Terbangkan Drone untuk Pantau Kerusakan Hutan Merapi Belum Bisa Dilakukan Waktu Dekat

Luncuran awan panas Gunung Merapi menuju hulu Sungai Krasak sekitar pukul 12.44 WIB terlihat dari Kawasan Turi, Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Sleman, Kamis (7/1/2021). - Harian Jogja/Gigih M Hanafi
08 Februari 2021 10:47 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) menyatakan pihaknya berencana untuk menerbangkan drone guna melihat kerusakan vegetasi yang berada di lereng barat daya. Upaya tersebut dilakukan seiring dengan masifnya luncuran guguran material yang mengarah ke arah barat daya lereng Gunung Merapi.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) Pujiati mengatakan jika upaya tersebut dilakukan untuk menentukan langkah ke depannya pasca kerusakan vegetasi yang terjadi di wilayah sisi barat daya lereng Gunung Merapi imbas terkena material guguran.

"Kami merencanakan untuk menerbangkan drone ya di atas lokasi jalur barat daya ya. Mau lihat kerusakan vegetasi utamanya. Tapi memang masih rencana," ujar Pujiati saat dikonfirmasi pada Minggu (7/2/2021).

BACA JUGA : Dilanda Erupsi, Hutan Merapi Butuh 25 Tahun untuk Pulih

Upaya menerbangkan drone di atas jalur sisi barat daya lereng Gunung Merapi tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran atau hasil visual terkini hutan di bawah supervisi BTNGM yang terkena dampak dari material guguran Gunung Merapi.

"Biar bagaimana pun kami harus lihat kerusakannya. Kalau memang sudah ada gambarannya kemudian kita akan tentukan langkah ke depan seperti apa yang harus kita lakukan," sambung Pujiati.

Akan tetapi, upaya tersebut belum akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Pasalnya, aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang masih kategori tinggi membuat Pujiati dan jawatannya menunda upaya menerbangkan drone hingga aktivitas vulkanik Gunung Merapi menurun.

"Tapi ini kan belum selesai [status Gunung Merapi siaga level III]. Erupsinya masih ada. Jarak tempuh erupsi juga masih 1 km. Kami belum berani. Teman-teman di Resort Srumbung juga belum melaporkan adanya hewan turun," terangnya.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) sebelumnya menyatakan jika sejak memasuki masa erupsi efusif pada tanggal 4 Januari 2021 lalu, hingga saat ini aktivitas Gunung Merapi terhitung masih tinggi.

BACA JUGA : Butuh Puluhan Tahun untuk Kembalikan Hutan Merapi Pasca-Erupsi

Hal ini ditunjukkan dengan terjadinya awan panas guguran sejak tanggal 7 Januari 2021. Bahkan, pada Rabu (27/1/2021) kejadian awan panas guguran mencapai 52 kali. Jarak luncur awan panas diperkirakan sejauh tiga kilometer dari puncak Merapi ke arah hulu Kali Boyong dan Krasak.

Kepala BPPTKG Hanik Humaida mengatakan untuk memastikan jarak luncur awan panas tersebut, BPPTKG menerbangkan drone untuk mengambil foto udara di alur Kali Boyong.

"Hasil foto udara menunjukkan jarak luncur awan panas pada 27 Januari 2021 mencapai 3,5 km untuk jarak miring atau 3,2 km jika dihitung jarak horizontal," ujar Hanik beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, jarak luncur awan panas guguran masih dalam rekomendasi jarak bahaya yang telah ditetapkan, yaitu pada jarak maksimum 5 km dari puncak Gunung Merapi.

Adapun, Hanik juga menyebutkan bahwa awan panas masih berpotensi terjadi di Gunung Merapi. Daerah yang berpotensi bahaya awan panas guguran dan guguran lava adalah alur Kali Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal lima km.

"Erupsi eksplosif juga masih mungkin terjadi di Gunung Merapi. Potensi bahaya erupsi eksplosif ini berupa lontaran material vulkanik dalam radius 3 km dari puncak," katanya.

BACA JUGA : BTNGM Klaim Hutan Gunung Merapi di Wilayah DIY Tidak

Hanik mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya tersebut mengingat awanpanas guguran dan lahar hujan dapat terjadi sewaktu-waktu.

"BPPTKG terus melakukan pemantauan aktivitas Gunung Merapi. Jika terjadi perubahan aktivitas Gunung Merapi yang signifikan, maka status aktivitas Gunung Merapi akan segera kami tinjau kembali,” ujarnya.