Waspada Banjir & Longsor, Bantul Siagakan Sukarelawan hingga Tingkat RT

Warga mengevakuasi pohon tumbang. - Istimewa/FPRB Srimulyo
13 Februari 2021 10:57 WIB Jumali Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Adanya prediksi cuaca buruk yang akan menerpa DIY selama sepekan terakhir telah diantisipasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul.

Manajer Pusat Pengendalian Operasional (Pusdalops) BPBD Kabupaten Bantul, Aka Luk Luk Firmansyah menyatakan selain menyiapkan dan membentuk pos siaga serta menerapkan siaga darurat, BPBD Bantul juga melibatkan relawan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dan warga sampai tingkat RT.

BACA JUGA : Cuaca Ekstrem di Bantul Diperkirakan Berlangsung Sepekan

“Semua sudah dipersiapkan. Sejauh ini tidak ada kendala,” kata Aka, Jumat (12/2/2021).

Sementara berdasarkan data di BPBD Bantul, hingga Rabu (11/2/2021) malam, ada enam kejadian longsor di Bantul. Di mana, di Dusun Sribitan RT 3, Desa Bangunjiwo, Kapanewon Kasihan, talut badan Jalan Bangunjiwo-Sedayu ambrol sekitar pukul 21.40 WIB.

Akibat ambrolnya talut dengan panjang delapan meter, tinggi tiga meter dan lebar satu meter ini untuk sementara waktu oleh dipasangi rambu-rambu tanda bahaya.

Sementara di Dusun Pager Gunung 1 RT 04, Desa Sitimulyo, Kapanewon Piyungan. Hujan deras yang mengakibatkan banjir di sungai Opak selatan Jembatan Gentoro mengakibatkan terkikisnya talut dan ambrol.

BACA JUGA : Cuaca Ekstrem Diprediksi Melanda Jogja Selatan

Di Dusun Jolosutro RT 03, Desa Srimulyo, Kapanewon Piyungan, longsor telah mengakibatkan tertutupnya akses jalan rumah keluarga Walijan dan sebagian pohon menimpa rumah Narto bagian depan rumah atau teras. Selain itu di Pos Piyungan RT 5, Desa Srimartani, Kapanewon Piyungan juga telah terjadi longsor akibat hujan deras mengakibatkan tertutupnya akses jalan menuju masjid.

Longsor juga terjadi di Dusun Gayam RT 04, Desa Jatimulyo, Kapanewon Dlingo. Di mana jalan sudah tertutup longsor beserta pohon tumbang dengan diameter 50 sentimeter dan di  Dusun Semuten RT 06, Desa Jatimulyo, Kapanewon Dlingo, longsor terjadi di persawahan warga milik Supandi dan Wagio.

Kepala BPBD Bantul Dwi Daryanto mengatakan sampai saat ini ada sekitar 2.230 kepala keluarga (KK) di Bantul yang tinggal di zona merah rawan bencana tanah longsor.

Kepala keluarga yang tinggal di zona merah tersebut ada di 21 desa di delapan kapanewon yang paling rawan longsor, yakni di Kretek (Desa Parangtritis), Pundong (Seloharjo), Imogiri (Selopamioro, Sriharjo, Karangtengah, Girirejo, Wukirsari), Dlingo (Muntuk, Dlingo, Jatimulyo, Terong), Pleret (Segoroyoso, Bawuran, Wonolelo), Piyungan (Sitimulyo, Srimulyo, Srimartani), Kasihan (Bangunjiwo), dan Pajangan (Triwidadi dan Guwosari).

BACA JUGA : BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem

Lebih lanjut, Dwi mengungkapkan, pihaknya telah membicarakan  warga yang tinggal di zona merah rawan longsor untuk menyediakan lahan. “Termasuk rumah warga yang terkena material longsor, beberapa waktu lalu,” katanya.

Di sisi lain, sampai saat ini, Dwi mengakui jika masih kekurangan alat deteksi tanah longsor. Karena sejauh ini hanya ada 10 alat deteksi longsor. Padahal idealnya harus ada sekitar 100 alat deteksi tanah longsor yang dipasang di lokasi zona merah rawan longsor.

“Untuk mengantisipasinya, kami telah membentuk posko banjir dan longsor [bansor] selama musim hujan.

Posko tersebut siaga 24 jam dengan penjagaan melibatkan relawan bencana dan warga sekitar,” ucap Dwi.