Begini Kondisi Merapi Pasca-Erupsi dan Gempa Pacitan

Gunung Merapi mengalami erupsi Minggu (21/6/2020) pagi. - Ist/ twitter @BPPTKG
22 Juni 2020 19:17 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Setelah mengalami dua kali erupsi pada Minggu (21/6/2020) kemarin, kondisi Gunung Merapi masih stabil. BPPTKG juga menegaskan Gempa di Pacitan pada Senin (22/6/2020) tidak memengaruhi aktivitas Merapi.

Kepala BPPTKG Jogja Hanik Humaida menjelaskan letusan eksplosif sudah sering terjadi di Merapi. Pada tahun 2019 sampai saat ini tercatat terjadi sebanyak 15 kali letusan. Letusan dapat terjadi secara tiba-tiba atau dapat didahului oleh peningkatan aktivitas vulkanik.

"Dalam hal terjadi peningkatan aktivitas vulkanik sebelum letusan, bentuknya beragam dan tidak konsisten sehingga tidak dapat dijadikan indikator akan terjadinya letusan eksplosif," kata Hanik, Senin (22/6/2020).

Namun demikian, lanjutnya, terjadinya peningkatan aktivitas vulkanik meningkatkan peluang terjadinya letusan eksplosif. Sebelum letusan eksplosif Minggu kemarin, kata Hanik, terjadi peningkatan kegempaan di Merapi. Peningkatan kegempaan terjadi sejak 8 Juni 2020 lalu didominasi peningkatan jumlah gempa vulkano-tektonik dalam (VTA). Kejadian letusan semacam ini masih dapat terus terjadi.

"Pada 20 Juni jumlah gempa VTA mencapai 18 kali. Dalam periode 8-20 Juni telah terjadi gempa VTA sebanyak 80 kali. Peningkatan gempa VTA sebelumnya terjadi pada Oktober 2019-Januari 2020 dengan energi yang lebih besar namun tidak diiringi dengan
letusan," katanya.

Menurutnya, letusan-letusan eksplosif terjadi sebagai indikasi suplai magma dari dapur magma masih berlangsung. Ancaman bahaya sampai dengan saat ini masih sama yaitu berupa awan panas dan lontaran material vulkanik dengan jangkauan 3 km. Adapu volume kubah Merapi saat ini sebesar 200.000 meter kubik.

BACA JUGA: Kincir Tambak Udang di Kulonprogo Makan Korban

"Gunung api merupakan proses yang dinamis. Erupsi akan tergantung pada aktivitas magmatis di gunung api tersebut. Sejak Januari hingga Minggu kemarin, sudah terjadi 11 kali erupsi," katanya.

Terpisah, Kepala Seksi Gunung Merapu BPPTKG Agus Budi Santoso mengatakan gambar visual pada malam hari yang seolah titik api diam di Merapi berasal dari asap pekat di kawah. Kepulan asap yang panas dari kawah, katanya, merupakan aktivitas solfatara dan biasa terjadi di gunung api aktif. "Cahaya merah (di puncak Merapi) hanya pendaran asap saja karena memang panas," katanya.

Disinggung soal pengaruh gempa bumi 5 magnitudo di Pacitan, lanjut dia tidak berpengaruh pada aktivitas Merapi. "Saat ini aktivitas Merapi relatif tenang. Dari data pemantauan, belum terlihat adanya pengaruh gempa tadi malam terhadap aktivitas Merapi," katanya.