Pasien Luar Daerah Berdatangan, Penyebab Ruang Isolasi di Jogja Penuh

Foto ilustrasi. - Reuters
02 Desember 2020 20:27 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Prosentase penggunaan tempat tidur atau bed rumah sakit rujukan Covid-19 yang nyaris di angka 100 persen, mendesak Satgas Penanganan Covid-19 Kota Jogja menambah jumlah bed yang ada. Keputusan ini diketok pasca Rakor Penanganan Covid-19 dengan rumah sakit se-Kota Jogja pada Rabu (2/12/2020).

Ketua Harian Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kota Jogja, Heroe Poerwadi menyampaikan salah satu keputusan hasil rakor dengan petinggi beberapa rumah sakit rujukan Covid-19 yakni penambahan jumlah bed untuk penanganan pasien Covid-19. Jumlah penambahan tergantung dari ketersediaan dan kepadatan pasien. "Dari tujuh rumah sakit rujukan ada komitmen tambahan 68 bed. Mencakup ICU dan ruang isolasi," jelas Heroe.

Heroe secara tegas mengatakan jika penambahan bed tetap mengikuti persyaratan tempat tidur bagus pasien Covid-19 yang ditentukan dan layak digunakan pasien. Dia juga menyebutkan jika tujuh rumah sakit rujukan di Kota Jogja juga siap menyiapkan diri jika sewaktu-waktu Satgas Penanganan Covid-19 Kota Jogja meminta banyak lagi bed bila dimungkinkan.

Namun Heroe menyoroti jumlah pasien dirawat di rumah sakit rujukan yang merupakan warga Jogja. Berdasarkan catatannya dari 149 bed yang tersedia 95 persen atau sekitar 141 bed diantaranya saat ini telah terisi. Namun dari jumlah tersebut kata Heroe hanya 43 orang yang merupakan warga Kota Jogja, sedangkan sisanya merupakan pasien rujukan dari luar kota bahkan luar provinsi.

Penambahan 68 bed ini, menambah kapasitas total bed yang ada di Kota Jogja menjadi 217 bed. Ditambahkan Heroe, berdasarkan surat edaran Dirjen Pelayanan Kesehatan, tertanggal 27 November, daerah diminta mengaloksi 30 persen dari kamar yang ada dari rumah sakit rujukan yang asa jikalau diperlukan untuk penanganan Covid-19. "Total kamar sekitar 1377 bed yg ada di tujuh rumah sakit rujukan. Mislanya nanti, kami terpaksa menyiapkan 30 persen dari itu ya harus disipakan. Komimtmen seluruh pemimpin rumah sakit sudah menyiapkan itu jikalau dibutuhkan," tandasnya.

Salah satu pertimbangan tambahnya 68 bed didasarkan pada menampung nakes maupun dokter yang tersedia. Sehingga penambahan kamar sudah mempertimbangkan jumlah SDM yang ada di masing-masing rumah sakit. "Karena itu sudah mempetimbangkam nakes maupun dokter yang tersedia di masing-masing RS. Sehingga mereka menambah kamar itu sudah mempertimbangkan kemampuan SDM, jadi tidak asal nambah. Jadi nambah dengan perhitungan kamarnya standar memenuhi [syarat], kedua SDM ada yang menangani. Kalau sekadar nambah bisa lebih banyak lagi, tapi kemampuan SDM perlu diperhitungkan," tegasnya.

Heroe berpendapat dengan kondisi yang ada saat ini belum diperlukan rumah sakit darurat. Kecuali peningkatan pasiennya tinggi sementara keersediannya kurang. "Kita dari sisi zona, zonanya masih zone oranye. Mungkin di sekitar Jogja ada yang yang zona merah. Mau tidak mau kita harus mempersiapkan [stategi], mana kala terjadi hal yang mendesak," ujarnya.