Pulang Pesta, Geng Sudwat All Base Sengaja Bawa Celurit & Gir untuk Lakukan Penyerangan

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Kulonprogo, AKP Munarso (tengah) menunjukkan barang bukti kasus video viral dalam jumpa pers di Mapolres Kulonprogo, Senin (28/12). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara.
28 Desember 2020 16:27 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Pentolan geng remaja Sudwat All Base Kulonprogo Yulian Pratikno mengakui sejumlah senjata tajam yang dibawa untuk melakukan penyerangan di jalanan. Hal itu dilakukan setelah melakukan pesta di pantai.

Yulian Pratikno yang dihadirkan dalam jumpa pers mengaku dirinya yang mengacung-acungkan celurit di dalam video viral itu. Dia beralasan membawa sajam untuk jaga-jaga jika ada geng lain yang menyerang kelompoknya. Namun ia tidak tahu aksinya tersebut direkam hingga akhirnya viral.

"Saya gak tau kalau ada yang memvideo," ucap Yulian Pratikno, Senin (28/12/2020).

BACA JUGA : Viral, Geng Remaja Kulonprogo Acungkan Celurit & Seret Gir

Yulian, mengungkapkan aksi yang terekam video itu dilakukan saat dirinya bersama anggota Geng Sudwat All Base tengah dalam perjalanan pulang ke Kulonprogo dari pesta di kawasan Pantai Parangtritis, Bantul. Dalam perjalanan, ia mendapat informasi bahwa ada geng lain yang hendak menyerang kelompoknya. Ia lantas mengajak gengnya mencari keberadaan kelompok tersebut dengan membawa sajam, tetapi dalam perjalanan pulang tidak ketemu.

"Pas pulang mau niatnya mau tawuran karena kelompok kami mau diserang, tapi enggak jadi," ujarnya.

Kepolisian Resor Kulonprogo Yulian Pratikno, sebagai tersangka atas kepemilikan senjata tajam jenis celurit. Senjata tersebut sebelumnya dipamerkan Yulian dalam video viral yang menunjukkan aksi ugal-ugalan geng Sudwat All Base di jembatan penghubung Kulonprogo-Bantul.

"Berdasarkan hasil penyelidikan dan penyidikan Polres Kulonprogo, diketahui bahwa YP [Yulian Pratikno] yang membawa sajam tersebut. Oleh karena itu kami menetapkan YP sebagai tersangka, lantaran melanggar pasal 2 UU no 12/1951 yang mengatur hal dimaksud dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun," ungkap Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Kulonprogo, AKP Munarso dalam jumpa pers.

BACA JUGA : 500 Personel Polres Kulonprogo Diterjunkan untuk Tertibkan

Munarso menerangkan penetapan tersangka ini berdasarkan hasil penyelidikan video Geng Sudwat All Base yang viral pada Kamis (24/12/2020) dini hari, atau tepatnya pukul 03.00 WIB.

Video berdurasi 23 detik itu menunjukkan sejumlah pemuda termasuk Yulian tengah mengendarai sepeda motor di jembatan penghubung Kulonprogo-Bantul sembari mengacung-acungkan celurit dan gir yang diseret di aspal hingga menimbulkan percikan api.

Tim khusus Patroli Siber Polres Kulonprogo yang mengetahui hal tersebut kemudian melapor ke Satreskrim, lalu ditindaklanjuti dengan menerjunkan buru sergap dan tim mawar. Sekitar pukul 09.00 WIB di hari yang sama saat video itu viral, petugas berhasil mendapatkan identitas para pelaku. Mereka berjumlah 12 orang.

Petugas lalu mendatangi rumah para pelaku dan melakukan interview dengan didampingi orang tua mereka masing-masing. Dalam proses tersebut diketahui para pelaku, kecuali Yulian masih berstatus sebagai pelajar dari beberapa sekolah swasta di Kulonprogo.

Dari pengakuan mereka, Yulian lah yang membawa dan mengacung-acungkan celurit di dalam video itu. Selanjutnya petugas menangkap Yulian di rumahnya di Kalurahan Depok, Kapanewon Panjatan.

Selain menetapkan Yulian sebagai tersangka kepolisian juga menyita sejumlah barang bukti berupa satu buah celurit milik tersangka, gir yang sudah dimodifikasi, tujuh unit telepon genggam lima unit sepeda motor dan jaket bertuliskan SUDWAT All Base.

BACA JUGA : Anggota DPRD Kulonprogo Terinfeksi Corona Terus Bertambah

"Sementara untuk 11 anak yang lain, karena masih sekolah, kami lakukan pembinaan melalui Sat Binmas Polres Kulonprogo. Diharapkan pembinaan ini bisa menyadarkan mereka agar tidak mengulangi perbuatan itu lagi," ujarnya.

Munarso mengatakan kasus ini memang tidak menimbulkan kerugian materi baik itu luka maupun harta benda, tetapi telah menimbulkan keresahan di masyarakat. Jika tidak diberi efek jera, dikhawatirkan komplotan remaja itu bisa melakukan tindakan kriminal seperti kejahatan jalanan atau biasa disebut klitih.