Ditangkap, Pedagang Rokok Ilegal di Banguntapan Terancam Penjara

Kepala KPPBC TMP B Jogja, Henky Tomuan Parlindungan Aritonang (tengah) menunjukkan rokok ilegal yang dimiliki WS, di Kantor KPPBC TMP B Jogja, Selasa (16/2/2021). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
16 Februari 2021 16:07 WIB Lugas Subarkah Bantul Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Terbukti mengedarkan rokok ilegal ke sejumlah daerah luar Jogja, seorang pria diciduk Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean (TMP) B Jogja 3 Februari lalu, di sebuah rusunawa di kecamatan Banguntapan, Bantul.

Kepala KPPBC TMP B Jogja, Henky Tomuan Parlindungan Aritonang, menuturkan penindakan ini merupakan tindak lanjut dari aduan masyarakat yang melaporkan adanya penimbunan Barang Kena Cukai Hasil Tembakau (BKJ HT) di Rusunawa Projotamansari 3. “Menindaklanjuti aduan, tim meluncur dan menemukan barang bukti,” katanya, Selasa (16/2/2021).

BACA JUGA: Hadapi Wabah, Sultan HB X Minta Warga DIY Tiru Sikap Nelayan & Petani

Lokasi tersebut kata dia, memang sudah menjadi target operasi Unit P2 KPPBC TMP B Jogja beberapa waktu belakangan. Penghuni rusunawa yakni WS, pria 38 tahun, didapati menyimpan rokok yang tidak dilekati pita cukai sebanyak 11 karton dengan total 171.400 batang rokok dengan berbagai merek illegal.

Berdasarkan pengakuan WS, ia mendapatkan rokok ilegal ini dari Malang, Jawa Timur, yang rencananya aan diedarkan ke Jawa Barat dan sejumlah daerah di Sumatera. Khusus untuk barang yang berhasil disita ini, dengan cukai rokok rata-rata 12,5%, diperkirakan potensi kerugian negara mencapai Rp114 juta.

Tanpa cukai, WS dapat menjual barang-barang tersebut 60-70% lebih rendah dari harga rokok pada umumnya. Pelaku mengaku telah menjalankan pekerjaan ini sejak setidaknya setahun lalu, Februari 2020, melalui platform online yang kemudian dikirim dengan ekspedisi maupun titip bus.

BACA JUGA: Calon Penerima Vaksin Covid Tahap Kedua di Gunungkidul Didata

Tipikal penjualan rokok ilegal kata Henky, mirip penjualan narkotika yakni beli putus sehingga harus menelusuri rantai perdagangannya perlahan untuk sampai pada pabrik yang memproduksinya. “Di Jogja meski ada [penjualan rokok ilegal] tapi tidak banyak,” katanya.

Jogja menurutnya lebih sering dijadikan tempat transit rokok illegal karena pasarnya tidak sebesar di Jawa Barat dan Sumatera. Adapun tempat produksi rokok ilegal ini diperkirakan banyak dilakukan di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah.

WS telah ditetapkan sebagai tersangka dengan dugaan melanggar Pasal 54 dan 56 UU No. 39/2007 tentang Perubahan UU No. 11/1995 tentang Cukai, dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun penjara. “Selama menjalani proses penyidikan, WS dititipkan di Rumah Tahanan Polda DIY,” ujarnya.