jogja/ Desi Suryanto
19 Oktober 2020 06:37 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Keputusan merumahkan sejumlah karyawannya diklaim oleh PT Jogja Tugu Trans (JTT) sudah melalui pertimbangan yang matang.

Direktur Utama (Dirut) PT JTT, Agus Andrianto mengatakan jika perusahaan yang dikepalainya terus berupaya untuk mencari solusi agar tidak terjadi friksi antara kedua belah pihak, baik dari karyawan yang dirumahkan maupun dengan perusahaan.

"Kalau memaksakan kehendak pribadi dan pendapat semua, tentu seluruh karyawan akan berpendapat mereka yang terbaik dan tidak pantas dirumahkan. Akan tetapi, pertimbangannya tentu jelas terkait pemilihan karyawan yang dirumahkan. Itu kan manajemen yang atur, ada indikator dan ketentuannya," ujar Direktur Utama (Dirut) PT JTT, Agus Andrianto saat dikonfirmasi pada Jumat (16/10/2020).

Agus mencoba untuk menjelaskan soal tantangan yang dihadapi oleh PT JTT. Sejumlah armada dan rute Trans Jogja terpaksa tidak beroperasi normal karena dipangkas akibat minimnya jumlah penumpang. Kebijakan merumahkan karyawan dilakukan imbas dari adanya pandemi Covid-19.

"Karena tidak lagi sesuai bebannya maka pilihannnya mengurangi operasional dari bus Trans Jogja, otomatis pekerja kan juga dikurangi. Kami melakukan upaya itu karena atas perintah Pemda jadi selama ini by the service kan dibayar," sambung Agus.

Upaya yang dilakukan oleh perusahaan dirasa masih rasional oleh Agus. Pasalnya, pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak kepada sektor tertentu. Akan tetapi, hampir semua sektor bisnis terpukul dengan kehadiran pandemi Covid-19 yang berasal dari Wuhan, China.

"Pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak secara lokal di DIY saja melainkan juga memukul hampir seluruh sektor dan mewabah di sejumlah negara. Kalau perlahan-lahan operasional bus sudah mulai kembali kan mereka pasti dipanggil lagi untuk bekerja. Yang jelas dari sejumlah karyawan yang dirumahkan itu, yang 20 ini mereka tidak bersabar," terang Agus.

Sebelumnya, lanjut Agus, skema merumahkan karyawan sebenarnya sudah dilakukan oleh pihaknya beberapa waktu lalu. Akan tetapi, belasan pekerja yang sempat dirumahkan saat ini telah kembali bekerja karena operasional bus yang perlahan telah bangkit.

"Realitanya sudah ada sejumlah pekerja yang sudah dipekerjakan lagi. Tapi mereka kan maunya minta di PHK. Kalau mereka mau bersabar, begitu normal mereka akan dipekerjakan kembali," imbuh Agus.

Terkait dengan anggaran pesangon kepada karyawan PT JTT yang terpaksa harus dirumahkan, Pemda DIY nyatanya tidak mengalokasikan anggaran tersebut. Pemda tidak mengalokasikan jumlah pesangon yang mesti didapatkan oleh pekerja yang minta di PHK itu.

Sehingga, kata Agus, PT JTT dan 20 pekerja yang dirumahkan belum mendapat titik temu akan mencari jalan terbaik dari kebijakan merumahkan karyawan tersebut.

"Ke depan akan kita cari situasi yang win-win solutions agar permasalahan ini tidak berlarut-larut. Mereka kan maunya di-PHK, nah itu duitnya dari siapa. Kan ga ada anggarannya dari Pemda. Pemda juga hanya minta agar karyawan dirumahkan dan menunggu situasi kembali normal," pungkas Agus.