Advertisement
Potret Perempuan dalam 22 Cerita: Realisme Murni di Antologi Terbaru
Buku antologi cerpen Cerita dari Perempuan menghadirkan mozaik kehidupan perempuan Indonesia melalui 22 cerita yang ditulis penulis perempuan dari berbagai latar. Peluncuran buku ini berlangsung dalam acara Sastra Bulan Purnama di Museum Sandi Kotabatu, Yogyakarta, Sabtu (20/12 - 2025).
Advertisement
Potret Perempuan dalam 22 Cerita: Realisme Murni di Antologi Terbaru
Harianjogja.com, JOGJA—Buku antologi cerpen Cerita dari Perempuan menghadirkan mozaik kehidupan perempuan Indonesia melalui 22 cerita yang ditulis penulis perempuan dari berbagai latar. Peluncuran buku ini berlangsung dalam acara Sastra Bulan Purnama di Museum Sandi Kotabatu, Yogyakarta, Sabtu (20/12/2025).
Advertisement
Karya-karya di antologi ini dominan bergenre realisme murni. Latief Noor Rochmans, sastrawan yang dipercaya membahas buku terbitan Tonggak Pustaka ini, menyebut bahwa realisme dipilih untuk memudahkan pembaca memahami kisah tanpa harus berpikir rumit. “Buku ini mosaik potret empiris perempuan. Dengan bahasa plastis, pembaca diharap bisa mencerna tanpa kerut dahi,” ujar Latief.
Acara yang dipandu Bayu Saptomo ini dihadiri berbagai sastrawan, komunitas Kain dan Kebaya, serta penikmat seni. Desain sampul buku digarap oleh Vinsensius Dwimawan, sementara lukisan sampul dibuat Meuz Prast.
Dalam antologi ini, Latief menyoroti sejumlah cerita menonjol. Cerpen Sepotong Waktu untuk Perempuan: Sinta karya Nia Samsihono, misalnya, dianggap sebagai karya terbaik. Cerita ini mengisahkan kesepian seorang perempuan yang ditinggal suami dan dua anaknya. “Kemampuan Nia berdiksi ria membuat kisah sangat menarik dan cerdas,” ujar Latief.
Cerpen Rumah Seribu Cermin karya Novi Indrastuti juga memikat. Latief menekankan kekuatan diksi Novi yang puitis dan bisa dijadikan kutipan, seperti: “kuat itu bukan berarti tidak menangis” dan “tentang cermin-cermin yang menolak dipakai satu orang, tentang anak kecil yang menggambar jendela di cermin, dan jendela itu menjadi pintu kecil menuju halaman.”
Sementara itu, Kasih, Perempuan yang Merayu Tuhan oleh Nunung Rieta berhasil menghanyutkan pembaca lewat nuansa puitis. Ana Ratri, lewat cerpen Siapa Lelaki Itu, menghadirkan ironi kehidupan perempuan yang harus menghadapi karma hubungan gelap keluarga.
Latief juga menyoroti kisah Perempuan Kamoro di atas Kole-kole karya Maria Widy Aryani, yang menampilkan konflik keluarga dan dampaknya terhadap anak perempuan. Begitu pula karya Ummi Azzura Wijana, Di Pasar Berbisik, dan Yuliani Kumudaswari dengan Kilas Cahaya, yang menggambarkan ketangguhan seorang ibu dalam mengantar anak menempuh pendidikan. “Tata bahasa dikuasai dengan baik, alur piawai, penulis berkarakter dan berkampuan,” kata Latief.
Tragikitas juga muncul dalam Mutiara Ibu karya Ninuk Retno Raras. Kisah ini menyoroti trauma anak perempuan akibat ayahnya yang memiliki istri lain, sehingga ia menolak menikah dan enggan meninggalkan ibunya.
Kehidupan nenek yang penuh tantangan dibahas Savitri Damayanti dalam Perempuan Bertusuk Konde Burung Hong. Latief memuji kedalaman cerpen ini, bahkan menilai dapat dikembangkan menjadi novel. Sonia Prabowo, fotografer surealis, menulis Ibuku Gaia dengan diksi lincah dan puitis. Latief menyoroti kalimat filosofisnya: “Bunga indah yang bermekaran akan kering dan gugur. Bulan purnama akan menjadi sabit dan hilang. Musim semi akan berubah menjadi gersang. Semua ada waktunya.”
Meski menonjolkan kualitas, Latief mengingatkan pentingnya evaluasi terhadap karya, terutama soal EYD.
Antologi ini dieditori Ons Untoro dan Indro Suprobo, serta digagas awal oleh Nunung Rieta untuk merayakan Hari Ibu. Koordinator Sastra Bulan Purnama, Ons Untoro, menyebut bahwa para penulis, meski tersebar di berbagai kota, tetap saling berkomunikasi melalui grup WhatsApp. “Mereka sehari-harinya ada guru SMP, penilik sekolah, dosen, fotografer, pensiunan, hingga ibu rumah tangga,” kata Ons.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Sinkhole Situjuah Berpotensi Melebar, Warga Diminta Jaga Jarak Aman
Advertisement
India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement



