BMKG Jogja: La Nina Tingkatkan Ancaman Banjir, Longsor, & Tanah Longsor

Ilustrasi - Antara/Wahdi Septiawan
20 Oktober 2020 10:37 WIB Jalu Rahman Dewantara Jogja Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta mengimbau masyarakat di Kulonprogo untuk mewaspadai dampak bencana hidrometeorologi yang ditimbulkan fenomena La Nina.

Kepala Stasiun Klimatologi (Staklim) BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas, mengatakan saat ini fenomena La Nina lemah hingga sedang terjadi di Indonesia, tak terkecuali wilayah DIY, khususnya Kulonprogo. Dampak fenomena ini dapat menaikkan intensitas curah hujan 20% hingga 40% dari kondisi normal. Akibatnya, bisa memunculkan potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor dan angin kencang.

“Diharapkan pemangku kebijakan dan masyarakat waspada terhadap potensi bencana banjir, tanah longsor dan angin kencang,” kata Reni saat ditemui seusai audiensi dengan Pemkab Kulonprogo, di kompleks Pemkab Kulonprogo, Kapanewon Wates, Senin (19/10).

BACA JUGA: Ajakan Demo Lewat #JogjaMemanggil Menggema di Twitter

Reni menjelaskan potensi terjadinya La Nina mengikuti awal musim hujan di masing-masing wilayah. Kebetulan untuk Kulonprogo awal musim hujan lebih dulu daripada wilayah lain di DIY. Awal musim hujan di Kulonprogo bagian utara diprediksi terjadi pada Oktober dasarian dua atau sekitar pertengahan bulan, disusul wilayah lain seperti Sleman bagian utara dan barat, Kulonprogo sisi selatan, Bantul dan Jogja pada Oktober dasarian tiga atau akhir bulan. Untuk Gunungkidul diprediksi hujan dimulai pada awal November.

“Dengan memasuki awal musim hujan, potensi penambahan intensitas curah hujan juga mengikuti masing-masing wilayah. Jika normalnya musim hujan di Kulonprogo curah hujannya sekitar 300 hingga 400 milimeter per bulan, maka dengan adanya La Nina ada penambahan hingga 40 persen, artinya curah hujan yang tambah sekitar 80 hingga 160 milimeter per bulan. Hal ini akan memberikan dampak terhadap potensi  bencana hidrometeorologi,” katanya.

Kepala BMKG Yogyakarta, Agus Riyanto, berharap pemerintah dapat memanfaatkan informasi dari BMKG terkait dengan fenomena La Nina sebagai bekal untuk menghadapi potensi bencana. “Secara umum BMKG ingin hadir memberikan informasi yang cepat, tepat, akurat, luas dan mudah dipahami,” ucapnya.

BACA JUGA: Lahan Tol Jogja-Solo Sudah Diukur, Warga Masih Kebingungan

Kepala Pelaksana BPBD Kulonprogo, Ariadi, mengatakan jajarannya terus bersiap menghadapi musim penghujan. Adapun langkah awal yang dilakukan yakni berkoordinasi dengan Kodim 0731, Polres Kulonprogo, Brimob, Basarnas dan organisasi perangkat daerah (OPD) termasuk PMI dan sukarelawan. “Dengan langkah ini maka seluruh aparat maupun sukarelawan siap mengantisipasi apabila terjadi bencana hidrometeorologi,” kata Ariadi.

Bencana yang sering melanda Kulonprogo saat musim penghujan yakni tanah longsor, terutama di wilayah Menoreh seperti Kapanewon Kokap, Girimulyo, Samigaluh, Kalibawang dan sebagian wilayah Pengasih. Untuk persiapan, BPBD menyiapkan berbagai peralatan dan memperbaiki alat pendeteksi bencana longsor yang terpasang di titik-titik rawan. “Untuk anggaran Pemkab bisa menggunakan biaya tak terduga [BTT] 2021 sebesar Rp5 miliar,” katanya.