Menikmati Sastra Melalui Media Digital

Para narasumber Sarasehan Bincang-Bincang Sastra yang digelar di Gedung Societet TBY, sedang memaparkan materi, Jumat (26 - 2).
01 Maret 2021 06:27 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Era Informasi Teknologi memaksa sejumlah media cetak untuk bertransformasi ke digital. Namun belum banyak karya sastra di media mainstream yang memanfaatkan media digital.

Hal ini diungkapkan Ilham Rabbani, salah satu narasumber dalam acara Sarasehan Bincang-Bincang Sastra (SBS) yang digelar di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Jumat (26/2) siang.

Selain Ilham Rabbani, acara yang digelar oleh TBY tersebut menghadirkan narasumber Tia Setiadi, redaktur puisi basabasi.co dan Jayadi Kastari, redaktur kolom kebudayaan Kedaulatan Rakyat. “Media digital bisa dimanfaatkan sebagai ruang untuk menikmati sastra yang mulai ditinggalkan oleh media cetak,” kata Ilham.

Penulis muda yang juga redaktur Jejakimaji.co tersebut memaparkan ruang-ruang digital yang bisa dimanfaatkan sastrawan muda untuk berekspresi ketika tidak mendapatkan ruang di media cetak. Menurut dia, distribusi media digital untuk saat ini lebih masif dan lebih luas jangkauannya meski belum familiar di masyarakat.

“Kalau dulu harus beli koran sekarang tinggal buka beberapa website yang dikelola komunitas langsung bisa menikmati karya-karya sastra yang bisa dihasilkan generasi baik generasi kini maupun generasi lawas,” kata Ilham.

Dalam kesempatan tersebut Ilham juga membagikan tips menulis sastra seperti puisi, esai, maupun cerpen. Dia merasakan bagaimana terjadinya perubahan pola penguatan karya antara meda cetak dan digital. Ilham bersama komunitas berusaha memanfaatkan media digital untuk menghadirkan karya-karya sastra dari masyarakat yang bisa dinikmati berbagai kalangan.

Sayangnya Sarasehan Bincang-Bincang Sastra dengan tema Transisi: Generasi Muda dan Dinamika Media Sastra ini tidak bisa menghadirkan banyak pennton secara langsung karena harus menyesuaikan dengan protokol kesehatan. Penonton harus menjaga jarak sehingga yang hadir juga dibatasi. Agar bisa ditonton lebih banyak orang, SBS disiarkan pula melalui media sosial TBY.  

Kepala Pengelola TBY, Diah Tutuko Suryandaru mengatakan Sarasehan Bincang-Bincang Sastra sudah lama digelar bahkan sejak 2006 dan saat ini merupakan edisi yang ke-175. Ia menyebut acara ini adalah wahana bagi sastrawan untuk menunjukkan kreasinya, juga sebagai wadah saling berbagi pengetahuan antarsastrawan muda dan tua.

Kegiatan SBS ini sempat vakum pada 2020 lalu selama 10 bulan karena pandemi Covid-19. Namun tahun ini tetap digelar dengan mengedepankan protokol kesehatan yang ketat, semua yang hadir harus melalui pemeriksaan suhu, cuci tangan, dan menjaga jarak sehingga yang hadir tidak sebanyak seperti sebelum pandemi.

“Namun acara ini tidak mengurangi semangat menyediakan ruang bagi para sastrawan saling berdiskusi baik dari generasi lawas maupun muda untuk terus menghasilkan karya-karyanya,” kata Diah.

Menurut Diah, era perkembangan teknologi informasi ini mengharuskan adanya perubahan media bagi sastrawan untuk menghasilkan karyanya. Dia meyakini sastrawan-sastrawan muda akan terus bermunculan. Maka perlu ada wadah untuk mereka berekpresi dan saling berbagi pengetahuan, salah satunya melalui Sarasehan Bincang-Bincang Sastra. (ADV)