SMK-SMTI Jogja Rakit GeNose untuk Bantu Warga

Siswa-siswi SMK-SMTI Jogja merakit alat deteksi Covid-19 GeNose di Gedung Teaching Factory SMK-SMTI Jogja, pada Jumat (26/2/2021). - Harian Jogja/Sirojul Khafid
04 Maret 2021 15:17 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kebijakan pemerintah menggunakan deteksi Covid-19 buatan UGM di sejumlah tempat membuat permintaan meningkat. Untuk mengejar target produksi, konsorsium bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk SMK-SMTI Jogja yang membantu dalam perakitan. Bagaimana prosesnya? Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Sirojul Khafid.

Menjelang pukul 13.00 WIB, salah satu anak memasuki Gedung Teaching Factory di Sekolah Menengah Kejuruan–Sekolah Menengah Teknologi Industri (SMK-SMTI) Jogja. Setelah mengenakan pakaian khusus, dia menuju ruang loker untuk mengganti sepatunya dengan sendal yang khusus pula.

Siswa itu tampak kesulitan mencari loker yang kosong untuk menyimpan tas. Beberapa kali dia membuka loker, tas siswa-siswi lain sudah tergeletak di dalamnya.

Setelah lebih dari 10 memeriksa loker, akhirnya dia dapat juga yang masih kosong. Siswa itu terlambat memasuki ruang perakitan GeNose. Pengarahan sebelum perakitan yang dipimpin oleh supervisi Kisma Aruna Candra dia lewatkan. Ia langsung menuju bagian perakitan yang menjadi tugasnya.

Kisma mondar-mandir mengecek 25 siswa-siswi dari SMK-SMTI Jogja yang sedang merakit GeNose, alat deteksi Covid-19 karya dosen Universitas Gadjah Mada tersebut.

Sesekali dia mengarahkan siswa-siswi melakukan sesuatu. Sebagai perwakilan dari PT. Stechoq Robotika Indonesia, salah satu konsorsium pembuatan GeNose, Kisma memastikan seluruh proses perakitan berjalan lancar.

Secara garis besar, ada tiga tahap membuat GeNose yaitu penyediaan bahan baku, perakitan, dan burn in. SMK-SMTI Jogja mendapat kepercayaan merakit GeNose. “Untuk menghasilkan satu unit GeNose disuplai oleh beberapa pemasok bahan. Bahan-bahan tersebut dikumpulkan di PT. Swayasa. Setelah melakukan QC [quality control], dikirim ke SMTI untuk dilakukan proses perakitan,” kata Kisma saat ditemui di SMK-SMTI Jogja pada Jumat (26/2).

Dalam perakitan ada beberapa tahap, yang secara garis besar terbagi menjadi dua. Pertama perakitan komponen tambahan, dan kedua perakitan komponen inti. Setelah komponen tambahan selesai, perakitan berlanjut pada komponen inti dengan penambahan sejumlah komponen lagi.

Salah satu proses yang cukup menantang yaitu perakitan sensor. Agar alat bekerja dengan baik, tingkat kebocoran sensor harus 0%. Setiap tahap ada QC untuk memastikan alat berfungsi. Apabila terdapat kesalahan atau kerusakan, harus diperbaiki dulu sebelum masuk tahap berikutnya.

Saat perakitan selesai, proses selanjutnya berada di PT. Swayasa, perseroan yang memegang hak cipta GeNose. Maka masuklah proses burn in. Pada proses ini, sensor dinyalakan selama 72 jam, supaya sensor tersebut bisa bekerja. Setiap unit akan dilakukan cek napas.

“Apakah GeNose berfungsi normal, bisa membaca napas tiap human atau enggak,” kata Kisma.

Kisma merupakan satu dari lima supervisi perakitan GeNose. Pekerjaannya cukup ringan lantaran siswa-siswi SMK-SMTI Jogja sudah terbiasa dengan komponen-komponen perakitan GeNose.

Sekolah dan Industri

Dari tiga jurusan yang ada di SMK-SMTI Jogja, perakitan GeNose dilakukan siswa-siswi jurusan Teknik Mekatronika dan Kimia Industri. Khusus untuk Teknik Mekatronika, pelajaran dan praktik setiap harinya juga tidak jauh-jauh dari yang mereka lakukan di perakitan GeNose ini. Keahlian dan sarana-prasarana yang memadai ini pula dasar kerja sama antara PT. Swasaya dengan SMK-SMTI Jogja.

Menurut Kepala SMK-SMTI, Rara Ening Kaekasiwi, sebelum mendapat kepercayaan untuk merakit GeNose, PT. Swayasa meninjau sarana-prasarana terlebih dahulu. Setelah memiliki kecocokan, barulah SMK-SMTI Jogja memulai perakitan GeNose pada akhir Januari 2021. SMK-SMTI Jogja menjadi satu-satunya tempat perakitan GeNose di Indonesia.

Ada serangkaian seleksi dan pelatihan bagi siswa-siswi yang merakit GeNose. Menurut Rara Ening, PT. Swayasa melihat siswa-siswi SMK-SMTI Jogja cepat dalam menyerap ilmu selama pelatihan. “Berbeda dengan tenaga kerja yang mereka punya background beragam, tidak spesifik [seperti Mekatronika]. Misal di luar [pekerja butuh waktu pelatihan] 10 hari, kami separuhnya saja. Itu kata mereka,” kata Rara Ening saat ditemui di SMK-SMTI Jogja pada Senin (1/3).

Kerja sama PT. Swayasa dan SMK-SMTI Jogja bukan hanya pada perakitan GeNose. Sebelumnya mereka bekerja sama dalam merakit ventilator untuk perawatan pasien Covid-19. Namun izin dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang belum keluar membuat pelaksanaan tertunda. “Tiba-tiba GeNose menyerbu. Kami alihkan yang tadinya sudah dilatih merakit ventilator dialihkan ke perakitan GeNose,” kata Rara Ening.

Siswa yang merakit GeNose berasal dari kelas XII dan XIII. Ada dua sif siswa-siswi dalam merakit. Sif pertama dari jam 08.00 WIB sampai 12.00 WIB. Sementara sif dua dari pukul 13.00 WIB sampai 16.00 WIB. Mereka bekerja enam hari selama sepekan.

Perakitan GeNose juga sebagai pengganti praktik kerja lapangan siswa-siswi tingkat akhir. Masa pandemi membuat perusahaan belum menerima siswa-siswi untuk magang.

“Ini ada industri, kami bilang magang di Jogja, di PT. Swayasa tapi tempatnya di sini [SMK-SMTI Jogja]. Itu seperti aturan magang industri, ada uang makan, uang harian, dan uang transport,” kata Rara Ening.

Rara Ening berterima kasih bisa turut berkontribusi merakit GeNose, salah satu alat yang banyak dibutuhkan untuk mendeteksi Covid-19. Kepercayaan ini sebagai bukti pengakuan industri terhadap kualitas siswa-siswinya. Ia berharap kerja sama bisa berlanjut pada segmen lain ke depannya.

Salah satu siswa yang ikut merakit GeNose, Putri Meirelia dari jurusan Kimia Industri mengaku sempat kesulitan. Namun seiring berjalannya waktu, berlaku ungkapan “alah bisa karena biasa.”  Kini dia justru merasa senang. “Seru, karena kan niat awalnya [membantu buat alat] deteksi Covid-19. Tambah teman juga karena beda jurusan,” kata Putri saat ditemui di sela-sela merakit GeNose pada Senin.

Bagian yang paling sulit, menurut Putri, saat mengencangkan baut atau mur. Kadang kala tidak pas dengan alat yang dia rakit. Selama bekerja empat dan kadang lima jam, Putri dan teman-temannya terus berdiri.

Saat awal-awal merakit pada akhir Januari 2021, sehari bisa menyelesaikan 50 unit sampai 100 unit GeNose. Namun permintaan yang terus meningkat membuat target bertambah. Sekarang setiap hari mereka merakit 300 GeNose. “Sekitar Rp700.000 sampai Rp1 juta perbulan. Tergantung berapa jam kerjanya,” kata Putri terkait bayaran merakit GeNose. “Sudah lumayan, masih magang juga kan,” katanya.

Putri berharap GeNose yang dia dan teman-temannya rakit bisa membantu masyarakat. Selain itu, perakitan GeNose di SMK-SMTI Jogja juga sebagai pengalaman nantinya bekerja di dunia industri.

Masa magang Putri sekitar dua sampai tiga bulan, sebelum nantinya ada yang menggantikan. Namun sepertinya Putri perlu bekerja lebih keras. Pesanan GeNose masih menumpuk dan menunggu diselesaikan. Terlebih ada wacana setiap stasiun, bandara, terminal, dan tempat publik lain menggunakan GeNose untuk deteksi Covid-19. Saat ini sudah ada pesanan GeNose sebanyak 10.000 unit. Sementara hingga Februari baru tercapai 3.000 unit.