Kasus Covid-19 Terkendali, Sleman Tetap Waspada Munculnya Klaster Baru

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
10 November 2020 04:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Tingkat kesembuhan pasien Covid-19 di Sleman tinggi dan tingkat kematian masih dibawah rata-rata nasional.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo mengatakan meskipun kasus Covid-19 di Sleman masih terkendali bukan berarti Dinkes berpuas diri. Dinkes terus melakukan upaya-upaya pencegahan agar kasus-kasus baru tidak terjadi.

"Untuk kondisi saat ini memang terkendali tetapi kami belum boleh berpuas diri karena pandemi belum berakhir dan vaksin belum diaplikasikan sehingga fluktuasi kasus masih mungkin terjadi," kata Joko, Senin (9/11/2020).

Dia menyontohkan potensi klaster baru pada kasus karyawan perusahaan telekomunikasi di Sleman. Kasus ini mirip yang terjadi pada ratusan karyawan perusahaan telekomunikasi di PT VADS. Kasus ini di-handle langsung oleh Satgas Covid-19 DIY.

Baca juga: Jenderal Inggris Sebut Pandemi Corona Bisa Picu Perang Dunia Ketiga

Alasannya, meskipun lokasi berada di Sleman namun karyawan yang terkonfirmasi berasal dari berbagai daerah. "Jadi di-handle langsung oleh provinsi karena melibatkan berbagai daerah," kata Joko.

Joko menjelaskan perusahaan telemarketing yang memiliki 141 karyawan ini berada di Kalurahan Caturtunggal, Kepanewon Depok. Kasusnya bermula saat salah seorang karyawan asal Magelang, Jawa Tengah tidak masuk kerja akibat terserang tifus dan opname pada 28 Oktober. Karyawan tersebut kemudian menjalani tes swab dan hasilnya positif Covid-19

Dinkes Sleman langsung melakukan tracing ke karyawan lainnya di perusahaan tersebut. Dari hasil tracing awal ke sejumlah karyawan terdapat 10 yang positif Covid-19. Tracing dilanjutkan ke karyawan lainnya sehingga saat ini total tercatat 22 karyawan yang positif Covid-19. "Pada 31 Oktober swab tracing pertama total swab 21 yang swab dan yang positif 11. Tanggal 6 November swab tracing kedua total swab 24 yang swab dan yang positif 11. Jadi total seluruhnya 22 orang di mana 13 orang warga Sleman," kata Joko.

Baca juga: Banguntapan Masih Zona Merah Covid-19, Ini Permintaan Camat

Direktur RSUD Sleman Cahya Purnama mengatakan melalui momentum HUT ke 43 RSUD Sleman akan terus berkomitmen meningkatkan inovasi pelayanan yang berkualitas serta pemanfaatan teknologi informasi yang mendukung pencapaian visi RSUD Sleman yaitu menjadi rumah sakit andalan masyarakat Sleman menuju Sleman Smart Regency 2021.

"Ini harus dilakukan karena kehadiran pemerintah di masyarakat dalam menangani pandemi Covid 19 dapat dilihat dari kesiapan pelayanan RSUD yang sudah ada," katanya.

Saat ini, RSUD Sleman memiliki gedung terpadu pelayanan Covid-19. Gedung baru yang diresmikan tersebut meliputi Laboratorium terpadu covid 19 yakni pemeriksaan Tes Antibodi Covid 19dan Swab PCR Covid 19 dengan alat TCM. Ada juga Gedung MRI (Magnetic Rsonance Imaging) yakni metode pemeriksaan yang dapat menghasilkan gambar organ yang lebih jelas termasuk untuk pemeriksaan tumor.

Di gedung ini juga dilengkapi dengan ruang CT Scan (Computerize Tomography Scan) yakni metode pemeriksaan yang aman dan cepat tanpa rasa sakit serta memiliki kualitas dan kedalaman yang lebih rinci sehingga citra organ lebih jelas.

"Kami juga memiliki Ruang dahlia yang merupakan ruang bedah bersalin untuk pelayanan persalinan Covid 19, dan Pelayanan tele medicine Talen yang merupakan inovasi layanan konusltasi online yang sangat diperlukan olah masyarakat disaat pandemi Covid 19 ini," kata Cahya.

RSUD Sleman, katanya, akan terus melakukan skrining yang ketat terhadap adanya potensi Covid 19. Selain itu, pihaknya juga memastikan bahwa area untuk bangsal perawatan pasien Covid 19 terpisah dengan pasien umum. "Peralatan medis juga terpisah, sehingga bangsal Covid bisa berdiri sendiri dan kita bisa melakukan infection control yang baik," ungkapnya.