PSS Sleman Kalah Dua Kali, Bupati Harda Minta Manajemen Segera Berbenah
PSS Sleman kalah dalam dua laga awal Super League 2026/2027. Bupati Harda Kiswaya berharap manajemen segera melakukan pembenahan.
Salah satu adegan dalam pertunjukan utama WJNC 2020 yakni pementasan lakon Babat Alas Mertani sebagai puncak HUT Kota Jogja ke 264. /Harian Jogja-Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, JOGJA- Puncak acara HUT Kota Jogja ditutup dengan penampilan apik oleh puluhan seniman dalam Wayang Jogja Night Carnival (WJNC). Mengangkat kisah babat alas, perpaduan wayang dengan berbagai teknologi dan properti modern, sukses membius para penonton.
Ditayangkan secara daring tidak membuat gelaran WJNC ke-5 ini kehilangan kemeriahannya. Rangkaian WJNC tahun ini diawali dengan pra-acara yang dihelat di empat titik. Pada pra-acara saja, suguhan seniman-seniman Jogja sudah memukau para penonton, mulai dari pertunjukan Tari Edan-edanan, Tari Solah Buto, Wadhana Ananggadipa dan beragam pentas lainnya.
Baca juga: Di Tengah Pandemi, Museum Dituntut Beradaptasi dengan Kebiasaan Baru
Puncak acara digelar di beberapa titik yang berpusat di halaman air mancur Balai Kota Jogja. Kepala Dinas Pariwisata Kota Jogja, Maryustion Tonang menjelaskan jika WJNC 2020 mengambil lakon Babat Alas Mertani. Lakon ini berkisah tentang bagaimana Pandawa dihadapkan pada situasi keadaan baru Alas Mertani. Selain dihuni binatang yang terkenal buas, Alas Mertani juga dikenal keangkerannya karena dihuni jin-jin ganas.
"Perjuangan dan kekompakan Pandawa melawan gangguan musuh yang tidak bisa mereka lihat dan ketahui bisa menjadi teladan bagi kita," terang Tion pada Rabu (21/10/2020).
Melalui semangat Tan Mingkuh Tumapaking Jaman Anyar dan Gandeng-Gendong Pandawa dalam Babat Alas Mertani diusung juga dalam HUT Kota Jogja ke-264 ini.
Baca juga: Program PanganKu Maju Ajang Inovasi Tingkat Internasional
"Semangat Tan Mingkuh Pandawa dalam memerangi musuh, tumapaknya Pandawa di alas Mertani serta Gandeng-Gendong mereka dalam menutupi kekurangan masing-masing, kami rasa relevan dan representatif dengan apa yang kita hadapi saat ini. Kami berharap semoga lakon ini bisa menjadi refleksi yang aktual bagi kita, terutama dalam menghadapi situasi dan kondisi pandemi saat ini," tuturnya.
Acara puncak WJNC 2020 di awali dengan pertunjukan berbagai ragam seni dan artis mulai dari Tri Suaka, Dimas Tedjo, Srundeng Angkringan, Sothil Angkringan, Trinil Angrkringan, Michela Thea, Putri Manjo, dan artis lainnya. Pertunjukan puncak wayang carnival ditandai dengan munculnya satu set panggung berjalan berlatar hutan yang menggambar Alas Mertani. Kemunculannya dibarengi dengan para penari yang dengan kostum pepohonan dan binatang.
Serangkaian tarian para penghuni hutan pun selesai. Dilanjutkan masuknya set panggung berjalan dengan latar kerajaan jin. Para penari berperangai menyeramkan gambaran sosok jin Alas Mertani lantas menari-menari seolah menunjukkan bahwa hutan itu merupakan wilayah kekuasaan mereka yang tidak bisa ditaklukan
Namun di scene berikutnya masuk lah iring-iringan kesatria Pandawa. Para Pandawa melakukan berbagai gerakan pertarungan, seperti sedang melawan musuh tak kasat mata yakni bangsa jin penghuni hutan.
Setelah lama melakukan tarian sebagai bentuk Tan Mingkuh Tumapaking Jaman Anyar, muncullah set panggung berjalan berlatar Taman Kerajaan dan Istana Indraprasta sebagai representasi dimana setelah perjuangan yang ketat dan kebersamaan Gandeng-Gendong maka kerajaan yang asri pun bisa indah berdiri.
Kesemua pemain dalam lakon Babat Alas Mertani menggunakan ubo rampe pakaian yang mendukung karakter masing-masing. Uniknya, masker atau face shield yang didesain ciamik agar tetap serasi dengan kostum yang dikenakan. Kendati menggunakan face shield atau pun masker, tambahan aksesori wajib saat pandemi tersebut sama sekali tidak mengurangi nilai dan makna yang ingin disampaikan.
Walikota Jogja, Haryadi Suyuti yang menyaksikan langsung pertunjukan tersebut nampak khidmat dan menikmati bagaimana semangat Tan Mingkuh Tumapaking Jaman Anyar digambarkan lewat lakon Babat Alas Mertani. "Pagelaran ini mengedepankan tema yang baru yang tidak hanya digunakan HUT Kota Jogja tetapi akan kita gunakan dari sekarang sampai nanti ke depannya yaitu Tan Mingkuh Tumapaking Jaman Anyar. Artinya dengan penuh semangat menapaki jalan yang baru," tuturnya.
"Kita dengan penuh semangat tidak kenal lelah, Tan Mingkuh Tumapaking Jaman Anyar termasuk Tan Mingkuh untuk memberikan pelayanan terbaik kepada warga masyarakat. Di tengah situasi seperti ini kami tetap penuh semangat melayani kebutuhan masyarakat apalagi di tengah pandemi," tegas Haryadi.
Setelah pertunjukan utama Lakon Babat Alas Mertani rampung, Haryadi menyerahkan wayang Brotoseno kepads Ki Seno Nugroho untuk selanjutnya melanjutkan pagelaran WJNC 2020 dengan suguhan Wayang Climen.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PSS Sleman kalah dalam dua laga awal Super League 2026/2027. Bupati Harda Kiswaya berharap manajemen segera melakukan pembenahan.
Bappenas mendorong penanganan karhutla bergeser dari respons ke pencegahan. BNPB telah mengerahkan 43.700 personel dan 55 armada udara.
Real Madrid membalas kritik Javier Tebas dan menyinggung prinsip netralitas. Simak awal perselisihan Tebas dan Los Blancos serta sejarah Madrid.
KAI Daop 6 Jogja membangun jalan baru 394 meter di Stasiun Lempuyangan. Sebanyak 13 rumah perusahaan ditertibkan untuk penataan kawasan.
Jadwal Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 hari ini mencakup 21 cabor, termasuk esports, atletik, bulu tangkis, wushu, dan angkat besi.
Wisatawan dari kawasan Malioboro yang hendak menuju Pantai Parangtritis pada Rabu (23/9/2026) dapat memanfaatkan Bus Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN