Jogja Tak Terapkan Tes Acak di Objek Wisata. Ini Alasannya...

Ilustrasi petugas melakukan tes swab. - ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha\\n
01 November 2020 17:47 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Sejumlah obyek wisata di luar DIY menerapkan wajib Rapid Diagnostic Test di lokasi destinasi bagi pengunjung dengan suhu di atas normal, tes acak dan kriteria lainnya. Di Kota Jogja tindakan tersebut tidak dilakukan dengan beberapa pertimbangan.

Satuan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Jogja memiliki pendekatan lain agar mencegah penyebaran Covid-19. Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Kota Jogja, Heroe Poerwadi menjelaskan jika pihaknya tidak menerapkan Rapid Test acak di destinasi wisata karena sejak awal pihaknya meminta para wisatawan meyakinkan diri bahwa ketika berlibur itu sehat dan mengantongi surat-surat yang diperlukan ketika masuk di Jogja.

"Baik hasil rapid atau swab atau lainnya, terutama ketika menginap di hotel. Sebab pasti ditanyai hal itu," terangnya Sabtu (30/10/2020).

Baca juga: Protokol Kesehatan Tak Boleh Dilupakan Saat Liburan

Heroe berpendapat jika tes acak yang diimplementasikan di destinasi wisata hanya akan menggambarkan bahwa pelaksanaan protokol kesehatan Covid-19 harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. "Jadi dengan di Borobudur atau tempat lainnya, ada yang reaktif yang belum tentu juga positif sudah cukup memberikan warning bahwa yang paling penting adalah prokes Covid-19 dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun, apalagi di masa liburan. Jadi saya kira dengan hasil di Borobudur saja sudah cukup semuanya harus sungguh melakukan protokol kesehatannya," tegasnya.

Sementara itu Heroe menyebutkan jika tujuan tes acak untuk tindakan screening, maka semestinya dilakukan seminggu setelah masa liburan. Tujuannya untuk melihat apakah para pelaku wisata ada yang terpapar atau tidak dan kemudian melakukan blocking jika ditemukan adanya paparan. "Itu tindakan pencegahan adanya sebaran," sebutnya.

Heroe punya penilaian sendiri langkah apa yang harus dilakukan Pemkot Jogja untuk mencegah sebaran Covid-19. Upaya pertama pertama yakni mempersiapkan masyarakat dan pelaku usaha serta wisata untuk siap menghadapi liburan panjang dengan melalukan review dan penerbitan surat verifikasi bahwa destinasi, hotel, resto atau pelaku usaha wisata dan destinasi wisata.

"Ini yang paling penting agar kalaupun ada OTG yang berkunjung tidak terjadi sebaran atau paparan di tempat-tempat destinasi wisata karena semua sudah jalankan prokes covid," ujarnya.

"Makanya yang kita pilih dalam memerangi Covid-19 di masa libur panjang adalah gencarkan agar seluruh pelaku usaha, wisata atau kegiatan sosial dan olahraga perlu ada surat verifikasi telah melakukan prokes Covid-19 dengan sungguh-sungguh," tambah Heroe.

Terjunkan Tim Gabungan

Upaya Pemkot Jogja untuk antisipasi penyebaran jika dilakukan lebih giat dengan menerjunkan tim gabungan di destinasi wisata, tempat parkir dan lokasi lainnya. Menurut Heroe langkah ini dilakukan agar semua orang taat prokes Covid-19 untuk mengimbau dan mengingatkan semua pengunjung yang ada di tempat tersebut untuk menjalankan prokes.

Baca juga: Ribuan Buruh Akan Demo Tolak Omnibus Law dan UMP 2021

"Bahkan kita juga melakukan operasi penegakan yustisi di destinasi wisata dan tempat-tempat umum lainnya. Itu adalah cipta kondisi agar masyarakat dan semua pelaku usaha dan wisata siap-siap menerima banyak orang yg datang di Jogja," imbuhnya.

Langkah terakhir yang dilakukan untuk mencegah paparan Covid-19 di saat libur lebaran yakni menyiapkan pelaku usaha dan masyarakat untuk selalu pakai masker, jaga jarak dan selalu menyiapkan handssanitizer atau tempat cuci tangan dengan sabun.

"Itu yg kita perlu selalu tegakkan, agar masyarakat terkondisikan bahwa dalam masa pandemi ini, semua aktivitas masih bisa dijalankan selama prokes Covid-19 dijalankan dg sungguh-sungguh," pungkasnya. Langkah-langkah tadi dipilih Pemkot Jogja untuk antisipasi sebaran Covid-19 ketimbang melakukan tes acak di destinasi wisata.