Lahan Tol Jogja-Solo Sudah Diukur, Warga Masih Kebingungan

Petugas pengukur dari Satgas A melakukan pengukuran bidang terdampak pembangunan jalan tol Joglo di Jobohan, Bokoharjo, Prambanan, Senin (19/10/2020)-Harian Jogja - Abdul Hamid Razak
20 Oktober 2020 07:37 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Proses pengukuran bidang terdampak pembangunan jalan tol Jogja-Solo mulai merambah Kalurahan Bokoharjo, Kepanewon Prambanan, Senin (19/10/2020). Sementara warga terdampak masih kebingungan dengan masa depan mereka.

Berdasarkan pantauan Harianjogja.com, proses pengukuran bidang terdampak oleh Satgas A dari BPN Sleman baru digelar pada pukul 14.00 WIB di Jobohan, Bokoharjo. Petugas pengukur baru tiba dilokasi setelah sebelumnya mereka menggelar rapat koordinasi dengan Pemdes Bokoharjo.

Baru saja peralatan ukur digunakan oleh petugas yang berjumlah tiga orang itu, hujan deras turun di sekitar lokasi. Petugaspun berupaya menyelamatkan peralatan ukur agar tidak rusak. Tak ada tanda hujan mereda, petugas pun bergegas merapikan peralatan.

"Tidak memungkinkan dilanjutkan. Kami harus menjaga agar alat tidak rusak. Kondisi kesehatan kami harus dijaga karena tidak hanya dusun ini yang diukur," kata Wawan salah seorang petugas ukur.

BACA JUGA: Lantai Jalur Pedestrian Malioboro Dipoles

Dijelaskan dia, proses pengukuran akan dilanjutkan pada Selasa (20/10/2020). Hujan, katanya, menjadi salah satu masalah yang mereka hadapi karena peralatan yang digunakan tidak tahan air hujan. "Normalnya pengukuran bisa tiga sampai empat hari selesai. Kalau cuaca hujan terus bisa lebih," katanya.

Proses pengukuran bidang lahan terdampak pembangunan jalan tol, katanya, dibagi dua tim Satgas A. Selain di Jobohan, tim lainnya juga melakukan pengukuran di Pelemsari. Setelah di Bokoharjo, tim akan bergerak ke kalurahan lainnya yang belum selesai. Seperti Selomartani, Tirtomartani dan Tamanmartani.

Sementara sejumlah warga Jobohan mengawal proses pengukuran lahan terdampak. Mereka ingin memastikan lahan tersebut sesuai dengan yang mereka miliki. Hanya saja warga mengaku masih kebingungan dengan masa depan mereka kelak. "Sebenarnya yang kami tunggu pertemuan dengan tim Appraisal. Kami ingin tahu berapa sebenarnya besaran ganti untung yang dijanjikan," kata Totok, warga Jobohan.

Pertemuan dengan tim Appraisal, kata Totok penting karena menyangkut masa depan warga terdampak. Sebab sampai saat ini warga terdampak kebingungan untuk mencari lahan pengganti karena mereka tidak memiliki lahan lainnya selain yang ditempati saat ini. "Padahal mencari tanah tidak mudah. Ini yang membuat warga dilema, dampak psikologinya sangat terasa sekali. Kalau kita yang butuh (lahan) harganya sudah pasti tinggi," katanya.