Pemerintah Desa Glagaharjo Minta Pengungsi Bertahan di Barak Pengungsian

Luncuran awan panas Gunung Merapi menuju hulu Sungai Krasak sekitar pukul 12.44 WIB terlihat dari Kawasan Turi, Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Sleman, Kamis (7/1/2021). - Harian Jogja/Gigih M Hanafi
19 Januari 2021 08:37 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Pemerintah desa Glagaharjo belum berupaya untuk memulangkan pengungsi yang berada di Balai Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman. Walaupun, BPPTKG sendiri telah merubah potensi maupun daerah bencana Gunung Merapi ke sisi barat daya.

Lurah Glagaharjo Suroto mengatakan jika upaya memulangkan kembali pengungsi belum akan dilaksanakan oleh pemerintah desa Glagaharjo. Terlebih, pihaknya masih akan menunggu hasil rapat yang dilakukan pemerintah kabupaten Sleman dengan pemerintah desa Glagaharjo yang baru akan dilakukan pada esok Selasa (19/1/2021).

"Terkait dengan Gunung Merapi ini, oke enggak ada masalah kalau misalnya dari BPPTKG seperti itu [merubah potensi maupun daerah bahaya Gunung Merapi]. Kami di pemerintah desa itu menunggu keputusan dari Pemkab Sleman, karena sampai hari ini juga belum ada surat apa-apa, kaitannya dengan wacana pengungsi bisa pulang lagi atau gimana, kita belum menerima surat," ujar Suroto saat diwawancarai di balai desa Glagaharjo pada Senin (18/1/2021).

Lebih lanjut, rapat dengan pemerintah desa dengan pemerintah kabupaten Sleman baru akan dilaksanakan pada besok Selasa (19/1/2021). Rapat sendiri rencananya akan melibatkan dinas terkait dan juga Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman yakni Harda Kiswaya.

"Terus kemarin kita juga sudah komunikasi dengan Pemkab Sleman, besok Selasa (19/1/2021) ini baru mau dirapatkan dulu di kabupaten sama pak Sekda. Nanti keputusannya seperti apa ya saya belum tahu," sambung Suroto.

Suroto tidak memungkiri jika sebagian pengungsi memang menginginkan untuk kembali ke rumahnya masing-masing. Hal tersebut terbukti jika angka pengungsi yang berada di barak pengungsian per Minggu (17/1/2021) turun menjadi 187 orang. Walaupun, pengungsi yang kembali ke rumahnya sebagian besar kategori usia produktif. Berdasarkan catatan dari pemerintah desa Glagaharjo, per Jumat (15/1/2021) jumlah pengungsi mencapai 268 orang.

"Kalau masyarakat sebenarnya pingin pulang, contoh dengan informasi yang kemarin itu aja ya, yang sudah beredar itu, tadi malam sudah ada pengurangan banyak [pengungsi], artinya dari sekitar 300 pengungsi, tadi malam tinggal 187 pengungsi. Kami pantau terus ya, kalau yang naik itu ada kelompok rentan, ya kami minta untuk tetap bertahan di barak pengungsian, karena saya gak ingin ada risiko di kemudian hari," jelas Suroto.

Adapun, trauma warga terhadap erupsi pada tahun 2006 juga menjadi faktor signifikan yang membuat Suroto tidak terburu-buru untuk memulangkan pengungsi ke rumahnya masing-masing.

"Ya, saya juga masih trauma itu to [erupsi 2006]. Pulang dua hari habis itu langsung meletus. Saya juga enggak ingin kejadian itu terulang kembali. Keselamatan warga kunci utama. Jadi, kaitannya dengan keputusan [memulangkan pengungsi], saya masih menunggu rapat besok. Hasilnya seperti apa nanti akan kita sampaikan," sambung Suroto.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman sebelumnya menegaskan jika evakuasi bagi warga yang berpotensi terdampak bencana Gunung Merapi yang berada di sisi barat daya khususnya warga warga Pakem dan Turi belum akan dilakukan. Walaupun, BPPTKG sendiri telah merubah ancaman potensi maupun daerah bahaya Gunung Merapi ke sisi barat daya.

Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman Makwan mengatakan jika rencana menurunkan kelompok rentan juga belum akan dilakukan oleh BPBD Kabupaten Sleman.

"Kan masih lima kilometer [rekomendasi jarak aman dari BPPTKG]. Kalau menurunkan warga belum. Jaraknya kan masih di atas 6 Km. Cuma kami meningkatkan kewaspadaan sisi selatan dan barat daya. Jarak bahayanya kan masih sama di 5 kilometer," ujar Makwan.