Desa Wisata di Sleman Tak Terburu Buka Kunjungan Penuh Meski Ada Kelonggaran

Sejumlah penari membawakan tari klasik dengan mengenakan face shield, Minggu (23/8/2020). - Istimewa/Dispar Sleman
25 Maret 2021 06:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Desa-desa wisata di Sleman tak ingin buru-buru membuka layanan secara vulgar kepada wisatawan. Mereka masih menunggu perkembangan Covid-19 meski pun banyak kelonggaran aturan yang dikeluarkan pemerintah.

Ketua Forum Komunikasi Desa Wisata Sleman Doto Yogantoro mengatakan desa-desa wisata di Sleman belum secara vulgar membuka layanan wisata kepada masyarakat. Para pengelola desa wisata, lebih menggunakan waktu luang selama pandemi Covid-19 untul melakukan pembenahan-pembenahan.

BACA JUGA : BOB Dampingi 7 Desa Wisata di Menoreh Terapkan Protokol 

"Jadi untuk kunjungan langsung wisatawan ke desa wisata tidak kami buka secara vulgar. Misalnya untuk menginap di home stay, kami minta dilakukan reservasi dulu karena kami tidak melayani tamu yang langsung datang," katanya, Rabu (24/3/2021).

Kebijakan tersebut diambil, kata Doto, untuk menghormati masyarakat yang ingin tetap mempertahankan zona hijau di sekitar desa wisata. Meski begitu, ungkap Doto, bukan berarti tidak ada tamu atau wisatawan yang datang ke desa wisata. Minat tamu untuk datang dan belajar di desa wisata masih tetap tinggi.

"Ya kami hanya melayani paket yang datang dengan kelompok kecil. Yang datang ada lima rombongan, satu rombongan terdiri dari 30 orang. Datangnya ya belajar," ujarnya.

Rombongan wisatawan yang datang ke lokasi desa wisata, lanjut Doto, juga melakukan reservasi sebelumnya. Tidak langsung datang ke lokasi sehingga pengelola desa wisata bisa memiliki waktu untuk menyiapkan kegiatan sesuai dengan protokol kesehatan. Jika tidak, maka pengelola desa wisata meminta agar rombongan menginap di hotel saja.

BACA JUGA : Rintis Desa Wisata, Warga Pules Kidul Tanam 100 Pohon

Sejatinya lanjut Doto, desa-desa wisata di Sleman sudah siap dengan protokol kesehatan. Namun untuk mencegah munculnya penularan Covid-19 di masyarakat sekitar desa wisata sambil menunggu program vaksinasi selesai, desa wisata di Sleman masih belum beroperasi secara penuh.

"Apalagi sebentar lagi puasa, ya mungkin setelah Ramadan kami akan merelauncing kembali desa wisata ini untuk umum. Tentu secara bertahap. Kami lebih menghargai dan menghormati keinginan masyarakat," ujarnya.

Pemkab Sleman sendiri terus berupaya mengembangkan inovasi untuk menarik daya tarik wisatawan selama masa pandemi Covid-19 ini. Dinas Pariwisata Sleman pun menyiapkan sejumlah event pariwisata untuk menarik daya tarik wisatawan. Salah satunya event Sleman Temple Run yang rencananya digelar pada Juli mendatang.

BACA JUGA : Adaptasi Kebiasaan Baru, 17 Kampung Wisata Siap Jadi

"Kami berharap event Sleman Temple Run pada tahun ini tetap bisa dilaksanakan untuk menarik minat wisatawan datang ke Sleman dan menaikkan kembali pendapatan asli daerah (PAD)," kata Plt. Kepala Dinas Pariwisata Sleman, Suci Iriani.

Menurutnya, kebangkitan sektor pariwisata dapat membantu mengangkat subsektor lainnya seperti UKM, bidang jasa dan lainnya. Selama ini, sektor pariwisata juga menyumbang PAD sebesar 25% dari APBD. Sayangnya  pandemi Covid-19 membuat kunjungan wisatawan drastis dari 10 juta wisatawan pada 2019 menjadi hanya 4 juta wisatawan.