Blue Food Jadi Kunci Ketahanan Pangan Indonesia pada 2050
UGM mendorong penguatan blue food sebagai solusi ketahanan pangan nasional di tengah proyeksi kenaikan kebutuhan protein hingga 67% pada 2050.
Ilustrasi. /Reuters
Harianjogja.com, JOGJA-- Penanganan kasus konfirmasi positif Orang Tanpa Gejala (OTG) memerlukan ruang isolasi yang memadai untuk isolasi mandiri. Sejauh ini selter masih jadi salah satu opsi bagi OTG yang tidak memiliki fasilitas memadai untuk isolasi mandiri.
Seiring dengan berkembangnya kasus positif Covid-19, anggota DPRD Kota Jogja menilai perlunya dilakukan penambahan selter bagi OTG.
Muhammad Ali Fahmi, Anggota Komisi D DPRD Kota Jogja berangkat dari peningkatan signifikan jumlah positif Covid-19 yang disertai gejala maupun OTG. Sampai dengan per 12 Januari 2021 terdapat 2.861 kasus yang mencakup 1.010 pasien dirawat, sembuh 1.767 dan meninggal 86 kasus. Dia menambahkan jika saat ini di Kota Jogja baru ada selter milik Pemkot di Rusunawa Bener dan beberapa selter milik komunitas.
Fahmi menilai pengadaan selter tambahan sangat mendesak saat ini. Jumlah ketersedian bed yang ada tidak sebanding dengan jumlah pasien. "Tambahan selter oleh Pemkot sudah sangat mendesak untuk segera direalisasikan untuk pasien OTG maupun bergejala ringan. Ketersediaan selter milik Pemkot hanya ada 42 ruang dan 84 bed, sedangkan pasien OTG yang mendaftar ke selter sangat banyak dikarenakan rumah pasien OTG tidak memungkinkan untuk isolasi mandiri, ada balita maupun lansia di rumahnya," terangnya pada Rabu (14/1/2021).
Menurut Fahmi, beberapa hari yang lalu ruang selter terpantau penuh. Pasien OTG yang mendaftar harus antri baru bisa masuk selter 2-3 hari kemudian sehingga dikhawatirkan penyebaran virus semakin meluas dan penanganan terhadap pasien kurang maksimal. "Untuk itu Pemkot agar segera menambah selter untuk pasien OTG Kota Jogja dengan menggunakan dana APBD Kota Jogja 2021, tentunya disertai ketersediaan fasilitas penunjang yang memadai, makanan dengan gizi yang cukup serta didampingi dokter dan tenaga kesehatan," jelasnya.
Kepala Dinas Sosial Nakertrans Kota Jogja, Maryustion Tonang menyebutkan saat ini kondisi selter masih memadai meski tak menutup kemungkinan mencari lokasi baru. Pasalnya keluar masuk pasien sejauh ini diutarakan Tion sangat dinamis. Dalam arti dalam satu waktu pasien keluar bisa banyak jumlahnya. "Sejauh ini keseharian di selter memang dinamis. In-out penyintas itu sangat dinamis. Ketika ada pertemuan di dewan memang ada info penuh tetapi malamnya sudah banyak yang keluar. Jadi saya kira flow-nya sangat dinamis, cepat" ujarnya.
Pemanfaatan selter untuk penyintas dijelaskan Tion selama ini didasarkan pada asesmen dari puskesmas serta wilayah setempat. Jadi Tion memastikan jika penyintas pasti ada surat pengantar dan diantar ke selter. "Dan itu sekali lagi untuk yang masuk ke selter harus didasarkan atas rekomendasi atau asesmen dari puskemas dan wilayah dari Lurah dan Kemantren," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
UGM mendorong penguatan blue food sebagai solusi ketahanan pangan nasional di tengah proyeksi kenaikan kebutuhan protein hingga 67% pada 2050.
Gempa M7,1 di Jepang diduga berkaitan dengan sesar yang belum retak sejak gempa besar 2016. Ahli ungkap potensi gempa susulan.
KPK menahan anggota DPRD Jatim Moch Mahrus terkait dugaan suap dana hibah pokmas kepada Anwar Sadad.
PSIM Jogja masih mengevaluasi masa depan Nermin Haljeta jelang Super League 2026/2027, sementara Franco Ramos dipastikan bertahan.
BBPOM Yogyakarta mempercepat penerbitan NIE bagi UMKM pangan olahan agar produk lokal Jogja aman, bermutu, dan mampu bersaing.
Wapres Gibran bertemu Hun Many membahas reformasi birokrasi, olahraga, serta penanganan TPPO terkait penipuan daring.