Advertisement
Pantai Sepanjang di Gunungkidul Hasilkan 2,2 Ton Garam

Advertisement
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Gunungkidul menyampaikan produksi garam selama 2023 mencapai 2.211 kilogram atau 2,2 ton. Garam tersebut hanya diproduksi oleh petani garam di Pantai Sepanjang.
Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP Gunungkidul, Wahid Supriyadi mengatakan kawasan penghasil garam di Gunungkidul berada di Pantai Sepanjang, Siung, dan Dadapayam. Meski demikian, dari tiga tersebut, hanya petani di Pantai Sepanjang yang tahun lalu masih memproduksi garam.
Advertisement
“Tahun 2023 hanya Pantai Sepanjang yang masih aktif memproduksi garam. Sisanya berhenti operasi karena kerusakan sarana prasarana produksi,” kata Wahid, Kamis (29/2/2024).
Wahid menambahkan tiga kawasan tersebut telah memproduksi garam sejak 2017 yang dimulai dari pelatihan oleh DKP DIY. Menurutnya, produksi garam yang ada masih tergolong industri kecil dikarenakan keterbatasan lahan. Lahan produksi juga berhimpitan dengan ektor wisata. Selain itu, terbatasnya alat produksi dan personel juga menjadi persolan.
Adapun terkait dengan bantuan sarana prasarana, DKP Gunungkidul pada 2024 hanya mampu memberikan bantuan pembinaan informal. Sasarannya lebih kepada monitoring produksi agar pembuatan garam berjalan rutin.
“Kebetulan sarana produksi belum ada yang disalurkan, kebanyakan dari DKP DIY dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Anggarannya tidak ada,” katanya.
BACA JUGA: Muncul Angin Puting Beliung di Gunungkidul, Ini Penjelasan BMKG
Lebih jauh, Wahid mengakui petani garam pernah mandapat bantuan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY untuk pengurusan izin SNI dan izin makanan dalam (MD) BPOM. Sampai saat ini, pasar petani garam masih berada di tingkat lokal. “Di samping juga ada bundling dengan wisata edukasi garam,” katanya.
Kepala Bidang Industri Dinas Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, dan Tenaga Kerja (DPKUKMTK) Gunungkidul, Hartini mengatakan pihaknya belum memiliki program bantuan sarana prasarana produksi bagi petani garam. Bantuan hanya sebatas pembinaan dan pendampingan.
“Persisnya mendorong dan mengarahkan terkait manajemen produksi, seperti kehigienisan produk dan proses produksinya, kemasan, legalitas usaha,” kata Hartini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement

Penjualan Tiket Bus Lebaran di Sukoharjo Lesu, Banyaknya PHK Diduga Jadi Penyebab
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Polres Bantul Belum Simpulkan Penyebab Kematian Warga Wonogiri yang Ditemukan di Kali Code
- Sempat Jadi Pintu Masuk, Exit Tol Tamanmartani Dialihkan Jadi Pintu Keluar Kembali
- Ribuan Orang Padati Pantai Parangtritis, Mayoritas Rombongan Keluarga
- Dishub Kota Jogja Pasang APILL Portable, Ini Lokasinya
- Setelah Lebaran, Mobilitas Warga DIY untuk Silaturahmi
Advertisement
Advertisement