Memikat Penonton dengan Tetap Mempertahankan Idealisme di Teater Hari Ini

Pemain teater tampil sebelum acara Dialog Sastra Edisi 2 bertema Apa Kabar Naskah Lakon Kita di Gedung Societet, TBY, Jumat (21/5/2021). - Harian Jogja/Sirojul Khafid
22 Mei 2021 07:37 WIB Sirojul Khafid Bantul Share :

Harianjogja.com, JOGJA – Penampilan dari Teater KSP dengan lakon “Ceng” membuka Dialog Teater edisi 2 di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Dengan kain hitam yang merentang di atas panggung, satu pemain teater menunjukan kepalanya di atas kain hitam. Hanya kepalanya saja yang terlihat. Sambil berekspresi, terdengar gumaman tanpa arti dengan iringan kendang.

Setelah satu pemain menghilang, secara bergantian pemain lain menunjukkan kepalanya. Lagi-lagi hanya kepala. Sepanjang pertunjukan, para pemain memang hanya menunjukan kepala, dengan sesekali tangannya membantu peragaan. Cerita lakon “Ceng” terlihat seperti hubungan antar manusia dengan segala hasrat seksualnya.

Pertunjukan selesai dengan iringan tepuk tangan penonton. Di masa pandemi Covid-19 ini, tepuk tangan memang tidak semeriah pada kondisi normal. Penonton yang hadir di Gedung Societet TBY duduk dengan jarak satu kursi kosong. Tidak hanya selama pandemi, ternyata sudah ada keresahan para pemain teater terkait sedikitnya penonton, setidaknya itu yang Briesman HS sampaikan pada sesi diskusi bertema Apa Kabar Naskah Lakon Kita.

Baca juga: Tak Hanya Pemerintahan, Kantor Non-pemerintahan di Sleman Kumandangkan Indonesia Raya Setiap Hari

Menurut Briesman, banyak pelaku teater di Indonesia, baik itu bagian Barat, Tengah atau Timur Indonesia yang mengeluhkan antusias penonton. Sekalipun ada penonton, seringnya berasal dari internal atau orang dekat pemain teater, entah itu keluarga, teman, atau sesama komunitas.

Sementara teater merupakan bisnis pertunjukan. “Mau tidak mau, pegiat teater perlu tahu siapa calon penonton, ini yang jarang kita (pegiat teater) perhatikan. Ini penting dan pokok, teater kalau tidak ada yang nonton itu bukan teater, tapi baru latihan,” kata Briesman yang merupakan pegiat teater dan sutradara, Jumat (21/5/2021).

Briesman mengatakan penting untuk meriset yang penonton mau lihat. Apabila hanya berkutat pada internal, termasuk ide, alur cerita, dan sebagainya, bukan tidak mungkin penonton enggan datang. Bagus menurut internal komunitas teater belum tentu bagus menurut penonton. Pada ranah yang lebih besar, ketidakminatan atau ketidakjelasan target penonton membuat sponsor susah untuk tertarik.

Baca juga: Peringati 23 Tahun Reformasi, Masyarakat Sipil di Jogja Soroti Pemberangusan KPK

“Butuh riset tentang penonton sebelum tentukan tema [pertunjukan teater]. Apa yang dimaui penonton. Selama ini baru riset terkait materi, untuk riset penonton belum pernah,” kata Briesman. “[Setelah riset penonton] proses persiapan materi dan latihannya berdasarkan idelisme kelompok itu. Sehingga yang dimaui penonton juga terpenuhi.”

Setelah riset penonton mendapatkan hasil, proses penting berikutnya yaitu penulisan naskah. Menurut Kaprodi Sendratasik Institut Seni Indonesia, Jogja, Nur Iswantara, teater di Indonesia tidak lepas dari tradisi lingkungannya. Setiap karya seni apapun memiliki pesan dari penulis yang sesuai dengan zamannya. Namun hal-hal tersebut belum tentu penonton sukai atau inginkan. “Apabila berbicara hal yang diingini oleh masyarakat, mungkin akan beda,” kata Iswantara.

Meskipun penulis naskah teater merupakan bagian yang penting, namun kondisi penulis naskah itu sendiri masih sering tertindas. Menurut peneliti teater, Ikun Sri Kuncoro, banyak penulis naskah yang tidak bisa mengekspresikan sesuatu yang ingin dia tulis. Banyak penulis naskah yang hanya mendapat pesanan dari komunitas atau sutradaranya.

“Sehingga dia tidak punya ruang ekspresi tersendiri yang dia hayati, tekuni dan perjuangkan,” kata Ikun yang juga akademisi dan penulis ini. “Situasi ini terus berlangsung, mungkin sejak awal Indonesia mengenal teater.”

Hal ini menjadi sulit karena pertunjukan teater merupakan kolaborasi dari berbagai pihak, setidaknya penulis naskah, sutradara dan produser. Sangat jarang orang memiliki tiga kemampuan ini, agar karyanya benar-benar sesuai keinginannya. Sehingga tidak hanya menulis, tapi orang tersebut juga menyutradarai dan mengorganisir pertunjukan.

Salah satu cara yang bisa dicoba, agar penulis naskah tidak tertindas dengan membuat sebuah wadah sesama penulis. Dengan adanya wadah ini, setidaknya bisa saling berbagi dan saling menguatkan daya tawar.