Pasar Prawirotaman yang Dulu Bukanlah yang Sekarang, Kini Belanja Lebih Nyaman dan Modern

Beberapa penjual daging ayam berada di Pasar Prawirotaman pada Jumat (18/12/2020). - Harian Jogja/Sirojul Khafid
19 Desember 2020 11:47 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Revitalisasi besar Pasar Prawirotaman telah selesai. Kini banyak fasilitas baru, mulai dari eskalator, pembayaran digital, sampai ruang untuk ekonomi kreatif. Seperti apa suasana pasar dan keadaan pedagang saat ini? Berikut laporan reporter Harian Jogja, Sirojul Khafid.

Hujan sedari pagi tidak menggelisahkan Sri Widodo, 49, salah satu pedagang di Pasar Prawirotaman. Kini keadaan pasar telah membaik. Tidak ada lagi atap bocor atau tanah becek apabila hujan.

Keadaan berbeda bisa saja terjadi, terutama sebelum pasar direvitalisasi. Sri akan melayani pembeli sembari mendengar komplain tentang air yang menggenang atau pasar yang kotor. “Soalnya kalau hujan, kayak lautan,” kata Sri saat ditemui di kiosnya pada Jumat (18/12/2020).

Sebagai penjual sembako, Sri menempati kios di lantai satu. Selain sembako, di lantai satu terdapat pula penjual daging di sisi timur dan tahu tempe di sisi selatan. Eskalator terdapat di bagian tengah gedung. Untuk lift berada di pojok gedung sebelah timur.

Baca juga: Penyintas Covid-19 Sebaiknya Tidak Lengah & Tetap Lindungi Diri

Fasilitas eskalator dan lift merupakan hal baru di Pasar Prawirotaman. Walau terkesan nyaman, tidak semua orang mau menggunakan eskalator atau lift. “Terutama yang udah tua pada takut kalau mau belanja ke atas, takut mau naik eskalator,” kata Sri yang sudah berjualan sejak tahun 90-an.

Sejak menempati bangunan baru, Sri juga belum pernah melayani pelanggan yang tua. Padahal sebelumnya banyak simbah-simbah yang menjadi pelanggannya. “Ada perubahan [jenis pelanggan], kayaknya belum ada orang tua yang belanja di sini, umur di atas 60 tahun belum ada,” kata Sri.

Secara suasana, Sri lebih nyaman dengan gedung setelah revitalisasi. Selain nyaman untuk berjualan, banyak pembeli yang juga senang karena bersih. Secara pendapatan, dia belum bisa membandingkan lebih baik atau buruk dari keadaan sebelumnya. Sri baru berjualan tiga hari, jadi belum bisa memberi kesimpulan. Tantangan Sri saat ini mencari kembali pelanggan yang biasanya membeli dagangannya.

Meskipun baru memulai jualannya, Sri mendapat keuntungan lantaran berada di lantai satu. Kondisinya cenderung ramai karena lantai satu merupakan tempat pertama kunjungan pembeli setelah keluar dari parkir di basement.

Baca juga: Ini 9 Tanda Masalah Jantung yang Sering Diabaikan

Apabila beranjak dari lantai satu menuju eskalator, terlihat petugas keamanan yang berjaga. Dari total empat lantai, di setiap tingkatnya terdapat petugas keamanan. Hal ini pula yang Sri senangi dari gedung baru. Sebelum pembangunan, keamanan di Pasar Prawirotaman kurang terjaga. “Dulu banyak copet. Tas ditinggal ke mushola bisa diambil orang. Sekarang keamanan lebih ketat dan lebih bagus,” kata Sri.

Berjalan di Pasar Prawirotaman seakan berada di mall. Tingkat kebersihan dan keteraturannya masih terawat. Walau tentu ada yang berbeda, seperti bau-bauan yang tercium. Kecil kemungkinan di mall tercium bau daging ayam, tempe, tahu, mrica, jahe dan lainnya. Kecil kemungkinan pula Anda mendengar transaksi tawar menawar, atau sekadar percakapan ringan sesama pedagang yang menawari makanan. Pasar tradisional macam Prawirotaman memang erat kaitannya dengan interaksi masyarakatnya.

Interaksi sebagai salah satu unsur pasar sempat pula disingguh oleh Gubernur DIY Sultan HB X. Dia mengatakan bahwa revitalisasi Prawirotaman jangan sebatas fisik. Perlu pula revitalisasi secara sosial dan ekonomi.

“Revitalisasi sosial agar pasar rakyat menjadi pusat interaksi sosial masyarakat setempat. Dalam sesanti Jawa disebutkan pasar yang ora ilang kumandange, tidak kehilangan kemasyurannya sebagai tempat interaksi sosial budaya masyarakat lokal,” kata Sultan HB X dalam peresmian Pasar Prawirotaman secara virtual pada Jumat (18/12/2020).

Baca juga: Anggaran Rumah Bersubsidi Tahun Depan Rp9,1 Triliun & Disalurkan 30 Bank

Eksistensi pasar rakyat bukan hanya sebagai tempat transaksi, tapi juga berperan penting dalam peradaban, aspek sosial budaya, seni, dan kuliner yang menggambarkan ciri khas suatu daerah.

Sementara revitalisasi pasar secara ekonomi berupa peningkatan pendapatan dan akses pedagang terhadap pembiayaan dan sumber produk. Menurut Sri Sultan HB X, pasar rakyat merupakan sarana perdagangan dan titik distribusi strategis dalam pengawalan harga dan menjaga inflasi.

Selama perjalanannya, pasar tradisional memiliki banyak tantangan, termasuk modernisasi dan munculnya pasar online. Kini pasar tradisional perlu beririsan dengan teknologi untuk ambil bagian dalam rantai perdagangan. “Pasar rakyat harus meningkatkan keunggulannya, misal berciri khas sebagai pasar spesialisasi komoditi tertentu. Kita harus siap akan potensi ancaman. Akan mati jika tidak ada payung hukum yang konsisten,” kata Sultan HB X.

Di hari peresmian, Asisten Umum Sekretariat Daerah Kota Yogya, Edy Heri Suasana telah mencoba berbelanja di Pasar Prawirotaman. Dia membeli tempe dan membayarnya secara online. Di bagian depan kios, setiap pedagang menyediakan barcode untuk transaksi secara online.

Edy berharap ke depan semua pasar tradisional tertata seperti Pasar Prawirotaman. “Dengan demikian masyarakat semakin akrab dengan pasar modern, pasar tradisional dengan nuansa modern. Apabila melihat di sini [Pasar Prawirotaman] tidak ubahnya seperti mall,” kata Edy.

Selain pasar yang menjual berbagai barang di lantai satu sampai tiga, Pasar Prawirotaman lantai empat memiliki ruang untuk ekonomi kreatif. Ada berbagai fasilitas bagi masyarakat berupa studio foto, musik, podcast, penyuntingan, ruang rapat dan seminar, ruang anak, ruang laktasi dan lainnya. Di bagian luar juga ada ruang untuk berjualan makanan. Di teras samping, ada beberapa kursi dan meja untuk menikmati pemandangan matahari tenggelam.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Pusat Bisnis Beringharjo, Sri Riswanti mendedikasikan bangunan lantai 4 Pasar Prawirotaman menjadi tempat untuk berkumpul para pelaku ekonomi kreatif. “Untuk bisa bertemu dan saling bertukar wawasan. Selama ini [pelaku ekonomi kreatif] terkendala dengan regulasi, akses perizinan, keterbatasan waktu, dan akses permodalan,” kata Riswanti pada Jumat (18/12/2020).

Pembangunan lantai 4 Pasar Prawirotaman ini sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) pemerintahan Presiden Jokowi yang mengutamakan ekonomi kreatif. Dari 17 subsektor yang menjadi sasaran, sebelas di antaranya ada di lantai 4 Pasar Prawirotaman. “Lantai 4 dikhususkan pelayanan industri kreatif. Dari 17 subsektor, di sini ada sebelas subsektor seperti kuliner, musik, seni pertunjukan, kriya, fashion, dan lainnya,” kata Riswanti.

Satu hal yang perlu Riswanti upayakan adalah membuat para pengunjung mau ke lantai empat. Tidak semua masyarakat mau untuk datang ke lantai empat dengan melewati banyak lantai. Ke depan, Riswanti akan menyediakan gerai makanan agar pengunjung tertarik. Setelah tertarik dengan makanan, setidaknya pengunjung bisa tahu ada layanan untuk ekonomi kreatif. Harapannya pengunjung akan tertarik dan menggunakan fasilitas itu.

Anggapan bahwa tidak semua pengunjung mau ke lantai empat tentu bukan tanpa alasan. Apabila Riswanti baru menerka-nerka, Ruminah, 55, telah mengalaminya. Kios buahnya yang berada di lantai tiga sepi pengunjung. “Kalau di sini [lantai tiga] orang enggak mau naik, pada males,” kata Ruminah.

Sejak menempati kios di lantai tiga, penghasilan Ruminah hanya sepertiga daripada biasanya. Menurut Ruminah, pembeli tidak mau repot-repot beli buah sampai di lantai tiga. Penjual buah-buahan banyak di pinggir jalan. Mereka lebih memilih beli di pinggir jalan walaupun harganya lebih mahal. Berbeda dengan tempe yang jarang dijual di pinggir jalan, pembeli tetap akan berkunjung ke pasar untuk mendapatkannya.

“Kalau buah jangan di lantai [3] atas, paling tidak di lantai dua. Lantai atas itu untuk pakaian atau makanan kering. Kalau buah bawanya juga berat, lebih baik di lantai satu atau dua,” harapan Ruminah pada pengelola pasar.

Selain terkait penempatan dagangan, Ruminah merasa bahwa suasana dan fasilitas di Pasar Prawirotaman sudah nyaman. Begitupula yang dirasakan oleh Tri Rahayu, 58, salah satu pembeli di Pasar Prawirotaman. Di sisi lain, lantaran gedung baru, dia masih bingung terkait letak jenis barang.

Adanya eskalator dan lift juga memudahkan Rahayu dalam berbelanja. “Enak, enggak capek. Suasananya kaya di mall,” kata Rahayu yang sebelumnya sering berbelanja di Pasar Prawirotaman.