Video Maping di Peresmian Pasar Prawirotaman Pukau Penonton

Pasar Prawirotaman. - ist.
07 Desember 2020 05:57 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Peresmian Pembangunan Gedung Pasar Prawirotaman pekan lalu sukses bius para penonton. Video maping yang usung cerita prajurit Prawirotaman menarik animo masyarakat.

Pertunjukan video maping di bangunan Pasar Prawirotaman makin membuktikan bagaimana restorasi pasar sukses dilakukan. Pasar Prawirotaman barangkali menjadi satu-satunya pasar yang mampu mewadahi potensi kesenian semacam video maping. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jogja, Yunianto Dwi Sutono menjelaskan pertunjukan video maping dapat disaksikan secara langsung maupun melalui Youtube Pemkot Jogja. 

Secara teknis Yunianto menjelaskan jika video maping akan ditembakkan melalui proyektor ke arah tembok gedung sisi barat Pasar Prawirotaman dengan luasan kurang lebih 6,5 x 15 meter. Gambarnya yang luas, membuat warga dapat menyaksikan secara langsung di depan pasar. "Gedung Pasar Prawirotaman sudah selesai maka konsep dengan video maping dengan menggunakan dana istimewa yang mana satu paket dengan pembangunan lantai empat Pasar Prawirotaman," jelasnya. 

Yunianto menceritakan video maping mengambil tema Bregada Prawirotama. "Memang Prawirotaman ada Bregada Prawirotaman, menggambarkan bahwa disaat kondisi pagebluk dalam hal ini pandemi Covid-19 tetap bisa eksis dan tetap bisa melaksanakan aktivitas dengan adanya momentum dibangunnya Pasar Prawirotaman ini sebagai memabantu para masyarakat sekitar Pasar Prawirotaman. Pasar Prawirotaman ini momentum segara bangkit tentunya di bidang perekonomian. Diimplementasikan dalam semacam cerita fragmen yang dituangkan dalam video maping berdurasi tujuh menit dan diputar secara berulang atau looping," ungkapnya.

Salah satu penonton video maping lulusan ISI Jogja, Catur yang tinggal di Minggiran mengaku peresmian pasar dengan video maping terbilang baru dan sangat menarik. Catur juga menyoroti gambar yang ditayangkan video maping juga bagus. "Bagus ada video maping kaya gini, gambarnya juga bagus dan gambar-gambarnya mewakili tempat ini kan dia kan bercerita tentang prajurit Prawirotaman kalau enggak salah itu untuk pembukaan seremoninya bagus," tuturnya.

Menurut Catur, video maping yang ditampilkan bagus meski gambar dipantulkan pada bangunan yang banyak pilarnya dan bentuk konstruksi semacam itu. "Menurutku itu gambarnya mungkin enggak begitu kelihatan, tapi maksudnya seremoni dengan video maping kaya gini bagus," ujarnya.

Kendati Catur belum pernah memasuki Pasar Prawirotaman sebelumnya, namun adanya co-working space di lantai empat dengan pasar tradisional di lantai bawahnya, menurutnya adalah konsep yang sangat bagus. "Karena menjadikan satu tempat jadi satu, antara tradisional dan modern jadi satu. Jadi kaya one stop untuk bertemu yaitu di pasar. Harapannya, karena ini tempatnya salah satu strategis di Kota Jogja ku pikir besar harapannya orang menjadikan tempat ini lebih berguna apalagi fasilitas yang ada di lantai empat," ungkapnya.

Sementara itu warga lainnya asal Prawirotaman, Sasmini bersama anaknya mengaku senang atas pertunjukan video maping yang ditampilkan.

"Kalau saya senang, bagus, lebih meriah, [pertunjukan video maping], dari tadi memang pengen nonton pertunjukan," ujarnya. Menurutnya bangunan pasar juga jebih bagus saat ini bila dibandingkan dengan sebelumnya. "Ya harapannya kedepannya ekonomi pedagang lebih baik ada kemajuan. Usul kedepan diadakan pertunjukan lagi kaya gini," tukasnya. 

Video maping pekan lalu hanya awal dari berbagai kegiatan kreatif lainnya yang bisa dilaksanakan di rooftop Pasar Prawirotaman. Kepala UPT Bisnis, Disperindag Kota Jogja, Sri Riswanti menuturkan saat ini stan ekraf baru pada tahap proses pengisian gerai. "Kalau tenannya sudah ada beberapa dan ini masih proses kurasi, baru nanti kita running perjanjian sewa per 1 Januari," terangnya.

Riswanti menambahkan jika tenan di lantai empat butuh pengungkit dan masyarakat agar mau naik gerai ekraf dengan pusat kuliner yang telah dikenal. Akan tetapi tenan kuliner harus bernuansa nusantara. "Misal jajan kopi juga kopi nusantara. Kalau bisa ya produk lokal Jogja," ujarnya.

"Lantai empat dan sunset view yang jadi andalan untuk nenarik perhatian masyarakat. Lantai empat itu diharapkan bisa jadi satu ekosistem ekraf untuk mendukung pertumbuhan ekraf di kota Jogja dengan fokus untuk mini studio digital, coworking space, afiliasi ekraf untuk membuka usaha ada banyak fasilitas, termasuk kemudahan akses permodalan, perizinan dan pelatihan," katanya.