Kisah Para Penyintas Covid-19: Usaha Bangkit dari Keterpurukan Mental

Ilustrasi - Pixabay
24 Desember 2020 11:27 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Penyintas Covid-19 harus berjuang untuk melanjutkan hidup. Selain fisik yang membutuhkan pemulihan, kondisi psikis mereka juga punya beban tidak kalah berat. Bagaimana kisah para penyintas Covid-19? Berikut laporan wartawan Harian Jogja Sirojul Khafid.

“Kamis malam pindah ke Rumah Sakit Sardjito. Kondisi tidak membaik,” kata Nelly Tristiani saat menceritakan suaminya yang terkena Covid-19. “Dan ya, beliau bertahan sejak masuk pada hari Kamis. Pada hari Selasa jam 10.51 WIB, Allah ternyata lebih sayang dengan dia.”

BACA JUGA: Gedung Tertinggi di Indonesia Beroperasi pada 2021

Nelly bercerita dengan sesekali menahan tangisnya. Mungkin dia tidak membayangkan, kebersamaan dengan suami di rumah sakit (RS), sebagai pasien positif Covid-19, adalah kebersaaan terakhir mereka. Keduanya masuk secara bersama pada suatu hari Senin di RS Umum Daerah Jogja. Sejak awal masuk, suami Nelly, mendiang Agus Sudrajat, mantan Kepala Dinas Sosial Kota Jogja, mewanti-wanti RS untuk membuat mereka satu ruangan.

Dengan bantuan berbagai pihak, keinginan itu bisa terkabul. Nelly dan suaminya bersama di satu ruangan yang sebenarnya untuk perempuan hamil yang positif Covid-19. Kala itu, ruangan khusus pasien Covid-19 penuh. Senin sampai Rabu mereka masih satu ruangan. Mulai Rabu, Agus mulai membutuhkan bantuan oksigen. Di hari yang sama juga, ada ruang kosong. Atas anjuran RS, suami Nelly perlu pindah kamar.

“Rabu pisah kamar. Sepertinya berat sekali almarhum untuk berpisah. Selama waktu tiga jam menuju pisah, tampaklah emosinya, sulit untuk pisah. Tapi saya mencoba menguatkan,” kata Nelly yang juga Kepala Bidang Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan, Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY. 

Sejak berpisah, komunikasi mereka hanya melalui video call. Itu pun tergolong susah. Kala itu, Agus sudah menggunakan bantuan alat oksigen untuk bernafas. Saat menggunakan alat oksigen, suara suami Nelly tidak begitu jelas. Sementara saat alat oksigen itu dilepas, kondisnya tidak begitu baik. Nelly meminta suaminya untuk tetap menggunakan alat oksigen, dia yang akan lebih sering bicara. Napas Agus saat itu mulai pendek-pendek, tanda yang tidak begitu baik.

BACA JUGA: Almarhum Kepala Dinas Sosial Jogja Diduga Tertular Covid-19 dari Istrinya

Semua berawal dari sebelas hari sebelum meninggalnya Agus Sudrajat. Kala itu, Nelly pulang dari Purbalingga setelah menghadiri permakaman ayahnya. Selain ke makam, Nelly tidak pergi ke mana-mana lagi. Dia pulang ke Jogja dan tiba pada Minggu sore.

Esok harinya, Nelly merasa tidak enak badan. Namun dia tidak mengira terkena Covid-19. Panas tubuhnya tidak terlalu tinggi. Tidak ada pula gejala batuk. Hanya badan dan bagian tenggorokan yang terasa tidak enak dari biasanya. Hari Senin itu Nelly masih bekerja. Dia makan permen saat mengisi acara di desa yang mengharuskannya banyak bicara, dengan harapan kondisi tenggorokannya membaik.

Masuk Selasa, Nelly dipaksa oleh Agus untuk tidak usah masuk kerja. Sejak saat itu, Nelly dan seluruh anggota keluarga menerapkan protokol kesehatan, berjaga-jaga apabila dia terkena Covid-19. Nelly meminta semua anggota keluarga untuk menjauh dan menerapkan isolasi mandiri.

“Walau hanya merasa sakit flu biasa, saya isolasi di kamar. Saya juga memaksa suami untuk tidak mendekat, untuk tidur sendiri. Tapi almarhum dan saya tidak pernah terpisah, sehingga almarhum memaksa tidur dalam satu kamar.”

Guna meminimalkan ancaman penyebaran penyakit, Nelly menggunakan dua masker. Begitupun suaminya yang menggunakan masker saat tidur. Nelly beranggapan tidur dalam satu kamar itulah yang membuat suaminya tertular penyakit.

Dua hari kemudian, suami Nelly merasa tidak enak badan. Gejalanya tidak begitu berat. Sehari setelah merasa tidak enak badan, Agus dipaksa istrinya untuk tidak usah masuk kerja. Hari itu hanya Nelly yang masuk kerja.

BACA JUGA: Diego Maradona Dinyatakan Bersih dari Zat Terlarang Jelang Meninggal Dunia

Kabar yang tidak bagus terdengar saat Nelly berada di kantor. Salah satu stafnya positif Covid-19. “Saya pulang dari kantor dan sadar mungkin saya juga kena Covid-19,” kata Nelly.

Sabtu, Nelly dan suaminya memutuskan untuk tes swab. Sampai hari Senin, hasil belum keluar. Saat itu kondisi penciuman Nelly masih bagus, hanya memang sedikit lemas. Nelly kemudian mengajak Agus ke RS.

“Suami saya tidak mau ke RS. Merasa gejalanya tidak begitu berat. Dia kasihan sama orang lain yang membutuhkan ruang [untuk perawatan] di RS. Kalau kami ke sana, sementara masih bisa bertahan, kasihan orang lain yang tidak bisa masuk,” kata Nelly sembari menirukan ucapan suaminya.

Namun Nelly tetap saja ingin masuk RS. Dia sampai perlu konsultasi dengan temannya yang seorang dokter. Atas berbagai pertimbangan, akhirnya suami Nelly mau masuk RS. Kejadian itu adalah momen kebersamaan terakhir Nelly dengan suaminya.

BACA JUGA: Pemda DIY Tegaskan Kewajiban Rapid Antigen Bukan Persulit Wisatawan

Apabila Nelly tidak mengalami gejala yang berat, berbeda dengan Bambang Mintosih. Sekitar akhir November 2020, dia mengalami demam tinggi, pusing, serta mulut yang terasa pahit. Dia sempat periksa di klinik. Hasil pemeriksaan menyatakan Bambang hanya kelelahan biasa. Sayangnya, dua hari berselang, sakitnya tidak membaik.

Untuk memastikan kondisi, Bambang melakukan rapid test. Hasilnya non reaktif. Namun tetap saja, kondisi tubuhnya tidak kunjung membaik, justru semakin parah. Sampai pada suatu saar, Bambang tidak mau makan sama sekali.

Akhirnya Bambang periksa di tempat lain. “Saya periksa ke RS lain, dengan harapan bisa opname. Saya sudah tidak kuat, lemas, dan enggak mau makan sama sekali,” kata Bambang yang juga merupakan sukarelawan Covid-19.

Di rumah sakit Bambang melakukan rapid test lagi. Hasilnya reaktif. Tapi dia tidak bisa langsung mendapat perawatan. Saat itu semua ruangan sudah penuh. Baru dua hari setelah melakukan isolasi mendiri di rumah, Bambang mendapat ruang dan bisa dirawat.

Sebelum terkena Covid-19, keseharian Bambang memang cukup aktif. Sebagai Ketua Gabungan Industri Pariwiasta Indonesua Jawa tengah dan juga sukarelawan Covid-19, dia pergi ke banyak tempat.

Walaupun kini Bambang sudah sembuh, sepertinya dia masih harus berhati-hati. Ada informasi bahwa mutasi virus Covid-19 sedang terjadi. Menurut Ketua Satgas Covid-19 Universitas Gadjah Mada Rustamadji, ada perubahan pola virus. “Kabar dari Inggris terakhir, kita menghadapi suatu [virus] yang baru, yang diduga bisa lebih ganas dan lebih gampang menular. Namun di sisi lain lebih cepat hilangnya,” kata Rustamdji.

BACA JUGA: Kerap Bantu Pemakaman Pasien Covid-19, Mantan Kadinsos Jogja Ditolak Warga Saat Akan Dimakamkan

Setelah suaminya meninggal karena Covid-19, Nelly menjalani perawatan di RS sendiri. Tidak ada lagi video call dengan suami untuk saling menguatkan. Duka Nelly semakin buruk saat dia hanya tinggal seorang diri. Tidak ada yang menemaninya secara langsung di rumah sakit.

Bertemu dengan petugas kesehatan juga hanya empat kali dalam sehari,  kunjungan singkat sekitar lima menit. Penyakit Covid-19 membuat interaksi fisik menjadi terbatas, termasuk bagi petugas kesehatan. “Dalam keadaan terguncang [setelah kematian suami], keadaan kritis, di RS sendiri, tidak bisa ketemu siapa-siapa,” kata Nelly. “Tidak hanya fisik, psikis juga berat, untuk bangkit itu berat.”

Keadaan Nelly yang berat sepertinya dipahami oleh anak-anaknya. Untuk bisa sedikit menurunkan beratnya hari, anak-anak Nelly meminta ibunya untuk menulis tentang apapun. Nelly sempat bingung, dia merasa tidak pantas menulis. Dia masih bimbang atas kualitas tulisannya.

“Jangan pertimbangkan orang lain, selama tidak menyakiti orang lain dan membuat nyaman, tulis saja,” kata Nelly menirukan ucapan anaknya.

Sejak saat itu, setiap hari Nelly menulis. Dia menulis apapun yang dia rasakan dan dibagikan di media sosialnya. “Tenyata memang betul, menulis itu self healing. Bisa menuangkan cinta pada suami, mengungkapkan perasaan,” kata Nelly.

Kini Nelly sering menulis. Bahkan saat tulisannya belum terunggah di media sosial, anak-anak akan menagih. Mungkin Nelly sadar, kematian sang suami memaksa mereka untuk berpisah. Namun semesta masih mengizinkan Nelly untuk “bertemu dan bersama-sama” dengan suaminya dalam bentuk tulisan.