Jumlah RT Zona Kuning di Sleman Berkurang Jadi 551 RT

Ilustrasi. - Freepik
28 Februari 2021 12:27 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-Jumlah RT zona kuning di Sleman terus berkurang. Jika awal Februari tercatat sebanyak 608 RT yang masuk zona kuning, pada akhir Februari jumlahnya berkurang 57 RT menjadi 551 RT saja.

Berkurangnya zonasi RT dengan zona kuning diklaim tidak lepas dari penerapan PTKM dan PPKM Mikro sejak 11 Januari hingga 8 Maret mendatang. Kondisi tersebut berdampak pada penambahan RT zona hijau dari sebelumnya 6.938 RT menjadi 7.441 RT.

"Ya itu berdasarkan zonasi per 21 Februari lalu. Zonasi ini disusun berdasarkan data Covid-19 antara tanggal 15 hingga 21 Februari," kata Kepala Dinas Kesehatan Joko Hastaryo, Minggu (28/22021).

Joko menyebut tidak ada RT yang masuk zona oranye bahkan zona merah. Penambahan dan pengurangan jumlah RT yang masuk zona hijau, kuning, oranye dan merah didasarkan pada data perkembangan kasus Covid-19. "Datanya dinamis sesuai dengan kasus yang ada," ujarnya.

Berdasarkan peta zonasi RT terbaru, Kalurahan Condongcatur memiliki jumlah RT zona kuning terbanyak dari 86 kalurahan di Sleman. Jumlah RT zona kuning di kalurahan ini sebanyak 30 RT. Sementara di Caturtunggal 23 RT dan Mahuwoharjo 13 RT. Total di Kapanewon Depok terdapat 66 RT zona kuning.

Terbanyak kedua berada di Kapanewon Ngaglik dengan 65 RT zona kuning. Rinciannya, Sariharjo sebanyak 14 RT, Minomartani (14 RT), Sardonoharjo (12 RT), Sinduharjo (11 RT), Sukoharjo (8 RT) dan Donoharjo (6 RT). Tingkat kepadatan jumlah penduduk menjadi salah satu pemicu banyaknya penularan Covid-19 di kedua kapanewon ini.

Terbanyak ketiga Kapanewon Kalasan dengan total jumlah RT yang masuk zona kuning berjumlah 64 RT. Rinciannya, di Purwomartani sebanyak 20 RT, Tirtomartani (27 RT), Tamanmartani (12 RT) dan Selomartani (5 RT). "Kasus Covid-19 di Kalasan didominasi klaster keluarga dan tempat kerja. Kebanyakan kasus baru yang terjadi masuk kategori OTG atau orang tanpa gejala. Mereka melakukan isolasi mandiri di rumah," kata Panewu Kalasan Siti Anggraeni Susila Prapti.

Menurutnya, kelonggaran aturan PPKM Mikro ternyata tidak diimbangi dengan peningkatan kedisiplinan warga menerapkan protokol kesehatan. Kondisi tersebut berdampak pada penambahan kasus baru. Satgas, katanya, secara mobile terus melakukan sosialisasi dan pengawasan terkait protokol kesehatan. "PPKM Mikro sudah merambah ke RT/RW. Kami terus sosialisasi ke tempat umum, warung dan lainnya agar penerapan protokol kesehatan tidak kendor," katanya.

Nol Kasus

Dari 86 kalurahan di Sleman, hanya enam kalurahan yang tidak memiliki RT zona kuning atau nol kasus. Masing-masing berada di Sidorejo Godean, Sendangarum Minggir, dan Wukirharjo serta Gayamharjo Prambanan.

Kalurahan yang hanya memiliki 1 RT zona kuning, meliputi Sendangsari Minggir, Tridadi Sleman, Sumberrejo dan Merdikorejo Tempel, Donokerto Turi, Kepuharjo dan Umbulharjo Cangkringan.

Kapanewon Minggir menjadi kapanewon yang memiliki jumlah RT zona kuning terkecil sebanyak 9 RT, masing-masing di Sendangmulyo (4 RT), Sendangmulyo (2 RT), Sendangagung (2 RT), dan Sendangsari (1 RT). Adapun kapanewon lainnya jumlah RT zona kuning berjumlah belasan hingga puluhan RT.

Menurut Joko, PPKM cukup berpengaruh terhadap penurunan kasus. Secara nominal kasus baru positif turun secara signifikan. Jika dirata-rata, selama Januari tercatat 3.338 kasus di mana dalam sehari rata-rata 108 kasus, sedangkan Februari sekitar 1.400 kasus dengan rata-rata 50-60 kasus per hari.

"Semoga dengan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 kasus-kasus baru terus turun. Sebab penerapan protokol kesehatan 3 M tidak cukup sehingga perlu juga penerapan protokol 5 M dengan PPKM,".