Masyarakat Diajak Terapkan Moderasi Agama untuk Tangkal Radikalisme

Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kantor Kemenag Bantul, Basori Alwi. - Harian Jogja/Catur Dwi Janati.
07 April 2021 09:17 WIB Catur Dwi Janati Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Diringkusnya sejumlah orang terduga teroris di Bantul ditanggapi cepat oleh Kodim 0729/Bantul dengan menggelar Pembinaan Komunikasi Cegah Tangkal Radikalisme/Separatisme di Aula Makodim, Bantul. Para peserta dari berbagai kalangan dalam momen tersebut diajak untuk mampu memoderasi agama di lingkungannnya.

Berperan sebagai salah satu pemateri, Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kantor Kemenag Bantul, Basori Alwi menyampaikan terduga teroris muncul dari kalangan yang kurang mendapat pemahaman sesuai dengan kaidah yang baik dan berbangsa yang baik.

"Sehingga ketika dia memahami kebangsaan dan agama secara parsial, padahal secara umum agama membimbing dan memberikan pencerahan semua umat," terangnya pada Selasa (6/4/2021).

BACA JUGA : Kader PKS Siap Bendung Radikalisme dan Terorisme

Basori menggunakan perumpamaan agama layaknya masakan gulai. Dalam gulai terdapat berbagai unsur bahan mulai dari garam, daging, gula, cabai hingga laos.

"Ketika semua bahan ada maka akan menjadi enak dan bagus. Tetapi ketika diterima hanya parsial, misalnya sapat laosnya saja, gulai itu pengar. Agama juga gitu, ada yang tegas, ada yang rahmat, ada yang mengajak kebaikan, kalau itu diramu dan diolah dengan kebangsaan serta mendapat pencerahan dari guru yang benar, insyaallah akan memahami agama dengan baik," tandasnya.

Disebutkan Basori upaya pemantauan dan pencegahan pandangan radikalisme telah dilakukan melalui tim penyuluh Kemenag. Di masing-masing Kapanewon terdapat 8-10 penyuluh Kemenag.

"Mulai dari situ punya binaan di masyarakat, kuncinya adalah tadi yang saya sampaikan. Moderasi agama itu menjadi penting. Sehingga di Kemenag semua lini dan semua program harus menyinggung moderasi agama," tegasnya.

"Moderasi agama mengamalkan agama yang tengah-tengah. Tidak ekstrem kanan tidak ekstrem kiri. Itu sesuai dengan surat Al-Baqoroh 143," imbuhnya.

Pembinaan di lembaga pendidikan Islam pun tak luput dari pantauan Kemenag. Meski selalu melakukan pengawasan, Basori tak menampik ada beberapa pondok eksklusif yang memiliki majelis khusus.

BACA JUGA : Dai DIY Dukung Pencegahan Radikalisme

"Beberapa pondok eksklusif yang memiliki majelis khusus tapi ketika kita mau masuk terkadang juga sedikit mengalami kesulitan. Karena ketika mau masuk mereka menawarkan majelis-majelis yang sifatnya umum, tapi sebenarnya ada majelis-majelis khusus yang diikuti orang-orang khusus," tegasnya.

"Inilah salah satu ciri radikalisme, terorisme, dia memahami belajar agama itu dengan eksklusif, orang lain tidak boleh masuk. Dia memahami sendiri, di situlah dia menjustifikasi orang di luar itu menjadi salah. Ini yang memang menjadi tugas kita bersama," ucapnya.

Basori menyebutkan Kemenag Bantul telah lama mendampingi beberapa lembaga pendidikan yang dalam tanda kutip memahami pendidikan secara salah. Saat ini ada dua majelis atau lembaga pendidikan yang menurut Basori masuk dalam kategori ekslusif atau susah dimasuki tim Kemenag.

"Dulu enggak mau hormat bendera juga ada. Kemudian kami dampingi, kita jelaskan, ada delapan tahun baru sekarang bisa menghormati," ujarnya.

Kasdim 0729/Bantul, Mayor Inf Joko Susilo pada kesempatan tersebut meminta agar wawasan kebangsaan agar ditegakkan oleh masyarakat Bantul. Dampaknya radikalisme dan separatisme bisa ditekan, mulai dari pembinaan dan pemberian wawasan ke warga sekolah maupun lingkungan terdekat.