Angkat Potensi Daerah, Kemenperin Gencarkan Pembinaan IKM

Tulakir (kiri) saat melakukan kegiatan pewarnaan terhadap kerajinan tangan yang dibuatnya di rumahnya yang berada di Bokoharjo, Prambanan, Sleman, Kamis (2/4/2020). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
21 November 2020 17:37 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Kementerian Perindustrian terus mendorong pertumbuhan dan pengembangan IKM di seluruh penjuru Tanah Air. Program pembinaan di sentra IKM melalui pendekatan One Village One Product (OVOP) akan terus digalakkan.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Gati Wibawaningsih mengatakan setiap daerah di Indonesia memliki potensi masing-masing. Potensi yang dimiliki perlu dipoles dengan keunggulan komparatif, baik bahan baku sumber daya alam yang digunakan maupun keterampilan sumber daya manusianya.

"Oleh karena itu, untuk meningkatkan daya saing sektor IKM sesuai dengan keunggulan daerah, kami melaksanakan program pembinaan di sentra IKM melalui pendekatan One Village One Product [OVOP],” kata Gita melalui siaran pers yang diterima Harian Jogja, Sabtu (21/11/2020).

Baca juga: Keterserapan Rendah Jadi Penyebab Jatah Pupuk Bersubsidi untuk DIY Berkurang

Konsep OVOP tersebut, katanya, memiliki spirit untuk mendorong masyarakat agar dapat menghasilkan produk yang kompetitif dengan nilai tambah tinggi dan mampu bersaing di dunia. "Pendekatan OVOP tetap mengutamakan ciri khas keunikan karakteristik daerah tersebut dengan memanfaatkan sumber daya lokal, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia," katanya.

Ke depan, lanjut Gati, kegiatan pembinaan IKM melalui pendekatan OVOP akan fokus pada aspek yang dapat mendorong IKM go global, seperti inovasi dan pengembangan produk sesuai permintaan pasar, re-branding IKM OVOP, sehingga akan meningkatkan akses pasar bagi produk IKM OVOP. Sejak 2013, katanya Kemenperin memberikan Penghargaan OVOP kepada IKM yang memenuhi kriteria dan persyaratan sebagai IKM OVOP.

"IKM OVOP kemudian diklasifikasikan sesuai dengan hasil penilaian yang terbagi atas lima kelompok komoditas, yaitu makanan dan minuman, kain tenun, kain batik, anyaman, dan gerabah," katanya.

Baca juga: Masyarakat Kulonprogo Mulai Terbiasa Mencuci Tangan

Pada penyelenggaraan yang terakhir, terdapat 118 IKM OVOP yang memenuhi kriteria, terdiri dari 63 IKM komoditas makanan dan minuman, 22 IKM komoditas kain tenun, 13 IKM komoditas kain batik, 10 IKM komoditas anyaman, dan 4 IKM komoditas gerabah. Dari jumlah tersebut, terdapat empat IKM OVOP yang masuk kategori Bintang 5, yaitu PT. Tama Cokelat Indonesia dari Garut dengan produk cokelat dodol pada komoditas makanan dan minuman.

Selain itu, Tenun Antik Hj. Fatimah Sayuthi dari Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar dengan produk kain tenun pada komoditas kain tenun. Batik Winotosastro dari Jogja dengan produk kain batik pada komoditas kain batik, dan UD. Mawar Art Shop dari Kabupaten Lombok Barat dengan produk anyaman ketak pada komoditas anyaman.*