Tempat Konservasi Penyu di Pantai Trisik Terancam Rusak oleh Abrasi

Lokasi tempat konservasi penyu yang terancam abrasi di Pantai Trisik, Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur, Senin (9/11/2020). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
09 November 2020 15:07 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO -Tempat konservasi penyu yang dikelola Kelompok Konservasi Penyu Abadi di Pantai Trisik, Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur, Kulonprogo terancam rusak oleh abrasi yang melanda pantai tersebut. Saat ini, jarak tempat konservasi itu dari lautan tak lebih dari 50 meter.

"Ancaman abrasi terhadap tempat konservasi ini kian nyata, sekarang jarak dari tempat konservasi sampai dengan lautan tidak sampai 50 meter. Padahal dulu sekitar tahun 2004 jaraknnya bisa 100-200 meter," ungkap Koordinator Konservasi Penyu Abadi, Edy Yulianto saat ditemui di Pantai Trisik, Senin (9/11/2020).

Edy mengatakan abrasi yang saban tahun kian parah itu tak hanya berpotensi merusak tempat konservasi yang mereka kelola, tetapi juga menggangu aktivitas bertelur penyu yang biasanya dilakukan di sepanjang Pantai Trisik sampai muara Kali Progo, yang jika ditarik lurus jaraknya mencapai sekitar 2 Km.

"Penyu kalau bertelur memilih lokasi yang jauh dari titik pasang tertinggi. Nah kalau sekarang karena efek abrasi, pasang tertinggi itu sudah sampai zona bertelur penyu, sehingga jika kondisi terus dibiarkan, penyu-penyu di sini akan kesulitan mencari tempat bertelur," jelas Edy.

Baca juga: Tak Bisa Dipisahkan, Masyarakat Harus Terapkan 3M dalam Satu Paket

Adapun pada tahun ini, Kelompok Konservasi Penyu Abadi telah mengamankan 4.702 butir telur penyu jenis lekang dari 53 sarang yang ada di sepanjang Pantai Trisik. Telur yang menetas dan menjadi anak penyu atau biasa disebut tukik itu kemudian dirawat selama satu bulan. Setelah itu dilepasliarkan ke lautan lepas.

Edy berharap pihak-pihak terkait bisa memberi perhatian lebih terhadap persoalan ini. Menurutnya perlu ada solusi konkret agar abrasi di Pantai Trisik tidak semakin parah. Sehingga upaya konservasi penyu yang sudah berjalan lebih dari satu dekade itu tidak terhenti.

"Harus ada langkah konkret mengatasi abrasi agar habitat peneluran penyu tetap terjaga," ujarnya.

Sementara itu Ketua Konservasi Penyu Abadi, Jaka Samudra mengatakan sebagai upaya mengantisipasi kerusakan tempat konservasi, pihaknya berencana melakukan relokasi ke tempat yang lebih aman. Tempat yang dipilih sebagai lokasi baru itu kemungkinan di sekitar Joglo Wisata Trisik.

Menurut Jaka, lokasi tersebut terbilang cukup aman karena jarak dari bibir pantai lebih dari 100 meter. Calon rumah baru bagi tukik-tukik yang dirawat kelompok konservasi ini juga lebih luas dibanding tempat sebelumnya. "Sehingga tukik yang ditampung sementara untuk kemudian dilepasliarkan saat sudah siap nantinya bisa lebih banyak lagi," ucapnya.

Baca juga: Mengganggu, Kandang Ayam di Piyungan Ditutup

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIY, Untung Suripto menyatakan pihaknya siap membantu merealisasikan rencana relokasi tempat konservasi tersebut. Pihaknya akan coba menggandeng mitra kerja seperti perusahaan-perusahaan hotel di DIY yang sebelumnya pernah ikut dalam kegiatan konservasi alam, untuk terlibat dalam pendanaan relokasi ini.

"Kalau bicara anggaran kami belum ada, cuma tadi memang ada peluang dari CSR perusahaan. Nah nanti kami akan sampaikan ke sejumlah pengusaha, terkait rencana ini, semoga mereka bisa bantu," ujarnya.