Butuh Puluhan Tahun untuk Kembalikan Hutan Merapi Pasca-Erupsi

Luncuran awan panas Gunung Merapi menuju hulu Sungai Krasak sekitar pukul 12.44 WIB terlihat dari Kawasan Turi, Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Sleman, Kamis (7/1/2021). - Harian Jogja/Gigih M Hanafi
05 Februari 2021 09:27 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) menyatakan hutan yang berada di bawah supervisinya membutuhkan waktu puluhan tahun untuk kembali menjadi hutan sekunder pasca terkena dampak dari material erupsi Gunung Merapi.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi Pujiati mengatakan jika berkaca pada erupsi Gunung Merapi pada 2010 silam, dampak signifikan yang diakibatkan oleh material erupsi Gunung Merapi memang berimbas kepada vegetasi h,utan yang ada di wilayah Cangkringan dan sekitarnya.

"Berkaca pada erupsi tahun 2010, wilayah yang terdampak berat erupsi yakni hutan di wilayah Cangkringan dan sekitarnya," ujar Pujiati saat dikonfirmasi pada Jumat (5/2/2021).

BACA JUGA : Jogja Butuh Masker Pascaerupsi Merapi, Stok Sudah Langka

Lebih lanjut, hutan yang terkena dampak dari material erupsi Gunung Merapi membutuhkan waktu untuk kembali pulih. Proses pertumbuhan semak belukar hingga kembali menjadi hutan sekunder membutuhkan waktu puluhan tahun.

"Satu sampai dua tahun pasca erupsi, semak belukar dan pertumbuhan jenis pionir dimulai. Tiga sampai lima tahun pasca erupsi pertumbuhan jenis pionir mulai menutup area terbuka. Enam sampai 10 tahun pertumbuhan semak belukar dan vegetasi jenis pionir menjadi hutan sekunder," sambung Pujiati.

Dari hutan sekunder menuju ke hutan sekunder tua, lanjut Pujiati, membutuhkan proses yang cukup lama hingga sebuah hutan masuk dalam klasifikasi hutan primer.

"Proses ini akan berlangsung sampai 25 tahun sampai menjadi hutan sekunder tua dan bertahap tergantikan oleh jenis sub klimaks maupun klimaks kemudian menjadi hutan primer. Proses ini membutuhkan waktu lama [ratusan tahun] apabila tidak terjadi gangguan lagi," terangnya.

BACA JUGA : Begini Kondisi Merapi Pasca-Erupsi dan Gempa Pacitan

Oleh karena itu, dalam rangka untuk kembali menjadikan hutan di wilayah TNGM rindang, pihaknya melakukan sejumlah upaya. Termasuk di dalamnya yakni penanaman di area bekas erupsi.

"Upaya TNGM dengan melakukan penanaman menggunakan press block di area terdampak berat tahun 2011 dan penanaman di area bekas erupsi untuk pengayaan jenis hutan pegunungan [pionir, sub klimaks dan klimak]," terang Pujiati.

Erupsi Merapi Capai 3,5 Kilometer

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) sebelumnya menyatakan jika sejak memasuki masa erupsi efusif pada tanggal 4 Januari 2021 lalu, hingga saat ini aktivitas Gunung Merapi terhitung masih tinggi.

Hal ini ditunjukkan dengan terjadinya awan panas guguran sejak tanggal 7 Januari 2021. Bahkan, pada Rabu (27/1/2021) kejadian awan panas guguran mencapai 52 kali. Jarak luncur awan panas diperkirakan sejauh tiga kilometer dari puncak Merapi ke arah hulu Kali Boyong dan Krasak.

Kepala BPPTKG Hanik Humaida mengatakan untuk memastikan jarak luncur awan panas tersebut, BPPTKG menerbangkan drone untuk mengambil foto udara di alur Kali Boyong.

BACA JUGA : Pascaerupsi Merapi, Operasional Pertamina Normal

"Hasil foto udara menunjukkan jarak luncur awan panas pada 27 Januari 2021 mencapai 3,5 km untuk jarak miring atau 3,2 km jika dihitung jarak horizontal," ujar Hanik beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, jarak luncur awan panas guguran masih dalam rekomendasi jarak bahaya yang telah ditetapkan, yaitu pada jarak maksimum 5 km dari puncak Gunung Merapi.

Adapun, Hanik juga menyebutkan bahwa awan panas masih berpotensi terjadi di Gunung Merapi. Daerah yang berpotensi bahaya awan panas guguran dan guguran lava adalah alur Kali Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal lima km.

"Erupsi eksplosif juga masih mungkin terjadi di Gunung Merapi. Potensi bahaya erupsi eksplosif ini berupa lontaran material vulkanik dalam radius 3 km dari puncak," ucapnya.

Hanik mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya tersebut mengingat awanpanas guguran dan lahar hujan dapat terjadi sewaktu-waktu.

"BPPTKG terus melakukan pemantauan aktivitas Gunung Merapi. Jika terjadi perubahan aktivitas Gunung Merapi yang signifikan, maka status aktivitas Gunung Merapi akan segera kami tinjau kembali,” katanya.