Belum Pernah Dibangun, Jalan Kampung Ngajaran Bantul Dapat Program Padat Karya

27 Mei 2021 05:47 WIB Catur Dwi Janati Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Program padat karya dari Disnakertrans Bantul kembali bergulir di 2021. Padat karya menjadi stimulus perekonomian warga di tengah pandemi.

Salah satu lokasi sasaran program padat karya terdapat di Padukuhan Ngajaran, Sidomulyo, Bambanglipuro. Dukuh Ngajaran, Murjiya menuturkan bila program padat karya dari Disnakertrans Bantul akan diimplementasikan di jalan kampung sepanjang 500 meter. 

"Untuk jalan RT 5 dialokasikan 350 meter dan jalan di RT 6 sepanjang 150 meter," tuturnya, Senin (24/5/2021).

Pembangunan jalan kampung di RT 5 menurut Murjiya sangat mendesak. Pasalnya jalan yang menjadi penghubung warga antar RT dan desa tetangga belum pernah dicor sekalipun. Padahal jalan setapak ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu.

"Sini kan daerah pegunungan, kalau enggak dicor kan jalannya cuma bebatuan, licin. Sudah beberapa warga pernah tergelincir atau terpeleset di jalan ini," ungkapnya.

Adanya program padat karya dalam pembangunan jalan vital kampung ini disambut Murjiya dan warga lainnya dengan gembira.

Mayoritas warga yang bekerja sebagai buruh membuat warga kesulitan membangun jalan 350 meter secara swadaya. "Jadi yang di RT 5 total panjang jalannya 400 meter. Dari disnakertrans 350 meter, nanti sisanya 50 meter swadaya dari warga," tambahnya.

"Warga sangat antusias dengan program padat karya. Karena warga di Ngajaran ini kalau mau iuran enggak bisa. Jadi mengharapkan bantuan dari pemerintah. Sangat senang akhirnya dapat padat karya," tuturnya.

Jalan kampung tersebut bakal digarap 52 orang warga Ngajaran. 

Murjiya mengatakan program padat karya membuat warga mendapat manfaat secara fisik dari pembangunan jalan serta manfaat dari segi ekonomi dengan dipekerjakannya warga dalam proses pembangunan.

Sekretaris Disnakertrans Bantul, Istirul Widilastuti menerangkan masing-masing lokasi padat karya mendapatkan anggaran Rp160 juta yang akan digunakan dalam berbagai peruntukan. Pertama anggaran tersebut untuk upah perangsang kerja sebanyak Rp68 juta. Selanjutnya untuk pembelian bahan-bahan material sekitar Rp72 juta. Sisanya Rp20 juta untuk kegiatan lain pendukung program padat karya.

Program padat karya dapat merangsang perekonomian warga di tingkat bawah khususnya yang terdampak pandemi. Para warga yang terlibat dalam padat karya akan menerima upah dengan rincian untuk tenaga kerja Rp70.000 per hari, tukang Rp80.000 per hari dan ketua kelompok Rp90.000 per hari.

Agar pembangunan tetap memenuhi standar dan satu visi dengan desain, tukang akan mendapatkan bimbingan teknologi.

"Harapan kami, program padat karya ini bisa menggerakkan ekonomi masyarakat. Karena selama ini menggarap proyek padat karya para penggarap [warga] akan mendapatkan honor," ungkapnya.