Satgas Mikro Akui Sulit Kendalikan Masyarakat

Petugas melakukan pengukuran suhu tubuh kepada warga yang akan melakukan pencoblosan Pilkada Sleman di TPS 04 Pedukuhan Paten, Tridadi, Sleman, Rabu (9/12/2020). - Harian Jogja/Gigih M Hanafi
12 Juni 2021 08:07 WIB Yosef Leon Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Satgas Covid-19 di tingkat mikro mengaku kesulitan mengendalikan masyarakat untuk bersinergi dalam penanggulangan Covid-19. Derasnya arus informasi di sosial media disebut menjadi menjadi salah satu penyebab masyarakat kurang paham dalam penanggulangan Covid-19 hingga menyulitkan Satgas Penanganan Covid-19 di tingkat mikro.

Kepala Kampung Sayidan, Kemantren Gondomanan, Imawan Wibisana mengungkapkan, saat ini di wilayah setempat secara struktur memang belum terbentuk Satgas Penanganan Covid-19. Namun, ia mengaku bahwa peran itu diemban oleh Kampung Tangguh Bencana (KTB) yang juga sudah dibentuk di wilayah itu.

"Secara resmi memang belum terbentuk [Satgas Penanganan Covid-19]. Tapi karena kami juga ada KTB dan nantinya pengurus Satgas Covid-19 itu-itu juga orangnya, makanya diambil alih oleh pengurus KTB saja," kata dia, Jumat (11/6/2021).

Dia menjelaskan, secara teknis penanganan pihaknya tidak menemukan kendala yang signifikan ketika di lapangan. Sebab, sebagian besar pengurus KTB merupakan relawan yang kerap aktif dalam penanganan Covid-19. Hanya saja, perbedaan persepsi di tengah warga kadang kala menyulitkan pengurus saat menemukan pasien Covid-19.

Baca juga: 20 Lokasi dan Bangunan di Bantul Dikaji sebelum Ditetapkan sebagai Cagar Budaya

"Sekarang kan semua sudah punya gawai sendiri jadi bisa mengakses informasi, jadi persepsinya bisa berbeda-beda, itu kadang cukup merepotkan," imbuhnya.

Dia mencontohkan saat terdapat pasien terkonfirmasi Covid-19 di wilayah itu beberapa waktu lalu. Sesuai aturan warga itu mesti isolasi mandiri dan mendapat pasokan makanan sewaktu isolasi. Namun, ada sebagian warga yang tidak setuju dengan hal itu. Menurutnya warga menyebut bahwa mendatangi lokasi warga yang terkonfirmasi Covid-19 sangat rentan.

"Padahal kalau protokolnya diikuti kan juga tidak terlalu bahaya. Nah hal-hal semacam itu yang kadang ditemukan di lapangan," imbuhnya.

Sementara, Kepala Kampung Demangan, Prayogo Sunaryo mengatakan, di tempatnya Satgas Penanganan Covid-19 tingkat kampung juga belum terbentuk secara resmi. Namun, penanganan dan penanggulangan Covid-19 telah diampu oleh Satgas di tingkat RT, RW dan juga kelurahan.

"Tetapi karena melihat perkembangan situasi dan kondisi wilayah, kita sudah sejak awal pandemi menyikapi dampak Covid-19 di kampung bersama perangkat kampung Demangan yang terdiri dari 5 RW dan 17 RT," katanya.

Dalam penanganan Covid-19, ia juga tidak menemui kendala. Bagi dia yang terpenting adalah selalu koordinasi dan komunikasi, saling mengingatkan terkait dengan pelaksanaan 5M dan tidak segan menegur warga yang tidak taat prokes.

"Untuk bantuan kebutuhan pangan selama isolasi mandiri dari dinas sosial kita koordinasi dengan kelurahan. Selain itu, bantuan dari swadana masyarakat setempat juga ada. Alat penyemprotan dan desinfektan dari BPBD, tenaga dari warga setempat dan pengobatan atau vitamin dari Puskesmas, jadi semuanya lengkap," pungkasnya.