Pendapatan Gunungkidul 2027 Diproyeksikan Rp1,9 Triliun
Pendapatan Gunungkidul 2027 diproyeksikan Rp1,903 triliun, sementara belanja mencapai Rp1,970 triliun dengan defisit Rp67,11 miliar.
Sejumlah warga memperbaiki terpal pelindung petak-petak untuk budidaya garam di Pantai Dadapayam, Kalurahan Kanigoro, Saptosari, Senin (15/3/2021). /Ist- Dok Kelompok Petani Garam di Pantai Dadapayam
Harianjogja.com, TANJUNGSARI – Petani garam Gunungkidul menolak wacana impor garam yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat. Untuk memenuhi kebutuhan garam bisa dilakukan dengan memaksimalkan potensi yang dimiliki.
Ketua Kelompok Budidaya Garam di Pantai Sepanjang, Winarto mengatakan, potensi pengembangan garam di Indonesia sangat luas karena garis pantai yang dimiliki sangat panjang. Oleh karenanya, ia mengaku menyayangkan adanya rencana impor garam oleh Pemerintah Pusat. “Mosok
dengan potensi yang dimiliki garam harus impor. Harusnya, dengan potensi laut yang dimiliki bisa mencukupi kebutuhan dalam negeri,” katanya, Selasa (16/3/2021).
Menurut dia, optimalisasi dalam produksi bisa dilakukan dengan memberikan pendampingan secara berkelanjutan. Winarto mengakui, pendampingan dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya dalam pengelolaan. “Harapannya juga didukung peralatan sehingga hasilnya dapat dimaksimalkan,” katanya.
Disinggung mengenai budidaya, ia mengakui produksi garam di Pantai Sepanjang sempat berhenti produksi. Meski demikian, upaya menghidupkan kembali mulai dilakukan sehingga dapat kembali memproduksi garam. “Untuk hasilnya produksi bagus karena satu lokasi bisa menghasilakn 100 kilogram dalam sekali panen,” katanya.
Selain di Pantai Sepanjang, budidaya garam juga dilakukan di Pantai Dadapayam di Kapanewon Saptosari. Ketua Kelompok Budidaya Garam Dadap Makmur, Triyono mengatakan, pihaknya baru akan mulai menghidupkan produksi setelah satu tahun berhent operasi. Langkah pertama melakukan perbaikan lokasi budidaya serta memasang mesin pompa baru.
“Kebetulan ada bantuan. Kerusakan pompa menjadi salah satu penyebab proses budidaya berhenti produksi,” katanya.
Dia pun berharap pemerintah bisa lebih perhatian, salah satunya membantu dalam proses pemasaran. Sebelum berhenti beroperasi, ia mengakui petani agak kesulitan memasarkan, sedangkan dari sisi harga juga dinilai belum bersahabat.
“Sebulan bisa menghasilkan delapan kuintal garam. Sedangkan untuk harga dijual Rp3.000 per kilonya. Kami berharap ada perhatian sehingga proses budidaya bisa membantu meningkatkan kesejahteraan para anggota pembudidaya,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pendapatan Gunungkidul 2027 diproyeksikan Rp1,903 triliun, sementara belanja mencapai Rp1,970 triliun dengan defisit Rp67,11 miliar.
PQN Jateng 2026 mencatat 33.087 transaksi QRIS senilai Rp149,78 juta. Edukasi digital menyasar kampus, sekolah hingga transportasi.
DPRD Sleman mendorong pembudidaya ikan beralih dari cara tradisional ke teknologi untuk meningkatkan produktivitas di tengah keterbatasan lahan.
Memperingati 14 tahun UUK DIY, Malioboro menjadi panggung seni Memetri Jogja Merawat Nusantara sekaligus donasi korban bencana NTT.
Festival Mustika Rasa di Alun-Alun Kidul Jogja ditutup. Yan Kurnia Sutanto mendorong pelestarian kuliner tradisional dan kedaulatan pangan.
Chelsea resmi merekrut Emiliano Martinez dari Aston Villa dengan kontrak tiga tahun. Kiper Argentina itu ditebus sekitar 7,5 juta pound sterling.