Cegah Abrasi, Pantai Baron Dibangun Talut

Pengunjung Pantai Baron terlihat menyeberang di atas buis beton yang dipasang untuk pembangunan talut, guna mengurangi risiko abrasi, Sabtu (15/5/2021). - Harian Jogja/David Kurniawan.
18 Mei 2021 06:27 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, TANJUNGSARI – Pemkab Gunungkidul membangun talut senilai Rp2,8 miliar di Pantai Baron, Kalurahan Kemadang, Tanjungsari. Diharapkan talut ini bisa mengurangi kerusakan akibat abrasi di kawasan tersebut.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edi Basuki mengatakan, pembangunan talut sudah dimulai sejak beberapa waktu lalu. Ditargetkan pada akhir Juni pembangunan bisa diselesaikan dan talut bisa berfungsi sesuai dengan semestinya. “Sudah mulai dipasang bis beton untuk dasaran talut,” kata Edy, Senin (17/5/2021).

BACA JUGA : Pantai Baron Batal Ditata Tahun Ini 

Dia menjelaskan, di Pantai Baron sudah ada talut yang dibangun. Namun demikian, kondisinya ada yang rusak karena abarasi air laut. Pemkab pun berupaya mengurangi risiko ini dengan membangun talut setinggi sekitar 3,6 meter.

“Bis beton yang tertanam nantinya akan dicor dan berfungsi sebagai penahan abrasi. Saya kurang hapal, tapi kalau tidak salah anggarannya mencapai Rp2,8 miliar,” ungkapnya.

Ditambahkan Edy, Pantai Baron memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan pantai lainnya di Gunungkidul. Hal ini dikarenakan adanya sungai bawah tanah yang alirannya bisa berubah-ubah setiap waktunya. “Kadang bisa mengalir ke timur, tapi kadang langsung mengalur ke selatan menuju laut,” kataya.

Menurut dia, pada saat alur sungai bawah tanah mengalir ke timur bisa memicu terjadinya abrasi. Selain itu, ancaman abrasi juga dapat dipicu adanya kenaikan tinggi gelombang air laut. “Jadi biar aman dibangun talut baru lagi. Mudah-mudahan pembangunan bisa selesai tepat waktu,” katanya.

BACA JUGA : Danau Kecil Muncul di Pantai Baron, Apa Penyebabnya

Koordinator SAR Satlinmas Wilayah II DIY, Marjono mengatakan, kondisi abrasi di Pantai Baron sudah parah. Hal ini dikarenakan sudah sampai merusak bangunan, baik talut maupun emperan tempat pelelangan ikan. “Sudah ada program pembangunan lagi, tapi hingga sekarang belum selesai,” katanya.

Marjono berharap pembangunan ini bisa cepat selesai dan talut bisa berfungsi untuk mengurangi risiko kerusakan yang diakibatkan oleh abrasi. “Semua bermula dari dampak dari badai cempaka di 2017 lalu, kondisinya memang butuh perbaikan agar ancaman abarasi bisa dikurangi,” katanya.