BINCANG-BINCANG SASTRA: Mengingat Iman Budhi Santosa Sebagai Nunggak Semi

Dari kiri ke kanan, Pawang Surya Kencana, Hasta Indriyana, dan Suminto Sayuti dalam acara Bincang-Bincang Sastra Edisi 176 bertema Nunggak Semi: Dunia Iman Budhi Santosa di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta, Minggu (28/3). (Harian Jogja - Sirojul Khafid)
29 Maret 2021 06:47 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA–Dalam dunia sastra Indonesia nama Iman Budhi Santosa (IBS) ada dalam jajaran sastrawan berpengaruh. Kisah IBS dan kiprahnya menjadi bahan diskusi dalam Bincang-Bincang Sastra Edisi 176 bertema Nunggak Semi: Dunia Iman Budhi Santosa, di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Minggu (28/3).

Pawang Surya Kencana bercerita tidak begitu mengenal ayahnya, Iman Budhi Santosa (IBS), khususnya dalam pergulatannya di dunia sastra. Dalam kehidupan internalnya di rumah, IBS jarang membicarakan sastra dengan Pawang. Misalpun berbicara, hanya sedikit sekali. Obrolan putra sulung IBS dengan ayahnya berputar pada hal-hal kekinian atau masa lalu.     

Pawang juga bercerita bahwa IBS sempat berpindah daerah tinggal beberapa kali. Pernah juga bekerja sebagai pegawai di Dinas Perkebunan. Namun pada 1987, IBS kembali ke Jogja dan meninggalkan pekerjaannya sebagai pegawai. Pawang menerka bahwa ayahnya merasa tidak cocok ataupun tidak mendapat sesuatu yang dia cari.

“Kembali ke Jogja sebagai pangkuan batinnya. Sejak 1987 mendedikasikan hidupnya untuk sastra. Fokus 100 persen diberikan untuk sastra, untuk kemaslahatan sastra,” kata Pawang di TBY, Minggu (28/3).

Pawang dan pihak keluarga lain akhirnya memahami IBS bukan semata-mata milik mereka. Namun IBS sudah menjadi milik bersama, termasuk sastra dan bangsa Indonesia.

Pawang melihat IBS sebagai sosok yang sering berinteraksi dengan masyarakat kecil, bersahaja, dan relatif pendiam. Dalam kesehajaannya, IBS merupakan pria yang nyaris bisa apa saja, seperti bertukang, olahraga, dan lainnya.

Dalam acara ini dirilis buku berjudul Nunggak Semi: Dunia Iman Budhi Santosa. Buku ini berisi kumpulan tulisan pengalaman bersama IBS dari murid, rekan, sahabat dan lainnya. Hasta Indriyana merupakan salah satu penulis buku tersebut.

Hasta yang menganggap IBS sebagai guru, mengingat masa-masa lampau. Kala itu Hasta sering berkunjung ke rumah IBS, hampir setiap minggu, bahkan nyaris setiap hari. Dalam obrolan ngalor ngidul dan sampai dini hari ini, Hasta banyak belajar dari IBS. Bagi Hasta, IBS bukan guru yang senang berceramah atau berteori. Namun lebih kepada diskusi atau memberikan contoh pada perbuatannya.

 

Mengamati Persoalan

Hasta juga mengambil pelajaran dari IBS untuk banyak mengamati persoalan masyarakat. Misal perlu juga bertanya dengan masyarakat langsung. Hal ini berdampak pada pemikiran Hasta. Kala itu dia mendapat undangan untuk membahas permasalahan kemiskinan. Namun diskusi berada di hotel mewah dengan segala fasilitasnya.

“Itu bukan dunia IBS,” kata Hasta. “[Saya] tidak jadi ikut acara itu. Menulis orang kecil, dekatilah, amatilah, sampai kamu tahu betul sari patinya.”

Berbeda lagi pengalaman Suminto A. Suyuti sebagai sahabat IBS. Sebagai juri anugerah sastra dari Dinas Kebudayaan Jogja, Suminto tahu apabila saat itu MH Ainun najib tidak pernah mau menerima anugerah sastra. Pada suatu rapat pemberian anugerah sastra, Suminto mengusir IBS yang kala itu juga sebagai juri. Tentu IBS kaget. Suminto kemudian meminta juri lain untuk menggantikan IBS. “Pada rapat berikutnya, saya bilang sudah saatnya Mas Iman [IBS] diberi anugerah sastra oleh Dinas Kebudayaan. Setelah itu baru MH Ainun Najib mau [menerima anugerah sastra],” kata Suminto.

Secara garis besar, Nunggak Semi merupakan kebijakan untuk terus mengembangkan kebudayaan tanpa menghilangkan akar dari kebudayaan itu sendiri. Bagi para pembicara, IBS telah memberikan akar kehidupan sastra dan telah bersemi melalui karya, murid, dan bentuk lainnya. Pada 28 Maret juga merupakan tanggal lahir IBS. Dia meninggal dunia pada 10 Desember 2020 pada usia 72 tahun. (ADV)