Obat & Vaksin Belum Tersedia, 3M Masih Efektif Cegah Covid-19

Tangkapan layar FGD bertajuk 3M Merupakan Vaksin yang Paling Ampuh Melawan Covid-19 yang digelar Harian Jogja, Jumat (27/11/2020). - Ist
28 November 2020 05:37 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA— Penerapaan perilaku memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan atau 3M masih efektif untuk diterapkan dalam mencegah penyebaran Covid-19 di tengah belum tersedianya obat dan vaksin.

Guru Besar Farmasi UGM Profesor Zullies Ikawati mengakui hingga saat ini belum ada obat khusus untuk Covid-19. Menurutnya obat baru akan dinyatakan efektif jika sudah ada hasil uji klinis kepada manusia secara ketat untuk menjamin keamanan dan keselamatan. Selain itu harus mengacu standar yang berlaku agar hasilnya bisa diterima oleh negara lain. Bisa saja hasil uji klinik dari negara lain kemudian diakui oleh BBPOM di Indonesia.

“Hasil uji klinik itu nantinya akan dikirim ke badan uji regulator, kalau di Indonesia itu BBPOM, di Amerika FDA [Food and Drug Administration], mereka bertugas mengevaluasi keamanan dan kemanjurannya. Ketika sudah dinyatakan aman dan efektif dari data tersebut maka akan mendapatkan izin edar dan baru didistribusikan ke publik,” ungkapnya dalam FGD bertajuk 3M Merupakan Vaksin yang Paling Ampuh Melawan Covid-19 yang digelar Harian Jogja, Jumat (27/11/2020).

Baca juga: Banyak Ponpes di Jogja Terpapar Corona, Pengurus Diminta Pulangkan Santri yang Sehat

Zullies mengatakan karena obat dibutuhkan dalam waktu cepat, maka pembuatannya pun tidak dari tahap sangat awal karena butuh waktu lama. Oleh karena itu bentuknya dengan menggunakan obat yang sudah beredar diujicobakan untuk Covid-19. Kendalanya pada keterbatasan fasilitas, mengingat harus menggunakan laboratorium tingkatan Biosafety Level 3, laboratorium jenis ini sangat jarang ditemukan di Indonesia.

“Saya harus mengatakan sejujurnya bahwa belum ada obat berasal dari Indonesia sebagai antivirus Covid-19. Tadi yang dikatakan pertama obat merah putih, itu kan aslinya bukan dari Indonesia,” katanya.

Hal yang sama juga terjadi pada vaksin. Hingga saat ini belum ada vaksin buatan Indonesia, karena saat ini masih dalam proses. Dalam hal vaksin bisa dilakukan dengan dua acara, yaitu jangka pendek melalui kerja sama dengan pihak mitra dan untuk jangka panjang yang saat ini sedang disusun.

“Vaksin ini bisa berasal dari proteinnya, bisa dari virus yang diinaktivasi, ada yang virus yang dilemahkan, tidak semua sama. Yang ada di Indonesia, dalam hal ini Sinovac adalah inaktivasi, cara pemberiannya dua kali penyuntikan dengan jarak waktu dua pekan. Pengembangan vaksin di dunia sudah ada 160 lebih tetapi masih dalam tahap sangat awal,” ujarnya.

Dosen FKKMK UGM Mohamad Saifudin Hakim menambahkan testing dan tracing hingga saat ini masih efektif untuk melakukan deteksi dini Covid-19. Dinas Kesehatan memang menjadi petugas paling sibuk dan melelahkan untuk menangani kontak tracing guna menghentikan penyebaran. Apalagi saat ini tidak mudah untuk membujuk warga agar bersedia mengikuti tes swab. Sehingga edukasi pentingnya swab harus terus dilakukan.

Baca juga: Presiden Brazil Tegaskan Tak Mau Disuntik vaksin Covid-19

Maka upaya mencegah agar orang sehat tidak terpapar Covid-19 ini harus terus dilakukan, supaya tidak menimbulkan sumber penularan baru. Karena jika dibiarkan situasi Covid-19 di Indonesia semakin tidak terkendali. Beberapa waktu lalu, kata dia, laboratorium FKKMK UGM menghasilkan dalam sehari rata-rata swab positif nyaris 50% atau setengah dari jumlah sampel yang diperiksa.

“Ini adalah kondisi paling buruk selama kami melakukan running laboratorium PCR sejak delapan bulan lalu. Sebelumnya tidak pernah mendapati ada jumlah hasil PCR 50 persen positif, di awal hanya sekitar 10 persen. Rata-rata nasional positif rate kita 15 persen,” ucapnya.

Ia mengatakan layanan fasilitas kesehatan harus dilakukan secara selektif untuk mengantisipasi rumah sakit penuh. Sehingga seperti OTG tidak perlu dirawat di rumah sakit, melainkan cukup di selter agar tidak menganggu batas layanan kesehatan. “Pemerintah sudah berkali-kali mengingatkan bahwa harus memakai masker, jaga jarak tetapi tidak semua masyarakat menerapkannya,” kata dia.

Asisten Dosen dan Peneliti Prodi MDKIK UGM Satria Aji Imawan menilai meski nantinya vaksin sudah tersedia, bukan perkara mudah untuk mendistribusikan. Prioritas pemberian vaksin tergolong susah, apalagi nantinya tidak diberikan secara gratis, paling tidak dalam bentuk subsidi. Sehingga masih timbul pertanyaan siapa yang akan mendapatkannya, apakah kelompok kurang mampu, orang tertular atau lain, pilihannya hanya pada populasi atau struktur sosial ekonomi.

“Kalau vaksin sudah ada nanti pendistribusiannya bagaimana, datanya bagaimana, kemarin saat pendistribusian bansos saja pakai data 2015, padahal penduduk selalu berubah. Nantinya akan jadi problem ini,” katanya.

Ia mengingatkan sebulan lagi akan memasuki libur akhir tahun, ini harus jadi momentum untuk menggugah kesadaran masyarakat bahwa pandemi belum berakhir. Libur panjang dikhawatirkan bisa memicu peningkatan kasus secara signifikan, maka saat masyarakat, pemerintah dan swasta berkolaborasi melakukan penanganan.

“Bagaimana protokol saat libur akhir tahun, kita sudah punya pengalaman saat libur lebaran semua tertib sepi berada di rumah.”

Menurutnya perilaku 3M seperti mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak masih efektif untuk mencegah penyebaran Covid-19. Hal itu berkaca dari wabah sebelumnya seperti SARS dan MERS yang bisa terkendali melalui penerapan protokol kesehatan yang ketat.

“Persoalannya karena SARS-Cov2 [virus corona] ini menimbulkan gejala ringan mayoritas kasus, Ketika ornag terinfeksi dan tidak ada gejala dia merasa dirinya tidak terinfeksi masih bisa kemana-mana, tidak merasa butuh ke rumah sakit,” ujarnya.