Harga Cabai Untungkan Petani, Pemkab Tak Gelar Operasi Pasar

Ilustrasi tanaman cabai. Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati
04 Maret 2021 13:07 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Harga komoditas cabai yang dijual di atas Rp100.000 perkg dinilai menguntungan kalangan petani di masa pandemi saat ini. Oleh karenanya, Pemkab Sleman tidak akan menggelar operasi pasar.

Kenaikan harga komoditas cabai terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Harga komoditas cabai sebelumnya sempat melonjak sejak akhir tahun hingga awal tahun karena permintaan pasar yang tinggi. Harga cabai secara berangsut sempat turun hingga akhir Januari, namun secara bertahap kembali naik mulai pertengahan Februari hinggi Maret ini.

Ketua Perkumpulan Petani Hortikultura Puncak Merapi (PPHPM) Sleman Inoki Azmi Purnomo mengatakan berdasarkan informasi yang ia terima, kenaikan harga cabai saat ini lebih dipengaruhi hasil panen yang tidak baik seiring musim penghujan. "Info yang kami terima karena daerah sentra cabai panennya kurang bagus," katanya saat dikonfirmasi Harianjogja.com, Kamis (4/3/2021).

BACA JUGA : Harga Cabai Rawit di Bantul Tembus Rp80.000

Selain hasil panen yang tidak menggembirakan di sentra pertanian cabai, kata Inoki, biaya operasional juga mengalami kenaikan. Di mana harga pupuk dan sarana produksi setiap tahun mengalami kenaikan sehingga kondisi tersebut memengaruhi biaya produksi petani.

Meski saat ini lonjakan harga cabai cukup menguntungkan para petani, sambung Inoki, namun hal itu bukan hal yang diinginkan petani. Para petani cabai lebih suka jika harga cabai menguntungkan secara berkesinambungan. "Yang diharapkan petani harga yang menguntungkan secara kontinyu dan bukan fluktuatif kadang tinggi dan kadang sangat rendah," katanya.

Untuk mempertahakan harga komoditas ini agar tetap menguntungkan petani, PPHPM setiap hari menggelar lelang cabai di Bunder Purwobinangun Pakem. Kegiatan lelang cabai PPHPM bekerjasama dengan banyak pedagang agar petani memperoleh harga terbaik.

"Setiap hari kami melaksanakan lelang cabai dengan aplikasi secara online. Kalau lembaga kami yang tiap hari melaksanakan lelang cabai rata-rata saat ini 1,5 ton perhari," ujarnya.

BACA JUGA : Semakin Pedas, Harga Cabai Rawit Merah di Jogja Tembus 

Di Sleman, katanya, sentra pertanian cabai lumayan banyak. Para petani cabai tersebar di sejumlah kapanewon. Mulai Kapanewon Pakem, Turi, Tempel, dan Sleman. Selain itu, para petani cabai juga tersebar di Ngemplak, Kalasan, Ngaglik dan Seyegan. Hanya saja untuk tempat lelang berlokasi di PPHPM di Bunder.

"Kalau di Sleman petani tidak menanam cabai secara serentak dalam hamparan luas. Kondisi berbeda di luar Sleman di mana centra cabai kabupaten lain petaninya menanam secara serentak dalam hamparan yang luas," terangnya.

Salah seorang petani cabai di Pakem, Awan Turseno. Menurut Awan, pertanian cabainya masih tergolong kecil. Rabu (3/3) kemarin, ia sudah memanen semua cabainya. "Ya hasilnya paling 15-17 kilogram. Ya lumayan, panen sitik tapi regane selangit [panen sedikit harga mahal]," katanya.

Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman Haris Martapa mengatakan saat ini harga cabai mengalami kenaikan. Selain adanya pergantian musim, harga cabai naik akibat berkurangnya pasokan di pasaran. "Pasokan berkurang karena faktor cuaca. Banyak tanaman cabai yang terkena patek atau antraknosa," ujar Haris.

Pada Februari kemarin, kata Haris, sebenarnya petani melakukan panen cabai. Lantaran permintaan cabai masih tinggi sementara stoknya sudah mulai habis, maka terjadi kenaikan harga. Menurutnya, kebutuhan cabai rawit di Sleman sekitar 178.000 kg per bulan. Selama tahun lalu, stok cabai rawit surplus dan tidak mengalami lonjakan harga. "Harga di pasar lelang saat ini juga sudah di atas 100.000 untuk cabai rawit,"ujarnya.

BACA JUGA : Ini Langkah Pemkab Sleman untuk Menekan Harga Cabai

Meski terjadi kenaikan harga untuk komoditas ini, Haris menegaskan jika Pemkab tidak akan melakukan operasi pasar. Selaih bukan termasuk barang kebutuhan pokok dan penting, komoditas cabai masih bisa dipasok dari daerah lain.

"Tidak ada rencana operasi pasar karena itu bukan barang pokok penting. Saat ini untuk stok cabai untuk level nasional khususnya Pulau Jawa mengandalkan stok dari Jawa Timur," kata Haris.