80 Persen UMKM di DIY Belum Gunakan Teknologi Internet

Diskusi daring Pemanfaatan IT dalam Mendukung UMKM Berdaya Saing, Jumat (20/3/2021) sore. - Ist/ tangkapan layar Zoom.
20 Maret 2021 11:57 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Jumlah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di DIY mencapai lebih dari 521.000 yang tersebar di kabupaten dan kota. Tetapi dari jumlah tersebut hanya sebagian kecil saja yang memanfaatkan teknologi, baik dalam usaha marketing maupun produksi.

Hal ini dibahas dalam diskusi daring Pemanfaatan IT dalam Mendukung UMKM Berdaya Saing, Jumat (20/3/2021) sore. Anggota Komisi I DPR RI Sukamta mengatakan, berdasarkan data BPS, jumlah UMKM di DIY tercatat 521.011 yang didominasi nonpertanian dengan angka 98,7%. Dari jumlah itu terdiri atas Sleman 140.395 UMKM, Bantul 138.332 UMKM, Gunungkidu 111.655 UMKM, Kota Jogja 66.575 UMKM dan Kulonprogo ada 64.054 UMKM.

Mereka menghadapi sejumlah persoalan seperti gagap teknologi, kurang inovasi, modal terbatas hingga tidak memiliki badan hukum. "Bahkan ada sekitar 87,22 persen UMKM di DIY ini yang tidak menjalin kemitraan lalu 97,67 persen tidak berbadan hukum," katanya.

Baca juga: Aplikasi Mandiri Online Error, CS Sarankan Begini

Ia menambahkan sebagian besar jumlah UMKM tersebut tidak menggunakan teknologi. Padahal di era saat ini teknologi sangat dibutuhkan oleh pelaku UMKM agar memiliki daya saing. Mereka lebih mengedepankan penjualannya secara manual, terbukti ada 90,96% UMKM di DIY ini tidak menggunakan komputer dalam usahanya.

"UMKM di DIY yang memakai komputer hanya sekitar 9 persen, yang tidak menggunakan internet bahkan mencapai 81,66 persen," ujarnya.

Politikus PKS ini mencontohkan sebuah pabrik mie di Bantul yang sangat legendaris dan banyak peminatnya, hingga saat ini masih menggunakan cara tradisional sehingga hasil produksinya terbatas dan tidak memiliki pengeringan akibatnya terkendala saat musim hujan. Ia meyakini, jika usaha kecil ini mendapatkan dukungan teknologi, maka hasil produksinya banyak dan kualitasnya bisa dipertahankan. Oleh karena itu ia mendorong agar UMKM lebih percaya diri untuk melakukan komunikasi dengan perguruan tinggi yang memiliki kemampuan untuk mengembangkan teknologi UMKM.

Baca juga: 40 Unit GeNose Akan Disebar di Jawa Tengah

"Mie lethek yang di Bantul ini luar biasa, banyak peminat, tetapi produksinya masih menggunakan tradisional, digiling dengan tenaga sapi. Dijemur dengan matahari, kalau musim hujan mereka menemui kendala," ujarnya.

Pendiri Rumah Mesin Mashuri menyatakan dalam pengamatannya saat ini memang mulai banyak yang melakukan transaksi digital tetapi lewat marketplace. Tetapi jumlah masih tergolong sedikit dibandingkan keseluruhan UMKM di DIY yang mencapai ratusan ribu. Di sisi lain, UMKM yang menggunakan teknologi dalam pemasarannya, jarang yang secara khusus menggunakan website.

"Yang menggunakan teknologi ini mereka lebih banyak pakai marketplace, sehingga kadang dibajak oleh pembeli asing lalu diborong untuk dijual lagi. Padahal jika menggunakan website, dengan memanfaatkan SEO tentu produknya akan terlacak di google," katanya.