BOB Dampingi 7 Desa Wisata di Menoreh Terapkan Protokol Kesehatan

Pelatihan SDM pariwisata di Desa Wisata, Ngargosari, Kulonprogo, Rabu (24/3/2021). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
24 Maret 2021 22:27 WIB Hafit Yudi Suprobo Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-- Sebanyak tujuh desa wisata yang ada di tiga kabupaten yakni Kulonprogo, Purworejo, dan Magelang menjadi sasaran pelatihan dan pendampingan CHSE atau penerapan protokol kesehatan yang berbasis pada Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment Sustainability (Kelestarian Lingkungan) yang dilakukan oleh Badan Otorita Borobudur (BOB).

Direktur Industri dan Kelembagaan Badan Otorita Borobudur, Bisma Jatmika, mengatakan rangkaian kegiatan pelatihan dan pendampingan CHSE menyasar sumber daya manusia (SDM) pariwisata dan ekonomi kreatif di Jawa Tengah dan DIY tersebut dilaksanakan pada 15 Maret hingga 6 April 2021.

CHSE yang dilakukan kepada SDM pariwisata dan ekonomi kreatif di Jawa Tengah dan DIY meliputi sosialisasi, pelatihan, pendampingan yang dilaksanakan pada 15 Maret hingga 6 April 2021 di tujuh desa wisata, yaitu Desa Pandanrejo, Kecamatan Kaligesing, Purworejo; Desa Sedayu, Kecamatan Muntilan, Magelang; Desa Benowo, Kecamatan Bener, Purworejo; Desa Ngargoretno, Kecamatan Salaman, Magelang; Kalurahan Ngargosari, Kapanewon Samigaluh, Kulonprogo; Kalurahan Gerbosari, Kapanewon Samigaluh, Kulonprogo dan Kalurahan Pagerharjo, Kapanewon Samigaluh, Kulonprogo.

Baca juga: Bawa Kabur Peralatan Tukang, Pria Purworejo Terancam 4 Tahun Penjara

“Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan SDM pariwisata untuk menghadapi adaptasi kebiasaan baru (AKB) di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif," papar Direktur Industri dan Kelembagaan Badan Otorita Borobudur, Bisma Jatmika saat membuka kegiatan pelatihan SDM pariwisata di Desa Wisata, Ngargosari, Kulonprogo, Rabu (24/3/2021).

Menurut Bisma, materi terkait sosialisasi, pelatihan, pendampingan, dan pernyataan sikap adaptasi kebiasaan baru berupa sosialisasi kebijakan daerah, implementasi protokol adaptasi kebiasaan baru, penghitungan carrying capacity, alur wisatawan, pemetaan zonasi wisatawan, traffic management di destinasi dan verifikasi kesiapan pengelola dalam menyambut AKB.

“Selain itu, BOB juga telah memberikan dukungan sarana dan prasarana dalam menunjang implementasi AKB kepada pengelola bagi tujuh desa wisata tersebut," tutur Bisma.

Baca juga: Ajak Duduk Bersama, Bupati Sunaryanta Coba Selesaikan Permasalahan di Gua Pindul

Menurut Bisma, sebagai persiapan menuju implementasi AKB di dalam dunia pariwisata, maka perlu dilakukan penyesuaian tata laksana kunjungan wisatawan sesuai dengan aturan dan protokol kesehatan di daya tarik wisata. Protokol kesehatan yang telah disusun perlu disosialisasikan kepada pengelola daya tarik wisata agar bersiap dan sebagai upaya untuk memenuhi protokol tersebut.

Pemenuhan protokol tersebut, kata Bisma, akan dilakukan dan dikawal agar sesuai dengan panduan yang telah ditetapkan. Pada akhirnya, lanjut Bisma, daya tarik wisata yang telah memenuhi protokol akan mendapatkan pengakuan berupa sertifikat Self Declare sehingga akan meningkatkan rasa kepercayaan kepada wisatawan saat berkunjung ke daya tarik wisata.

"Pelatihan dan pendampingan ini sebagai wujud kepedulian kita bersama untuk mendukung Destinasi dalam pemenuhan dan penerapan protokol kesehatan sebagai antisipasi terhadap penyebaran virus Covid-19. Pendampingan dilakukan secara langsung oleh tim teknis dari Lembaga Sertifikasi," tutup Bisma.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kulonprogo, Joko Mursito, mengatakan langkah sosialisasi terkait adaptasi kebiasaan baru dan pelatihan terhadap sumber daya manusia pariwisata yang ada di desa wisata yang berasal dari tiga kabupaten yang dilakukan oleh BOB merupakan upaya persiapan kepada pengelola desa wisata untuk mengimplementasikan protokol pencegahan penularan Covid-19 di masing-masing desa wisata.

"Masyarakat diedukasi supaya mereka siap jika pandemi Covid-19 sudah melonggar untuk menerima tamu yang ingin berkunjung. Dalam pelatihan yang diberikan ada teori dan praktek ya. Teori dulu kemudian praktek langsung di objek wisata," kata Joko.