Advertisement
Penelitian: Takut Ketinggian Berpengaruh Terhadap Kualitas Hidup?
Proses penelitian enggunaan Electroensephalography (EEG) berbasis Brain Computer Interface (BCI) dan Virtual Reality (VR). - ist.
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Takut ketinggian menjadi masalah tersendiri bagi seseorang. Terutama jika berkaitan dengan cita-cita yang mewajibkan melalui aktivitas di ketinggian. Mahasiswa konsentrasi Informatika Medis, Program Studi Informatika, Program Magister FTI UII Yusuf Asyhari mengungap masalah ini melalui penelitiannya.
Yusuf menjelaskan kecemasan terhadap ketinggian menjadi masalah yang tidak berdampak secara langsung namun penting diperhatikan. Sebab dampak sikap acuh terhadap masalah tersebut akan dirasakan di kemudian hari.
Advertisement
“Salah satu contohnya adalah siswa yang bercita-cita menjadi pramugari namun memiliki kendala rasa takut terhadap ketinggian. Langkah yang dapat dilakukan adalah berjuang memperbaikinya atau menyerah terhadap cita-cita tersebut,” katanya dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Sabtu (27/2/20210.
BACA JUGA : Sebagian Wilayah Gunungkidul dan Sleman Diprediksi Hujan
Ia menambahkan untuk mengetahui masalah tersebut perlu terlebih dahulu diukur tingkat kecemasan yang dihadapinya. Salah satu alat ukur tingkat kecemasan terhadap ketinggian melalui penelitian adalah Visual Height Intolerance Severity Scale (VHISS). Namun pengukuran VHISS terkadang tak memuaskan tanpa ada bukti konkret.
Dengan memanfaatkan pengukuran biometrik dari perubahan ion di dalam otak, penggunaan Electroensephalography (EEG) berbasis Brain Computer Interface (BCI) dan Virtual Reality (VR) menarik untuk dicoba.
“Hasil penelitian dari 107 partisipan di usia 16-17 tahun menunjukkan bahwa hasil pembacaan biometrik berupa jumlah gelombang per waktu dan magnitudo memiliki hubungan dengan VHISS,” katanya.
Ketua Program Studi Teknik Informatika Program Magister FTI UII Izzati Muhimmah yang mendampingi penelitian itu mengatakan secara rata-rata berdasarkan usia maupun jenis kelamin, hasil uji korelasi masih menunjukkan kesesuaiannya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, EEG berbasis BCI menjadi salah satu alternatif murah yang dapat ditawarkan untuk mengukur tingkat kecemasan terhadap ketinggian selain VHISS.
BACA JUGA : Ombak Tinggi Bikin Nelayan di Bantul Takut Melaut
“Diharapkan dengan studi korelasi antara EEG berbasis BCI dengan VHISS dapat memberikan alternatif pengukuran tingkat kecemasan terhadap ketinggian secara visual. Dengan deteksi lebih dini, beberapa masalah seperti rehabilitasi akibat dari stroke, stabilitas tubuh tidak seimbang, kemungkinan syok dan stress, gangguan mental, gangguan fisik, hingga kualitas hidup dapat ditangani lebih cepat dan tepat,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Dalam Sepekan Sulawesi Utara Diguncang Puluhan Gempa, Ini Polanya
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Puskesmas Tak Mampu, Damkar Lepas Cincin Bocah di Kulonprogo
- Cegah Gagal Panen, Bantul Perkuat Irigasi dengan 5.000 Pompa
- THR Gunungkidul Aman, Tak Ada Aduan Masuk hingga Posko Ditutup
- Leptospirosis Gunungkidul Makan Korban, Petani Diminta Hati-hati
- Pledoi Sri Purnomo: Tak Ada Niat Korupsi Hibah Pariwisata
Advertisement
Advertisement








