Balai Besar POM di Yogyakarta Raih 3 Penghargaan dalam Word Safety Day

Kepala Balai Besar POM di Yogyakarta, Dewi Prawitasari. - Harian Jogja/Yosef Leon
28 Juni 2021 15:57 WIB Yosef Leon Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Balai Besar POM di Yogyakarta menyabet sejumlah penghargaan dalam acara Word Safety Day yang diselenggarakan di Jakarta pada Selasa, 22 Juni 2021 lalu. Total tiga juara dikantongi oleh Balai Besar POM di Yogyakarta yakni juara 1 Lomba Desa Pangan Aman (Kalurahan Panggungharjo, Sewon, Bantul); juara 2 Lomba Pasar Pangan Aman Berbasis Komunitas (Pasar Gentan, Sleman) dan, juara 2 Lomba Video Tik Tok Pangan Aman Menuju Generasi Sehat dan Cerdas (Salma Nur Azizah, SMAN 1 Kalasan Sleman).

Kepala Balai Besar POM di Yogyakarta, Dewi Prawitasari mengatakan, secara singkat Desa Pangan Aman yang diraih oleh Kalurahan Panggungharjo, Sewon, Bantul merupakan bentuk program ketahanan pangan yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat. Peran Balai Besar POM di Yogyakarta dalam membentuk Desa Pangan Aman ini lebih kepada program dan juga pengawasan. "Pembiayaan dari mereka sendiri dan mereka mengembangkan program itu dengan banyak inovasi, sehingga bisa meraih juara nasional," katanya, Senin (28/6/2021).

Dewi menjelaskan ada sejumlah keunggulan dari Kalurahan Panggungharjo, Sewon yang ditetapkan sebagai Desa Aman Pangan. Satu di antaranya yakni mereka mampu menghasilkan berbagai macam produk kebutuhan pangan sehari-hari dan juga produk turunannya berupa pangan olahan. Sistem produksi pangan dari hulu ke hilir diciptakan dengan berbasiskan pada dari masyarakat dan untuk masyarakat.

"Desa berupaya mengajak masyarakat untuk berpenghasilan lewat menanam. Misal bertani dan juga mengolah peternakan skala kecil," ungkapnya.

Baca juga: Siswa SMA 3 Yogyakarta Sukses Pentaskan Teater di Masa Pandemi

Selain itu, Balai Besar POM di Yogyakarta juga mendorong serta membina desa tersebut untuk menciptakan produk industri rumah tangga yang bisa terdaftar atau memiliki izin edar di Balai Besar POM dan mendapat sertifikat PIRT dari Kabupaten setempat. Hal ini menjadi salah satu penilaian yang cukup tinggi karena dengan jumlah unit usaha yang memiliki izin edar di Balai Besar POM akan membuktikan bahwa unit usaha tersebut telah laik dan mumpuni dalam bidang itu.

"Satu lagi kelebihannya yakni dengan adanya rumah produksi komunitas yang berperan dalam memproduksi salah satu produk berupa ikan lele mulai dari pembibitan, panen, hingga pemanfaatannya menjadi produk olahan," imbuhnya.

Sementara untuk Pasar Gentan, Sleman yang ditetapkan sebagai juara 2 Pasar Pangan Aman Berbasis Komunitas juga mempunyai sejumlah keunggulan. Pertama, sesuai dengan lomba yang diikutinya, pasar ini merupakan pasar yang bebas dari penyalahgunaan bahan berbahaya. Selain itu, Pasar Gentan juga mempunyai sejumlah keunggulan dari pangan yang dijual yakni bebas dari bahan-bahan yang berbahaya.

Baca juga: Bersiap PTM Terbatas? Sekolah Perlu Lakukan Ini agar Aman dari Covid

"Misalnya tahu, itu tidak mengandung formalin. Kemudian kerupuk atau bakso itu tidak mengandung bleng (bahan kimia mirip boraks), pangan yang berwarna-warni juga tidak ada yang menggunakan pewarna kapas," ujarnya.

Di sisi lain, pasar itu juga banyak menggandeng pihak lain berupa kampus, organisasi masyarakat dan instansi lain dalam menunjang kemajuan pasar. "Pasar ini juga memiliki fasilitator keamanan pangan yang rutin mengecek dengan menggunakan alat. Pengawasan produk itu rutin dilakukan," ungkapnya.

Program Inovasi

Edukasi terkait dengan keamanan pangan dan produk menjadi fokus dan upaya Balai Besar POM di Yogyakarta untuk menyadarkan masyarakat soal pentingnya keamanan pangan. Untuk itu, baru-baru ini Balai Besar POM di Yogyakarta membuat suatu program yakni inovasi Aksi Gendarku Bebas Boraks (GeBer). Langkah ini dilakukan dengan cara membentuk 1.000 Duta Gendarku Bebas Boraks dengan melakukan pemberdayaan masyarakat Se-DIY.

Program ini bertujuan untuk mewujudkan pangan tradisional yang aman khususnya di Provinsi DIY, BBPOM melakukan edukasi secara masif dalam kegiatan ini. Sebab, Dewi mengungkapkan bahwa masih terdapat masyarakat di DIY, yang menambahkan bleng atau boraks dalam adonan produk gendar (kerupuk / lempeng gendar & gendar / puli), karena bleng membuat gendar lebih kenyal dan mudah diiris.

"Kurangnya pengetahuan masyarakat terkait bahaya bleng atau boraks pada produk gendar terhadap kesehatan itu sudah menjadi kebiasaan turun temurun. Sehingga harapan kami, prpgram ini bisa menurunkan penggunaan bleng pada produk gendar yang pada akhirnya akan menurunkan risiko kesehatan di masyarakat," pungkas dia.