KABAR WISATA: Breksi, Pahatan Tebing yang Menarik Wisatawan

Kawasan wisata Tebing Breksi, Prambanan, Sleman. - Instagram_@tebingbreksi_official.
22 Oktober 2020 11:17 WIB Sunartono Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Tebing Breksi yang berada di Dusun Groyokan, Sambirejo, Prambanan, Sleman kini tampil sebagai destinasi yang menjadi primadona bagi wisatawan dari dalam maupun luar DIY. Berkat kesadaran dan kerja keras masyarakat setempat, Breksi yang dahulunya merupakan penambangan batu, kini disulap menjadi tempat wisata dengan pemandangan dan berbagai spot foto menarik.

Pada 2015 ketikawarga mulai bersepakat menjadikan kawasan ini sebagai tempat wisata, saat itu masih banyak penambang yang beroperasi dengan mengambil bebatuan Breksi. Pada 2015 itu pula dilakukan pengurangan area tambang pada sejumlah titik terutama yang berdekatan dengan lokasi atau taman yang dijadikan wisata. Caranya dengan diberikan garis merah sebagai tanda larangan menambang.

BACA JUGA : Pandemi Belum Berakhir, Lebih dari 4.000 Orang Kunjungi

“Jumlah pengunjung sekitar 25 orang, kalau akhir pekan bisa mencapai 50 orang,” ungkap Mujimin Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Taman Breksi pada Agustus 2015 silam.

Warga pun berinisiatif untuk memahat bebatuan di Tebing Breksi untuk dijadikan sebagai relief menarik dan layak menjadi spot foto. Keberhasilan memahat batu hingga menjadi tempat wisata ini menjadi populer tidak lepas dari kerja keras dan kemauan warga lokal setempat salah satunya Kasdwiyanto.

Dalam akun Instagram tebingbreksi_official dikisahkan bahwa Kasdwiyanto yang biasa dipanggil Antok adalah seniman yang memahat relief dan ukiran di Tebing Breksi. Ia dibesarkan di Groyokan, Sambirejo, Prambanan, Sleman. Pada tahun 1997 ia masih menempuh pendidikan SMP, namun sudah mulai ikut orangtuanya menambang batu. Awal mulanya kegiatan tersebut hanya untuk menambah uang jajan, namun seiring berjalannnya waktu ia tertarik dengan seni pahat.

“Setelah lulus SMP tahun 1999, ia berlatih seni pahat di Muntilan selama tujuh bulan. Ia belajar dari mbah Heni, pemahat asli Bali yang telah menetap di Yogya. Kemudian ia mendalami keahliannya di Bali Green Kalasan selama satu tahun. Sebelum menjadi pemahat di Tebing Breksi ia juga pernah berpengalaman kerja di warung ikan bakar hanya satu setengah tahun. Hal ini disebabkan ia merasa bosan dan ingin kembali menekuni seni pahat. Lalu ia membuka jasa usaha pahat di rumah selama satu tahun. Kemudian ia berpindah untuk mengembangkan usahanya di daerah utara bandara Adisucipto selama tiga tahun,” tulis akun tebingbreksi_official.

BACA JUGA : Sedulur Jogja Perlu Tahu, Ini Makna Filosofi Ukiran Naga

“Pada tahun 2016 ia diminta oleh Ketua pengelola Tebing Breksi @kholiqwidiyanto untuk memahat relief dan ukiran di Tebing Breksi. Hingga kini ia menjadi pemahat satu-satunya di Tebing Breksi,”.

Ukiran-ukiran di sisi Tebing Breksi memang menjadi daya tarik para pengunjung. Dikutip dari Instagram tebingbreksi_official ukiran naga dibuat berdasarkan filosofi, agar menjadi sebuah keartistikan Tebing Breksi. Ukiran ini berada di sisi tebing kecil yang didesain oleh sang pemahat dengan memadukan antara ukiran naga Bali dan Jogja. Menurut falsafah Jawa, naga berarti sang penjaga. Secara simbolis Tebing Breksi berada dibawah candi Ijo. Seperti bagian candi utama terdapat Lingga Yoni (Arca Perempuan) berbentuk naga. Kami sesuaikan dari candi ijo ke Tebing Breksi yang sama terletak dibawah dan menghadap ke timur.

“Ukiran tersebut dibuat pada tahun 2016. Prosesnya membutuhkan waktu tiga bulan, karena sang pemahat tidak fokus dengan ukiran naga saja. Ia juga sambil mengerjakan ukiran huruf “Tebing Breksi.” tulis akun tersebut.

BACA JUGA : Terapkan Protokol New Normal, Kaliurang dan Breksi 

Pemandangan indah Kawasan Breksi tidak hanya bisa dinikmati saat siang atau sore hari saja namun juga malam hari. Puncak tebing memang ditutup pukul 18.00 WIB, namun wisatawan bisa menikmati Kawasan itu di area sisi bawang tebing hingga pukul 22.00 WIB. Pengunjung cukup membayar tiket Rp5.000, disarankan lebih dahulu melakukan reservasi menggunakan aplikasi visiting Jogja.

Ada jasa foto malam di depan tebing beserta juru fotonya. Anda cukup memberi upah sukarela setelahnya. Pelayanan tiket hanya sampai pukul 20:00 WIB. Setelah itu pengelola tidak bisa menerima pengunjung karena Tebing Breksi bersiap tutup pada pukul 21:50 WIB.

Lokasi Tebing Breksi bisa ditempuh dari Kota Jogja sekitar 45 menit melewat jalan Jogja-Solo, setibanya di Simpang Tiga Candi Prambanan kemudian berbelok ke selatan arah Piyungan. Kemudian mengambil jalur ke kiri atau ke timur menuju Jalan Candi Ijo.

“Pada malam hari, Tebing Breksi terlihat lebih indah dan menawan. Dengan pancaran cahaya dari berbagai sisi serta kerlap-kerlip lampu kota. Di sana Anda mendapatkan pemandangan yang memanjakan. Jangan khawatir apabila Anda ingin mengabadikan momen,”.

Protokol Kesehatan

Jumlah kunjungan wisatawan pada saat normal bisa mencapai di atas 5.000 per harinya. Di masa pandemi Covid-19 ini meskipun ada libur panjang akhir namun kunjungan wisata saat pandemi masih belum seramai ketika situasi normal. Pengelola pun tetap menyiapkan  protokol kesehatan dalam rangka pencegahan penularan Covid-19.

"Kita tetap tegakkan protokol adaptasi kebiasaan baru, mulai dari cek suhu, wajib bermasker, serta mendata wisatawan dengan aplikasi Visiting Jogja untuk tracking dan tracingnya," kata Pengelola Obyek Wisata Tebing Breksi, Kholiq Widianto kepada Harianjogja.com, Rabu (21/10/2020).

Jika ada pengunjung yang ketika dicek suhunya melebihi 37 derajat Celcius, maka pihaknya akan mengarahkan untuk beristirahat di tempat transit selama kurang lebih 30 menit. "Jika suhu sudah normal, maka bisa lanjut berwisata. Tapi jika suhu tidak turun, maka silakan berkunjung lain waktu," terangnya.

BACA JUGA : Rayakan Hari Batik, Dinas Pariwisata DIY Gelar Fashion 

Selain itu, pengelola wisata juga menyediakan klinik beserta tenaga medis. Pengelola juga memfasilitasi area cuci tangan dengan sabun sebanyak 70 titik di Tebing Breksi. Kholiq menegaskan selama pandemi ini kunjungan wisata di Tebing Breksi dibatasi 60% dari normal. Meskipun ada libur panjang akhir pekan pada akhir bulan ini, menurutnya geliat pariwisata di masa pandemi masih belum ramai.

"Rata-rata kunjungan wisatawan hari biasa 500 orang, tapi kalau akhir pekan 2.000 sampai 3.000 orang. Sementara saat situasi normal dalam satu waktu saja kalau dikunjungi 5.000 orang masih longgar," jelas dia.