Lansia Diharapkan Tetap Produktif di Usia Senja

Lansia mengikuti wisuda setelah menjalani Sekolah Lansia. - Ist/diy.
03 Desember 2020 06:27 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—DIY memiliki program Sekolah Lansia yang menghasilkan produktivitas lansia di usia senja atau setidaknya bisa mengurus diri sendiri. Program ini menjadi percontohan oleh provinsi lain di Indonesia karena manfaatnya. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) DIY menggelar wisuda Sekolah Lansia tersebut setelah mengikuti proses Pendidikan selama sekitar delapan bulan.

Wakil Gubernur DIY Sri Paduka Paku Alam X menjelaskan jumlah lansia di DIY sudah mencapai 13% hingga 15% dari total jumlah penduduk. Penambahan penduduk lansia di DIY karena diikuti usia harapan hidup yang tinggi yaitu mencapai 74 tahun atau di atas rata-rata nasional. Beberapa persoalan yang masih dihadapi, seperti kualitas gizi, sanitasi serta dukungan lingkungan sehat, yang kemudian menjadi beberapa hal prioritas yang wajib diwujudkan.

BACA JUGA : Lansia di Pengungsian Keluhkan Pusing, Gatal hingga Sakit

Pihaknya berharap bagi lansia yang telah diwisuda menjadi insan mandiri dan produktif dalam kehidupan.  Lansia yang tangguh, sehat dan tetap produktif adalah salah satu pilar menjaga eksistensi bangsa. Mengingat penduduk lansia merupakan bonus demografi kedua bagi Indonesia.

“Kami percaya, banyak peran yang dapat dilakukan oleh para lansia, diiringi tekad memajukan keluarga, masyarakat dan bangsa. Kami juga mengapresiasi lansia yang telah aktif mengikuti proses pembelajaran dan mampu mengikuti seluruh materi yg disampaikan sesuai dengan tingkatannya,” ungkapnya melalui sambutan pelaksanaan Wisuda Sekolah Lansia, Rabu (2/12/2020).

Kepala Perwakilan BKKBN DIY Ukik Kusuma Kurniawan menambahkan program sekolah lansia merupakan satu-satunya di Indonesia yang diinisiasi oleh DIY. Beberapa provinsi mulai tertarik untuk dapat menerapkan sekolah lansia. “Konsep sekolah lansia ini original asli dari DIY, provinsi lain belum ada, rupanya provinsi lain mulai tertarik, bahkan BKKBN pusat juga tertarik untuk mengadopsi, jadi ini pioner,” katanya.

BACA JUGA : Ratusan Lansia di Pengungsian Merapi Mengeluh Sakit 

Pihaknya berkolaborasi dengan Indonesia Ramah Lansia (IRL) dalam menjalankan Sekolah Lansia, di Gunungkidul dan Bantul masing-masing ada 50 lansia dan Kulonprogo dengan 90 lansia. Namun karena harus memenuhi protokol kesehatan tidak semua lansia ikut menjalani wisuda. Tiga sekolah lansia ini sebelumnya merupakan hasil pencanangan tujuh center of excellence dari Kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL).

“Mereka sudah dibekali sejenis penyuluhan terstruktur, kami sudah mempunyai standar agar lansia bisa mengikuti sekolah. Standar 1 ada kurikulum bentuk implementasi lansia tangguh. Standar 2 dan 3 dengan kurikulum lebih tinggih diarahkan ke skill. Standar 1 itu ada 12 materi misalnya terkait aspek eksehatan, diajarkan langsung senam lidah, senam diabetes,” katanya.

Direktur Eksekutif IRL Dwi Endah mengatakan dalam melakukan pendampingan, pihaknya berusaha memberikan ide dan menjalankan Sekolah Lansia ini agar lansia tidak sebagai objek, namun bisa menjadi subjek untuk produktif. Gelaran sekolah pun tidak dilaksanakan secara formal, melainkan lebih bersifat penyuluhan dengan penuh kegembiraan sehingga lansia dapat terhibur.

“Sekolah ini diedukasi dengan cara menyenangkan. Banyak materi life skill, ke pengetahuan seperti untuk merawat diri, bukan cuma pengetahuan aspek emosional. Ternyata beliau senang,” ujarnya.

BACA JUGA : Lansia Tergeletak di Pinggir Jalan, Ternyata Sudah Tak

Salah satu peserta wisuda Sekolah Lansia Imam Sujai Fadli mengatakan pihaknya merasa mendapatkan kegembiraan tersendiri melalui Sekolah Lansia karena bisa bertemu dengan lansia lain. Ia sepakat bahwa di usia senja tersebut harus menggelar kegiatan yang lebih bermanfaat.

“Mendapatkan motivasi tersendiri, mengikuti untuk memanfaatkan usia yang sudah senja, banyak bergaul sehingga lebih enjoy, kumpul sesama lansia,” kata pria berusia 65 tahun ini.