Soal RS Rujukan Covid-19 di Jogja Penuh, Begini Jawaban Sultan

Sri Sultan HB X. - Ist/Diskominfo DIY
18 Januari 2021 19:27 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Merespons meningkatnya kasus harian Covid-19 dan menipisnya kapasitas tempat tidur atau bed rumah sakit, Pemda DIY berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten dan Kota untuk kebijakan penambahan bed. Kabupaten dan Kota juga diminta untuk menyediakan selter bagi kasus positif bergejala ringan.

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, mengatakan penambahan bed akan lebih banyak ditambah untuk rumah sakit milik pemerintah, sebab untuk rumah sakit swasta tidak ada kewajiban. “Rumah sakit swasta rata-rata hanya 10 persen dati total tempat tidur [yang ada di RS tersebut]. Harapannya bisa menjadi 15 persen. Tapi belum ada kepastian,” katanya, Senin (18/1/2021).

Sedangkan untuk rumah sakit milik pemerintah, seperti di RSUP Dr. Sardjito dan Hardjolukito, diharapkan lebih banyak meningkatkan alokasi bed untuk Covid-19. Selama ini kata dia, alokasi bed untuk pasien Covid-19 di RS pemerintah lebih banyak dibanding RS swasta. Bila RS swasta rata-rata hanya mendedikasikan 10% bed untuk pasien Covid-19, maka RS pemerintah bisa sampai 40%.

“Misalnya 40 persen itu hanya 75 bed yang ada di Sardjito, bisa ditingkatkan. Untuk Hardjolukito ada tambahan gedung baru bisa untuk 105 bed,” katanya.

Untuk mengoptimalkan pelayanan di rumah sakit kata dia, kasus positif tanpa gejala tidak perlu dirawat di rumah sakit, namun bisa isolasi di selter. “Makanya sekarang saya minta orang tanpa gejala jangan dirawat di rumah sakit kecuali yang sakit. Ya sudah diisolasi saja seperti yang di Sleman di asrama dan sebagainya,” kata dia.

Sekda DIY, Kadarmanta Baskara Aji, mengatakan kabupaten dan kota diharapkan bisa koordinasikan dengan rumah sakit supaya bisa menambah bed. “Masing-masing kabupaten dan kota akan merapatkan dengan rumah sakit di daerahnya untuk rembugan penambahan bed,” ujarnya.

Selain itu, Kabupaten dan Kota juga diminta menyiapkan selter bagi mereka yang isolasi mandiri sehingga mereka tidak kesulitan pada saat ada penambaahan kasus. “Jumlah selter juga akan ditambah memanfaaktkan sarana di desa maupun kelurahan seperti balai desa dan lainnya,” kata dia.

Direktur RSUP dr. Sardjito, Rukmono Siswishanto, mengatakan terkait laporan tidak diterimanya pasien karena rumah sakit penuh, sekitar enam sampai delapan pasien terindikasi Covid-19 di Instalasi gawat Darurat (IGD), diklaim tidak semua perlu dirawat di rumah sakit karena kondisinya ringan atau tidak bergejala. "Jadi bukan tidak bisa terima pasien, tapi tempat tidur diprioritaskan untuk pasien kondisi berat dan kritikal," jelasnya.

Ia menambahkan RSUP dr. Sardjito memiliki 75 ruang dengan 27 bed Covid pasien kritis atau ICU. “Rumah sakit akan berupaya menambah tempat tidurnya seccara bertahap supaya pasien kalau positif yang berat bisa ditangani. Atau orang yang mau melahirkan atau mau operasi. Ini bisa masuk ke rumah sakit,” katanya.

BACA JUGA: Hari Ini 6 Warga DIY Meninggal karena Corona, 295 Orang Dilaporkan Positif

Dengan penambahan alokasi pada bed Covid-19, tentu akan berpengaruh pada pelayanan non-Covid-19. Namun saat ini, ia melihat bed occupancy rate (BOR) RSUP dr. Sardjito untuk pasien non-Covid-19 serta rumah sakit lainnya, ia mengklaim rata-rata turun. Ia mencontohkan dulu bisa sampai 80%, saat ini hanya berkisar 52%-55%, sehingga banyak bed kosong untuk non-Covid-19.

Sejumlah bed kosong tersebut yang kemudian akan dikonversi dengan menambah ruang anterum, supaya bisa dipakai untuk melayani pasien covid-19. Namun dalam proses konversi ini juga terdapat kebutuhan pendukung lain seperti tenaga kesehatan, peralatan dan sebagainya. Ia mengakui yang paling berat adalah menambah sumber daya manusia (SDM).

“Menambah tempat tidur tidak serta-merta. Kalau bikin gedungnya gampang, tapi mengisi orangnya yang susah. Akibatnya kita tetap kekurangan. Kami bersyukur karena BOR-nya masih rendah kami bisa memobilisasi dari yang kosong,” kata dia.


Sebelumnya Penanggungjawab layanan Covid-19 RSA UGM dokter Siswanto mengungkapkan, saat ini RS hanya melayani pasien dengan gejala berat dan sedang tidak ada lagi pasien ringan. Namun demikian kata dia, tetap saja terjadi antrean di IGD. Sejumlah warga yang mengantre itu bahkan meninggal dunia karena tak sempat mendapat perawatan ICU.

Direktur Pelayanan Medik RS PKU Bantul, Nurcholid Umam Kurniawan, juga menyatakan hal serupa. Saat ini RS hanya menampung pasien bergejala berat dan ringan, namun tetap saja kapasitas RS sudah penuh. Selain itu meski RS PKU Muhammadiyah adalah RS swasta, Umam menyebut telah mendedikasikan bed RS untuk pasien Covid-19 hingga 30%.