Keren...Mahasiswa UNY Rancang Alat Deteksi Lahar Banjir Berbasis IoT

Gedung Rektorat Universitas Negeri Yogyakarta - Instagram @universitasnegeriyogyakarta
27 Mei 2021 19:57 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Adanya potensi bahaya pasca erupsi gunung berapi yaitu banjir lahar dingin yang mengancam masyarakat sekitar menjadi inspirasi sejumlah mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) untuk mengembangkan sistem peringatan dini banjir lahar dingin berbasis Internet of Things (IoT).

Alat tersebut dirancang oleh tiga mahasiswa UNY, yaitu Riza Atika, Anung Endra Raditya, dan Rohsan Nur Marjianto. Mereka adalah mahasiswa Prodi Pendidikan Teknik Mekatronika Fakultas Teknik UNY.

Sistem deteksi dini yang dirancang tersebut diintegrasikan dengan pengeras suara tempat ibadah setempat, sehingga masyarakat yang berpotensi terdampak dapat memperoleh informasi bahaya sesegera mungkin. Dengan begitu, masyarakat bisa segera dievakuasi ke tempat yang aman dan meminimalisir korban jiwa.

Salah satu anggota tim, Riza, menerangkan keunggulan alat ini yaitu menggunakan sensor mekanik pelampung yang lebih tahan lama dibanding sensor ultrasonik pada alat yang sudah ada sebelumnya. Dengan memanfaatkan pengeras suara tempat ibadah, sistem deteksi lahar banjir ini juga memungkinkan penyampaian informasi lebih cepat dan efisien. Alat ini juga terhitung murah karena menggunakan pengeras suara tempat ibadah sehingga bisa terjangkau bagi masyarakat.

BACA JUGA: Rizieq Shihab Dihukum 8 Bulan Penjara di Kasus Kerumunan Petamburan

"Dengan berbasiskan Internet of Things maka alat peringatan dini banjir lahar dingin ini akan terhubung dengan mudah ke perangkat ponsel maupun komputer melalui jaringan internet yang akan menciptakan interkoneksi data," terang Riza pada Kamis (27/5/2021).

Alat ini dilengkapi dengan panel surya sebagai sumber daya utamanya. Hal itu menjadikan alat deteksi lahar dingin ini lebih ramah lingkungan sekaligus membuat alat ini dapat dipasang di titik-titik yang tidak terjangkau oleh jaringan listrik PLN.

Anggota tim lain, Rohsan, menjelaskan alat tersebut yang memiliki dua sisi alat, yaitu sisi yang bertindak sebagai client untuk mengambil data dan sisi server untuk menyampaikan hasil olahan data menjadi informasi potensi banjir lahar dingin.

"Sisi client akan dipasang di beberapa titik sepanjang sungai untuk memastikan pasang surut air sungai sekitar gunung berapi dengan memanfaatkan sling baja yang disambungkan pada rotary encoder," terangnya.

Jika terjadi pergeseran tanah, rotary encoder otomatis berputar dan mendeteksi pergeseran tanah hingga ketelitian satu sentimeter. Sementara, sensor mekanik pelampung berfungsi untuk mendeteksi nilai perubahan ketinggian air di sungai.

"Jika terdeteksi adanya longsoran dan ketinggian di atas ambang batas yang ditentukan, maka akan memicu sisi client untuk mengirimkan pesan melalui modul GSM ke sisi server. Server akan mengkolaborasikan data dari client dengan data prakiraan cuaca dari BMKG yang bisa diakses secara umum," imbuhnya.