Erupsi Merapi: Monyet Mulai Turun, Barang Berharga Dimasukkan Tas Siap Minggat

Sejumlah warga menyiapkan westafel di Barak Pengungsian Glagaharjo, Cangkringan, Jumat (6/11/2020). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
07 November 2020 06:07 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Warga Kalurahan Glagaharjo, Kepanewon Cangkringan, Sleman mulai menyiapkan barak pengungsian seiring dengan naiknya status Merapi menjadi Siaga. Sementara, monyet-monyet mulai turun. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Abdul Hamid Razak.

BACA JUGA: Status Siaga, Wisata Lereng Merapi Ditutup

Joko Purwanto merebahkan punggungnya di lantai. Carik Glagaharjo ini sejak beberapa hari terakhir, bersama dengan warga lainnya, menyiapkan barak pengungsian.

Barak itu akan digunakan sebagian warga Kalitengah Lor yang masuk kelompok rentan. "Iya, sudah beberapa hari ini kondisi barak diperbaiki," kata Joko kepada Harian Jogja, Jumat (6/11/2020).

Beberapa bagian bangunan diperbaiki. Warna cat dinding yang mulai suram dicat ulang. Beberapa kaca jendela yang pecah diganti. "Nanti tinggal kami tambah dengan sabun cuci. Penempatan kasur bagi pengungsi juga akan disesuaikan dengan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Akan ada jarak antarkasur," katanya.

BACA JUGA: Ini Skenario Pemkab Sleman Evakuasi Warga & Ternak dari Lereng Merapi

Selain menambah beberapa keran di sejumlah titik, satu wastafel juga dipasang lengkap dengan lantai. Jalannya dibuat miring untuk memudahkan kelompok rentan. "Kami juga bangun itu di bagian pintu masuk ke barak. Jadi selain harus ramah bagi kelompok rentan, mulai lansia, difabel, anak-anak dan ibu hamil," kata Joko.

Berdasarkan catatan kalurahan, jumlah warga yang masuk kelompok rentan sebanyak 125 orang. Rinciannya, 30 anak balita, 95 orang lansia, tiga orang ibu hamil dan sisanya difabel. Jumlah tersebut belum termasuk pendampingnya.

"Kalau kapasitasnya sih bisa menampung sekitar 400 orang. Namun, karena kondisi pandemi dikurangi 50 persen hanya 200 orang. Yang kami butuhkan saat ini juga ketercukupan masker karena itu penting bagi para pengungsi yang masuk kelompok rentan," ucap Joko.

BACA JUGA: 607 Warga di KRB III Merapi Mulai Mengungsi

Raut wajahnya yang kecapekan mulai sirna. Sejurus kemudian, tangannya mengambil alat semprotan. Ia mulai membersihkan kaca di jendela bangunan. Selesai itu, Joko ikut memerhatikan warga yang sedang memasang westafel.

Beberapa warga lain  beristirahat. Mereka berteduh di dalam barak dari sengatan Matahari, sambil menikmati kudapan.

Menurut Joko, sebelum Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menaikkan status Merapi dari level Waspada ke Siaga, tanda-tanda alam sudah terlihat. Monyet penghuni Merapi mulai turun sejak beberapa hari terakhir. Bahkan, katanya, ada monyet yang terlihat di belakang kantor kalurahan. " Itu sudah menjadi salah satu penanda aktivitas Merapi mulai meningkat. Apalagi cuaca di sini mulai panas [gerah]," kata Joko.

BACA JUGA: Warga Keluhkan Amblesnya Bekas Pipa Galian Pertamina di Temon

Berbekal pengalaman dan tanda-tanda alam tersebut, ditambah informasi yang disampaikan BPPTKG, warga tidak panik maupun bingung. Sejak lama, kata Joko, penduduk lereng Merapi sudah memahami tanda-tanda yang dikirimkan gunung. Mereka pun menyiapkan diri. Seluruh barang-barang berharga sudah dimasukkan ke dalam tas untuk persiapan. "Dimasukkan dalam TSM. Itu Tas Siap Minggat [TSM], sudah disiapkan oleh warga jika sewaktu-waktu dievakuasi tinggal jalan," katanya.

Joko juga menyiapkan kandang darurat yang akan didirikan tidak jauh dari barak. Jumlah ternak yang dievakuasi sekitar 300 ekor. "Rencana di depan tanah lapang itu agar warga tidak terlalu jauh untuk merawat ternaknya," ucap Joko.

BACA JUGA: Covid-19 Merebak di Ponpes, Pemda DIY Minta Pembelajaran Ponpes Dievaluasi

Jika status Merapi kembali meningkat, warga lainnya yang tidak masuk kelompok rentan juga akan dievakuasi ke beberapa gedung seperti seperti sekolah di sekitar kantor kalurahan. "Kapan akan dievakuasi? Kami tinggal nunggu perintah. Yang jelas kami persiapkan dulu semuanya termasuk dapur darurat nanti,"ujar Joko.

Panewu Cangkringan Suparmono mengatakan penyiapan barak pengungsian dipercepat seiring naiknya status Merapi. "Dari tiga pedukuhan di Cangkringan, yang masih berpenghuni hanya Kalitengah Lor. Mereka yang akan dievakuasi lebih dulu, terutama bagi kelompok rentan," katanya.

Selain barak di belakang kantor kalurahan, masih ada dua barak lainnya yang disiapkan untuk menampung pengungsi. Hal itu dilakukan agar lokasi pengungsian mampu memenuhi aspek keamanan kesehatan selama masa pandemi Covid-19 ini. Bilamana kedua barak tidak mencukupi karena syarat protokol kesehatan, pihaknya juga menyiapkan beberapa sekolah untuk dijadikan alternatif lokasi pengungsian. 

"Harus memenuhi penerapan protokol kesehatan Covid-19. Ini agar pengungsi nantinya diberi jarak," katanya.