KABAR WISATA: Bukit Paralayang, Tempat Romantis untuk Berlibur

Kawasan wisata Bukit Paralayang, Paranggupit, Giricahyo, Gunungkidul. - Instagram @brams1708.
23 Oktober 2020 15:47 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Kawasan pantai selatan memiliki ribuan potensi yang dijadikan sebagai destinasi wisata yang menyajikan pemandangan alam. Salah satunya Bukit Watugupit atau dikenal dengan Bukit Paralayang.

Tempat wisata ini secara administrasi masuk di wilayah Dusun Watugupit, Desa Giricahyo, Kecamatan Saptosari, Gunungkidul. Namun berbatasan dengan kawasan wisata Pantai Parangtritis. Bukit ini lebih terkenal dengan nama Bukit Paralayang daripada Bukit Watugupit, karena menjadi lokasi olahraga paralayang. Setiap event Jogja Air Show, dari bukit inilah para atlet paralayang beraksi.

BACA JUGA : Kunjungan Wisata di Bantul Masih Didominasi Warga Lokal 

Di bagian puncak bukit ini terdapat sebuah prasasti untuk mengenal seorang yang dinilai sebagai pelopor paralayang yaitu Dudy Arief Wahyudi. Prasasti terbuat daru batu marmer berukuran sekitar 50 x 30 cm, bertuliskan: Dari Pantai Parangtritis ini, Paralayang Indonesia Berawal Melangkah Pasti untuk Mendunia, Kibarkan Terus Merah Putih di Angkasa. Kemudian dibawahnya tertulis Mengenang Sang Pelopor Dudy Arief Wahyudi 22 Maret 1961 - 7 Februari 1993.

Almarhum Dudy Arief Wahyudi yang juga anggota Mapagama dan Kapalasastra FIB UGM tahun 1993 menjadi orang Indonesia pertama yang mempelajari paralayang. Hanya dengan alat dan pengetahuan seadanya ia bersama temannya berjuang agar olahraga dirgantara dapat masuk dan berkembang di Indonesia. Saat itu almarhum Dudy jatuh di Parangtritis.

Bukit ini sangat strategis karena berada di ketinggian sekitar 500 meter dari permukaan laut dan tepat berada di depan Pantai Parangtritis. Saat ini dikelola dengan konsep wisata berbasis masyarakat yang bisa dinikmati siapa saja dengan harga terjangkau.

BACA JUGA : Ini Sejumlah Objek Wisata di Bantul yang Saat Ini Sudah

Jika ingin ke Bukit Paralayang akses paling mudah dari Kota Jogja melewati Jalan Parangtritis ke selatan terus sampai ke Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) Parangtritis. Di TPR ini anda harus membayar retribusi Rp10.000 per orang. Sampai di TPR kemudian terus ke selatan mengikuti jalan setibanya di kawasan pantai lalu berbelok ke kiri atau timur lalu sedikit naik perbukitan. Kemudian mengambil ke kanan arah menuju Jalan Paralayang. Dari TPR sampai ke bukit Parayalang jaraknya sekitar dua kilometer.

Saat masuk bukit Paralayang ini dikenakan retribusi Rp5.000 per orang dan parkir dengan tarif Rp3.000 untuk motor, Rp5.000 untuk mobil roda empat dan Rp10.000 untuk bus. Untuk menuju lokasi memang sedikit menantang karena jalannya menanjak. Tetapi sampai di lokasi, anda akan merasakan kenyamanan yang luar biasa karena dapat melihat indahnya pemandangan lautan dan pegunungan di sekitarnya.

Di sekitar lereng perbukitan ini terdapat sejumlah kantin maupun warung yang menyediakan sejumlah tempat untuk bersantai maupun berfoto. Harganya pun murah banget dengan harga lokal dan sangat terjangkau. Dengan Rp10.000 atau Rp5.000 pun wisatawan bisa jajan di tempat ini. Waktu paling cocok untuk datang ke Bukit Paralayang ini adalah saat sore hari untuk melihat matahari terbenam dari puncak.

BACA JUGA : 249.000 Wisatawan Berkunjung ke Bantul Selama Pandemi

Bukit ini memang banyak didatangi oleh kaum muda-mudi. Video visualisasi destinasi wisata Bukti Paralayang ini sempat viral di media sosial. Salah satunya diunggah oleh akun TikTok @nzar.kj pada 22 September 2020 lalu.

Video itu dikomentari sebanyak 2.569 warganet diteruskan sebanyak 4.614 akun dan ada 91.300 akun yang menyukai. Netizen memberikan komentar karena banyak pasangan muda mudi di tempat wisata ini. Mereka menilai bukit itu sebagai tempat yang romantis untuk berlibur.

“Yg jomblo gua saranin jangan kesana deh, sakit hati sendiri nanti,” kata akun @kemtang59.

“Aku kesitu sendiri kebayang gak betapa jomblonya,” tulis akun @jodohmu.ygtertunda.

“untuk para kaum jomblo, tolong jangan sampai pergi kesini ya, takutnya kena serangan jantung lihat orang pada…,” tulis akun @iparnya_taehyung.

Tetapi Sebagian besar netizen yang belum pernah ke bukit Paralayang merasa penasaran dan ingin berkunjung ke bukit tersebut. Lagi-lagi warganet dari luar Jogja menyampaikan rasa kangennya untuk datang ke Jogja.

BACA JUGA : 57.000 Wisatawan Kunjungi Bantul Selama Libur Hari

“Ini kenapa fyp gw isinya jogja semua mentang mentang bula depan gw ke jogja help,” tulis akun @robetaryo.

Namun ada juga netizen yang menyampaikan pengalamannya dating ke bukit tersebit saat masih belum banyak pengunjung. “Semakin rame semakin banyak buat bayarnya, dulu masuk Cuma bayar parkir, skrg harus tiga kali bayar,” tulis akun @anakbumumun.

Di masa pandemi ini Bukit Paralayang pun menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Semua pengunjung diwajibkan untuk memakai masker dan menjaga jarak.

BACA JUGA : Pengelola Objek Wisata Tak Patuh Protokol Kesehatan

Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo mengatakan semua objek wisata harus menerapkan protokol Kesehatan yang ketat. Pihaknya sudah meminta kepada pengelola wisata agar lebih meningkatkan pengawasan untuk menjaga agar pengunjung menerapkan protokol Kesehatan. Menurutnya geliat sektor pariwisata di DIY setidaknya tampak dari data kunjungan wisata yang terekam melalui aplikasi Visiting Jogja periode Agustus-September 2020 dengan rata-rata 5.000-6.000 wisatawan per hari.

Setiap akhir pekan jumlah kunjungan wisata itu terus meningkat menjadi rata-rata 20 ribuan pada hari Sabtu dan pada Minggu meningkat menjadi 30.000 hingga 40.000. "Setiap minggu saya lihat trennya seperti itu," kata Singgih.

Berdasarkan data asal daerahnya, menurut dia, sebagian besar wisatawan yang mengunjungi DIY masih didominasi wisatawan lokal di DIY, diikuti Jawa Tangeh (Jateng), Jawa Timur (Jatim), Jawa Barat (Jabar), dan terakhir DKI Jakarta.