Advertisement

Panen Maggot Jogoyudan Jogja, Sampah Berkurang Pendapatan Naik

Ariq Fajar Hidayat
Jum'at, 09 Januari 2026 - 22:07 WIB
Abdul Hamied Razak
Panen Maggot Jogoyudan Jogja, Sampah Berkurang Pendapatan Naik Panen maggot bersama komunitas transporter di Gowongan, Jetis, Kota Jogja, beberapa waktu lalu. - Ist - Kelurahan Gowongan

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA— Upaya pengurangan sampah organik di Kampung Jogoyudan, Kelurahan Gowongan, Kemantren Jetis mulai menunjukkan hasil nyata. Panen maggot bersama Komunitas Transporter tak hanya memperlihatkan efektivitas pengolahan sampah berbasis warga, tetapi juga memberi tambahan pendapatan bagi para transporter yang selama ini bertugas mengangkut sampah terpilah.

Kegiatan panen larva Black Soldier Fly (BSF) tersebut berlangsung di RW 13 Kampung Jogoyudan pada Senin (5/1/2026). Program ini merupakan kolaborasi antara Kelurahan Gowongan, Komunitas Transporter, dan bank sampah setempat sebagai tindak lanjut dari kebijakan pelarangan pembuangan sampah organik ke depo maupun TPA.

Advertisement

Lurah Gowongan, Tika Andriatiavita, menyampaikan bahwa inisiatif budidaya maggot di wilayahnya terinspirasi dari praktik serupa yang lebih dulu dilakukan warga RW 11 yang telah membentuk Rumah Maggot.

“Maggot ini di Gowongan dulu diawali oleh RW 11, Kampung Jogoyudan. Di sana ada Rumah Maggot,” ujar Tika, Jumat (9/1/2026).

Menurutnya, kebijakan pengelolaan sampah yang menuntut penyelesaian sampah organik di tingkat sumber membuat kelurahan harus mencari cara yang efektif. Karena itu, transporter yang sebelumnya fokus pada pengambilan sampah dipilah didorong untuk terlibat langsung dalam budidaya maggot.

“Dengan kebijakan bahwa sampah organik tidak boleh dibawa ke depo atau Piyungan, itu harus selesai di tempat masing-masing. Jadi kami mencoba menggerakkan komunitas transporter untuk mau memelihara maggot,” jelasnya.

Tika menerangkan, sampah organik mentah masih bisa disalurkan ke offtaker melalui fasilitasi kelurahan dan DLH. Sementara sampah organik matang dimanfaatkan sebagai pakan maggot yang kelak memiliki nilai ekonomis saat panen.

“Nah sampah organik matangnya bisa untuk budidaya maggot. Setelah panen ada nilai ekonomis bagi mereka. Itu yang kami dorong lewat komunitas transporter dan bank sampah,” ucapnya.

Panen perdana maggot ini masih bersifat uji coba, namun respons para transporter dinilai sangat positif. Meskipun hasil belum banyak, nilai tambah yang diperoleh mendorong mereka ingin memperluas budidaya.

“Kita mencoba baru perdana dan responsnya bagus. Dari panen itu dijual kembali, ada tambahan ekonomis untuk transporter meskipun belum banyak karena masih uji coba,” kata Tika.

Antusiasme warga dan transporter terlihat dari penambahan kotak budidaya yang terus berkembang. Dari satu kotak awal, kini bertambah menjadi tiga hingga empat unit. Setiap kotak mampu menampung volume sampah organik yang cukup besar sehingga membantu mengurangi timbunan sampah di kawasan tersebut.

“Dari semangat itu sudah berkembang penambahan beberapa kotak lagi. Satu kotak maggot bisa menampung banyak sekali sampah. Harapannya perlahan mereka mau karena ada nilai tambah ekonomis,” imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

70 Anak Terpapar Ideologi Kekerasan, Sekolah Diminta Waspada

70 Anak Terpapar Ideologi Kekerasan, Sekolah Diminta Waspada

News
| Sabtu, 10 Januari 2026, 10:27 WIB

Advertisement

Destinasi Favorit Terbaru di Sleman, Tebing Breksi Geser HeHa Forest

Destinasi Favorit Terbaru di Sleman, Tebing Breksi Geser HeHa Forest

Wisata
| Jum'at, 09 Januari 2026, 18:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement