Beri Motivasi Warga, Sunaryanta Berdialog dengan Peternak Selandia Baru

Cabup Gunungkidul Sunaryanta (berdiri) saat bersama sejumlah peternak Gunungkidul ketika dialog bersama Reza Abdul Jabbar, peternak asal Pontianak yang sukses di Selandia Baru melalui zoom meeting, Senin (9/11) (Harian Jogja - David Kurniawan)
10 November 2020 06:07 WIB Media Digital Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Kampanye unik diselenggarakan calon bupati (cabup) Gunungkidul nomor urut empat, Sunaryanta, Senin (9/11). Ia bersama-sama dengan puluhan peternak asal Gunungkidul menggelar zoom meting dan berdialog dengan Reza Abdul Jabbar, pengusaha ternak sapi sukses di Selandia Baru, asal Pontianak, Kalimantan Barat.

Dialog online ini diselenggarakan untuk memotivasi masyarakat untuk pengembangan peternakan di Gunungkidul. Menurut Sunaryanta, pangsa peternakan di Gunungkidul masih sangat luas karena belum digarap dengan baik. Pasalnya, kebutuhan daging masih banyak bergantung dari luar negeri sehingga ini jadi potensi yang bisa dikembangkan oleh masyarakat.

“Tidak usah banyak-banyak dengan pasokan daging 5.000 ton, nilainya sudah mencapai setengah triliun rupiah. Ini jadi peluang yang bisa dikembangkan dan menjadi salah satu visi misi saya,” kata Sunaryanta kepada wartawan, Senin.

Menurut dia, telekonferensi dengan Reza Abdul Jabar bertujuan memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang pengembangan ternak modern. Sunaryanta menyakini konsep pengembangan ternak yang dijalankan oleh pengusaha asal Pontianak ini bisa diterapkan dengan Gunungkidul. Keyakinan ini mengacu pada kondisi geografis antara Gunungkidul dengan Selandia Baru ada kesamaan. Yakni untuk mendapatkan air harus mengebor hingga ratusan meter.

“Tadi [kemarin] dipaparkan untuk mendapatkan air di Selandia Baru harus mengebor hingga mengebor 200 meter baru mendapatkan air. Saya pun yakin konsep peternakan modern, khususnya untuk pemotongan daging sapi bisa dikembangkan di Gunungkidul,” katanya.

Pendampingan

Salah seorang peserta yang hadir, Sukim mengaku senang dengan acara telekonferensi dengan peternak sapi sukses di Selandia Baru. Menurut dia, banyak ilmu yang didapatkan karena diberikan tata cara peternakan modern yang dikembangkan oleh pembicara. “Harapannya bisa didatangkan ke Gunungkidul untuk memberikan pelatihan dan pendampingan,” kata Sukim.

Menurut dia, peternakan sapi di Gunungkidul masih menggunakan cara-cara tradisional karena belum menjadi usaha. Sukim mengungkapkan ternak sapi masih bersifat tabungan oleh warga karena hasil yang diperoleh belum maksimal.

“Sekali jual harganya bisa mencapai Rp20 juta per ekor. Tetapi, untuk beli bibit harganya sudah mencapai Rp15 juta per ekor. Keuntungan Rp5 juta dihitung sama dengan biaya yang dikeluarkan untuk pemeliharaan,” katanya.